Tangan Kompol Dodi Sulit Disambung
Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Jakarta Timur
* Istri Berkali-kali Pingsan
* Bom Paket Buku Meledak Saat Dijinakkan
TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Kepala Satuan Reserse Kriminal (Kasat Reskrim) Polres Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan mengalami luka parah.
Ia menjalani tindakan medis intensif di Instalansi Gawat Darurat (IGD) RS Cipto Mangunkusumo, Jakarta akibat luka yang menyebabkan tangan kirinya putus, mulai dari pergelangan. Ketua Departemen Keuangan DPP Partai Demokrat Ikhsan Modjo, yang menjenguk Dodi di RSCM, memperoleh informasi kemungkinan besar, tangan Dodi tak dapat kembali seperti sedia kala. "Tangannya tidak bisa disambung lagi," ujarnya di RSCM, Selasa (15/3).
Tangan Dodi kemungkinan besar harus diamputasi. Hingga semalam, Dodi masih diisolasi. Perwira menengah Polri itu tak bisa ditemui oleh siapapun. Selain tak bisa menemui langsung Dodi, Ichsan yang datang bersama dengan Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan DPP Partai Demokrat Ulil Abshar Abdullah ini, juga tak bisa menemui istri Dodi. "Dia masih syok. Sehingga harus dirawat di ICU," tuturnya.
Kta Ichsan, istri Dodi berkali-kali pingsan menerima kenyataan suaminya terkena bencana. "Jadi mereka berdua nggak bisa ditemui. Tapi kami sempat bertemu dengan keluarga, menyampaikan bela sungkawa dan juga menyampaikan bantuan ala kadarnya dari partai Demokrat," katanya.
Bom buku yang ditujukan kepada aktivis Jaringan Islam Liberal (JIL) Ulil Abshar Abdalla itu meledak dan melukai Kompol Dodi dan dua orang lainnya yakni Anggota Polsek Matraman Bripka Bara dan petugas pengamanan KBR 68H, Mulyana. Bom bemula dari paket diterima Anisa alias Icha, resepsionis Kantor Berita Radio 68H, yang diantar kurir.
Paket ditujukan kepada Ulil. Paket berisi buku berjudul, Mereka Harus Dibunuh karena Dosa-Dosa Mereka terhadap Islam dan Kaum Muslimin. Dalam amplop tercantum pengirim bernama Drs Sulaiman Azhar LC, warga Jalan Bahagua Gang Panser No 29, Ciomas, Bogor. Tercantum juga nomor telepon seluler 0813 3222 0579
Paket berupa buku novel itu itu dibungkus di dalam boks sampai ke tangan Saidiman Achmad, juru bicara KBR 68 H, pukul 13.30 WIB. "Kayaknya kurir yang mengirim dan sampai di tangan saya sekitar pukul setengah dua dari resepsionis Komunitas Utan Kayu. Karena mencurigakan saya bawa keluar dan menghubungi polisi," ujar Saidiman.
Ketika dibuka paket itu terlihat ada kabel, ada jam, dan ada telepon genggam. Sesaat kemudian polisi dipanggil untuk melihat paket tersebut. Paket tersebut, kata Saidiman, paket itu tebalnya seperti buku berjumlah 400-an halaman. "Setelah saya intip ternyata bukan buku, makanya telepon polisi." Saat buku hendak dibuka terasa sulit karena dilem. Setelah dicek, ada benda mencurigakan seperti di tengah buku ada lubang, ada jam, telepon genggam, kabel, serta baterai.
Polisi dari Polres Jakarta Timur yang dipimpin Kompol Dodi Rahmawan tiba di Utan Kayu. Polisi mengecek menggunakan pemindai logam (metal detector). Ternyata berbunyi, diduga ada besinya. Kemudian benda tersebut dipindahkan ke pendopo yang sekaligus kantin diletakkan di atas keset, di atas lantai paving block.
Kompol Dodi beserta personel lainnya, dengan bantuan ala kadarnya, pisau dapur, dan cutter mencoba membuka paket dan lembaran-lembaran buku yang dilem. Tanpa pelindung seperti biasa digunakan Gegana Penjinak Bahan Peledak Brimob, dia terus mengutak-atik buku yang sebelumnya disirami air. Kompol Dodi mengutak-atik benda itu dengan panduan seorang rekannya melalui telepon genggam.
Ketika buku bersampul dominan warna merah marun itu dibuka, di bagian tengah ternyata sudah dilubangi, kecuali sampul dan beberapa lembar di dalam.
Dan nahas tiba, Dodi mengangkat benda mencurigakan dengan tangan kiri langsung tanpa sarung tangan. Dan saat meledak, tangannya terluka, terputus persis di pergelangan.
