Ngopi Sore

Pribumi, Mendengarkan Lagu Panbers, ke Samosir

Tulisan 'Pribumi' berukuran besar dipampangkan di bagian depan, sedangkan di samping...

Pribumi, Mendengarkan Lagu Panbers, ke Samosir
stalkture.com
Bus Samosir Pribumi 

Bung...
Apa kabar Anda? Semoga baik-baik saja, ya. Tadi dalam perjalanan ke kantor saya mendengar lagu Panbers dan saya seketika teringat kepada Anda. Judul lagunya Indonesia My Lovely Country. Sebagai fans Panbers garis keras, saya sungguh-sungguh percaya, Anda tahu lagu itu. Bahkan sangat boleh jadi hapal dan bisa menyanyikannya.

Indonesia my lovely country
Indonesia is my love

Saya bukan penggemar Panbers atawa Panjaitan Bersaudara, walau hapal dan bisa menyanyikan beberapa lagu mereka. Lagu-lagu yang relatif lebih populer dan biasa dinyanyikan di kedai-kedai kopi (dan pastinya kedai tuak). Misalnya, Cinta dan Permata, Terlambat Sudah, serta tentu saja, Gereja Tua.

Ketiga lagu ini melekat kuat di ingatan saya bukan cuma karena merupakan lagu yang telah menjadi abadi di kedai kopi (dan pastinya kedai tuak), melainkan juga karena lagu-lagu yang sama adalah pilihan yang selalu ada dalam daftar lagu sopir-sopir bus antar kota di Sumatera Utara.

Tunjuklah sembarang sopir. Lalu periksa daftar lagunya. Mungkin di sana ada lagu-lagu dangdut atau lagu daerah. Mungkin juga ada lagu-lagu barat dan lagu pop Indonesia, baik lagu lawas maupun yang "kekinian". Namun di antara semuanya pasti ada Cinta dan Permata, Terlambat Sudah, dan Gereja Tua, entah satu di antaranya atau ketiganya sekaligus.

Lagu-lagu Panbers umumnya berlirik sederhana dengan komposisi musik yang juga sederhana sehingga memang nyaman sekali di telinga. Saking nyamannya, dapat menyebabkan efek samping, yakni mengantuk. Para sopir barangkali telah melatih diri untuk tidak ikut-ikutan mengantuk. Namun bagi penumpang, sulit sekali untuk melawan efek samping ini.

PANBERS
PANBERS (irama nusantara)

Anda ingat ketika kita dan sejumlah kawan, beberapa waktu lalu, memotret ke Samosir? Dari Medan kita naik Sampri. Saya jarang naik bus kalau pergi ke Samosir atau ke Danau Toba, dan karenanya, sesampainya di pool bus tersebut, untuk pertama kalinya saya tahu bahwa Sampri merupakan akronim dari Samosir Pribumi.

Warna busnya khas. Hijau lumut. Tulisan 'Pribumi' berukuran besar dipampangkan di bagian depan, sedangkan di tubuh bus, sisi kanan dan kiri, ditulis lengkap, 'Samosir Pribumi'. Namun oleh para pelanggannya, bus dengan tujuan akhir terminal di Pangururan, ini hanya disebut dengan 'Sampri' atau 'Pribumi' saja.

Sopir bus ini, jika Anda ingat, cekatan sekali, Bung. Dalam kecepatan tinggi dia bisa membawa kendaraan berukuran besar itu meliuk-liuk lincah di antara seliweran kendaraan-kendaraan yang nyaris tak pernah sepi di jalur jalan lintas Sumatera yang tak mulus. Dia sopir yang sangat hebat. Sungguh, apabila punya kesempatan, atau koneksi dengan Bernie Ecclestone, saya percaya dia bisa jadi pembalap di lintasan Formula One dan bersaing dengan Michael Schumaccer.

Bagaimana tidak. Bus produksi awal tahun 1990-an dan berderit-derit badannya saat dibawa bermanuver itu saja bisa dilesatkannya dengan kecepatan luar biasa, apalagi jet darat bikinan Ferrari, Mercedes, atau Renault. Jika dia ada di Formula One waktu itu, mungkin saja, sekarang dia yang jadi bintang. Bukan Lewis Hamilton orang Inggris itu.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

TRIBUNnews.com Network © 2018
About Us
Help