Diskusi Rutin Harian Tribun Medan
Kunci Sukses Itu Pemain Lokal
Diskusi Tribun Bersama Pro Duta
TRIBUN-MEDAN.com, MEDAN - Wajah Slamet Riadi tiba-tiba mengeras. Asisten Pelatih Pro Duta itu mengenang masa-masa ketika menjadi pemain dan menggapai level prestasi tinggi di kancah sepakbola nasional. Ada kegeraman yang mengelindan di balik rasa bangga.
BANGGA karena dari pencapaian itulah (dua kali menembus semifinal Liga Indonesia bersama PSMS Medan-liga indonesia musim ke V dan VII) ia bisa mengenakan seragam tim nasional Indonesia. Geram akibat filosofi bermain, juga soliditas, sekarang sudah tak ada lagi di tubuh almamater-nya itu.
"Saya sudah tidak di PSMS lagi. Saya sekarang di Pro Duta dan saya profesional bekerja untuk tim ini. Tapi apa yang pernah saya dapat dari sana (PSMS), tak akan saya lupa. Itu akan coba saya terapkan di sini," kata Slamet dalam diskusi rutin Tribun di kantor redaksi, Jl Gatot Subroto No 449 D-G, Medan, Jumat (20/10).
Pelajaran yang diperoleh Slamet adalah pemaksimalan penggunaan pemain lokal. Yakni pemain asal Sumatera Utara, Medan khususnya. Menurut Slamet, ini yang menjadi sukses PSMS selama empat musim beruntun di Liga Indonesia (mulai Liga Indonesia IV hingga VII) -yang kemudian dilanjutkan dengan keberhasilan di Liga musim ke XII dan XIII.
"Fanatisme, itu kata pokoknya. Pemain benar-benar merasa memiliki klub. Mereka rela berbuat apa saja untuk meraih kemenangan. Rela berdarah-darah. Pernah satu kali waktu kami main lawan Persija dan mereka kalah, kami dikepung The Jak Mania. Kami tidak takut. Semua siap perang. Senang sama- sama, mati sama-sama," ujarnya.
Menurut Slamet, ia bukan mengecilkan arti profesionalisme. Di kompetisi yang sudah maju seperti Inggris atau Spanyol, mungkin kecenderungan ini tak berlaku.
"Tapi di Indonesia masih belum berubah. Saya sendiri pernah mengalaminya. Waktu main untuk tim di luar PSMS, di luar Medan, saya seperti orang kantoran saja. Main sekadar sebagai pekerjaan, bukan dengan jiwa sepenuhnya. Tidak hanya PSMS lah. Persebaya, Persib Bandung, juga Persipura Jayapura, juga berhasil ketika mereka dominan memakai pemain lokal," kata Slamet.
Konsep inilah yang sekarang diterapkan di Pro Duta. Lebih dari 90 persen materi pemain merupakan putra asli Sumut. Bahkan bertolak dari kebijakan untuk menggunakan Stadion Baharoeddin Siregar sebagai home ground, di tubuh Pro Duta terdapat setidaknya lima pemain yang terkait erat dengan Deliserdang, baik yang berdomisili di sana maupun yang pernah memperkuat PSDS.
"Kita ada Suyatno, Oki, Rifki Firdaus, dan Faisal Azmi yang tidak asing bagi publik sepakbola Deliserdang. Bahkan asisten pelatih kita, Ansyari Lubis, adalah satu legenda PSDS," kata Manajemen Tim Pro Duta, Rudi Sihombing, yang juga hadir dalam diskusi.
Keberadaan pemain-pemain itu diharapkan dapat menjadi magnet bagi penonton untuk datang ke stadion. Pro Duta memang memindahkan home ground mereka. Musim lalu, tatkala masih bertanding dengan nama Pro Titan, home ground klub ini adalah Stadion Teladan, "berbagi tempat" dengan PSMS.
"Di Lubukpakam, peluang kita untuk mendapatkan dukungan lebih besar ketimbang di Teladan. Kita sudah buktikan ini. Musim lalu, saat Medan Chief yang bermain di LPI menjadikan Stadion Baharoeddin Siregar sebagai home ground, kita bisa jaring cukup banyak penonton reguler," ujar Rudi menambahkan.
Lantas apa target Pro Duta? Apakah mereka yakin dapat lolos ke level satu musim depan? "Kalau saya ditanya, ya, jelas harus yakin. Sebagai bagian dari tim pelatih, tentu tak lucu kalau kami menargetkan sekadar bertahan. Tapi ini bukan target yang mengawang-awang. Dibanding kontestan-kontestan lain, persiapan kami sudah selangkah lebih maju. Bahkan sesungguhnya, kami merasa cukup pantas untuk bersaing di IPL," kata Slamet.(yns)