Alhamdullillah Selamat
Ulil merasa prihatin atas teror bom di kompleks Teater Utan Kayu 68 H, Jl Utan Kayu 68 H, Matraman, Jakarta Timur, Selasa (15/3) pukul 16.05 WIB. Bom yang dikemas dalam paket buku ditujukan kepada Ulil mantan koordinator JIL yang semula berkantor di alamat serupa. Walau prihatin, ia bersyukur selamat dari target bom.
"Perasaan saya, alhamdulilllah saya selamat, terbebas dari ledakan bom itu," ujar Ulil saat dihubungi Tribunnews, tadi malam. Ulil sudah lima tahun tidak mengikuti aktivitas JIL. Hal itu sejak dia menuntut pendidikan ke Amerika Serikat. Saat kejadian, pria kelahiran Pati, Jawa Tengah, 11 Januari 1967, ini pun tidak berada di lokasi. "Hari itu saya sedang di luar kantor," katanya.
Ketika Kepala Satuan Reserse dan Kriminal (Kasatreskrim) Jakarta Timur Kompol Dodi Rahmawan beserta tim berusaha menjinakkan bom yang ditaruh di tengah buku tebal tersebut, sampai bom meledak, Ulil tidak tahu sama sekali.
"Saya dikabari teman wartawan, ada paket bom yang ditujukan ke saya," ujar Ulil yang bergabung ke Partai Demokrat sejak 2009, dan langsung menjabat Ketua Pusat Pengembangan Strategi dan Kebijakan. Setelah mengetahui adanya teror yang tertuju padanya, Ulil segera mengontak keluarga di rumah. Dia memberitahukan agar istri dan anak-anak mereka tidak panik.
Ulil mengakui dia tidak pernah menaruh curiga akan menjadi target teror. Karena itu, firasat maupun gelagat biasa-biasa saja. "Tidak ada sama sekali, tidak ada firasat. Oke-oke saja tidak ada gelagat apa-apa. Istri juga oke-oke saja," kata Ulil putra Abdullah Rifa'i pengasuh pesantren Mansajul Ulum, Pati, dan menantu dari Mustofa Bisri, kyai dari pesantren Raudlatul Talibin, Rembang.
Ulil menyaksikan Kompol Dodi dan kawan-kawan berusaha menjinakkan bom melalui tayangan televisi. "Saya sempat menonton di TV, prihatin saya, ada jatuh korban. Saya berharap teror seperti ini tidak boleh dibiarkan, pemerintah harus mengungkap. Semoga kejadian semacam ini tidak terjadi lagi, sebab menurut saya ini salah satu teror terhadap tahapapan dalam kehidupan berbangsa di negara kita," kata Ulil.
Dia menduga, ada banyak kemungkinan motif di balik teror tersebut, antara lain bisa terkait upaya dia mengadvokasi kebebasaran beragama, dan mungkin juga terkait aktivitas politik dia di Partai Demokrat. Ulil memang belakangan bersuara lantang mengenai politik. Salah satu, dia mendesak agar Partai Golkar mundur dari Sekretariat Gabungan Koalisi 9 partai pendukung pemerintah termasuk Partai Demokrat. Konsekuensinya adalah, presiden harus mereshuffle dan menggeser menteri dari Golkar.
Ulil menduga, teror muncul sejak dia mulai bersuara dalam isu-isu sensitif. "Misalnya reshuffle," jelas Ulil. Walau demikian, dia merasa tak punya musuh. Dugaan awal, kata Ulil, apa yang ia suarakan selama ini terkait reshuffle kabinet, di balik paket kiriman untuknya yang ternyata, sebuah paket bom.
"Saya sudah tidak lagi aktif di JIL. Jadi, mungkin tidak ada kaitannya dengan itu (teror bom). Saya tak punya musuh, dan teman saya banyak," kata Ulil. Dan andai berkait dengan JIL, mengapa teror tidak dulu. Bukan hanya Ulil. Pada hari yang sama, Kepala Badan Narkotika Nasional Komjen Gories Merre juga dikirimi paket bom, mirip dengan paket bom berupa buku yang ditujukan Ulil.
Paket bom itu, menurut laporan, langsung diledakkan Polri di kantor Badan Narkotika Nasional, kawasan Cawang, Jakarta Timur. Dijelaskan, setelah diledakkan, kemudian lokasi disterilkan. Benda yang diduga bom ini kemudian langsung dibawa tim gegana untuk penyelidikan lebih lanjut. Waktu pengirimannya tidak berbeda jauh. Sekitar pukul 10. 00 WIB, pagi.(tribunnews/rek/amb/yat/yog/iwa/coz/adi/roy)