Menimba Pengalaman dari Atlet Trio Macan
Para pesepeda yang sudah berorientasi pada prestasi, ada baiknya menyimak ilmu dan pengalaman yang dimiliki dan telah diterapkan
KY: Kalau saya pribadi sehari menjelang balapan memang harus istirahat, tapi latihan di roller atau sepeda statis tetap dilakukan. Tapi kalau Dadi Nurcahyadi tidak. Sehari menjalang balapan, dia tetap harus latihan bersepeda agar pada saat balapan bisa mencapai puncaknya.
Stang sepeda (handle bar) yang ideal ukurannya berapa, agar bisa lincah saat digunakan di arena balap XC?
Dadi Nurcahyadi (DN): Stang sepeda yang biasa dipakai dalam balapan umumnya jenis stang flat bar (datar). Lebarnya harus disesuaikan dengan lebar bahu setiap pebalap. Kalaupun mau memakai flat bar yang pendek sebaiknya memakai ukuran 58 centimeter.
Dengan begitu, kita akan memakai sepeda secara agresif tetapi tangan tidak sampai kesemutan jika melewati turunan berbatu (makadam). Stang sepeda sebaiknya juga dilangkapi dengan bar end (tanduk yang dipakai di kiri kanan stang).
Itu berguna saat kita melakukan recovery saat balapan, dan bermanfaat saat pebalap harus melaklukan standing pedaling (bersepeda sambil berdiri di tanjakan). Tapi saya melihat para pebalap XC di Jepang umumnya menggunakan stang sepeda yang lebar-lebar. Padahal, itu tidak terlalu efektif pada saat balapan.
Apakah berbahaya jika seorang atlet memacu kemampuan melebihi detak jantung maksimumnya (heart rate maximum)?
Oki Respati (OR): Saya melatih semua atlet untuk bisa melampaui jetak jantung maksimum mereka masing-masing agar bisa mendapatkan kecepatan maksimum juga. Ini harus dilatih walupun penerapannya di arena balapan harus selektif, supaya energinya terkelola dengan baik.
Pada saat lomba di trek XC, berapa idealnya putaran kaki per menit (rpm) ?
DN: Diusahakan tidak dibawah 50 RPM saat nanjak. Tapi juga tidak sampai di gas hingga diatas 100 RPM pada saat menemui jalan yang agak datar. Rata-rata putaran kaki harus bisa dijaga di level 60-70 RPM.
Share