Ngopi Sore

Belajarlah dari Valentino Rossi, Pak Jokowi

Banyak pelajaran yang bisa dipetik Jokowi dari lintasan Losail yang serba gemerlap. Rossi memamerkan apa yang disebut sebagai power of spirit.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP/AL-WATAN DOHA/KARIM JAAFAR
VALENTINO Rossi 

MINGGU, 29 Maret 2015, di tengah padang pasir yang telah disulap menjadi salah satu sirkuit paling menakjubkan di dunia, seorang pebalap tua memutarbalikkan kelaziman. Berusia 36, beradu kebut melawan pebalap-pebalap yang bahkan belum lahir tatkala ia memulai debut 20 tahun lalu, dan menang.

Pebalap itu bernama Valentino Rossi. Ia menyandang sembilan gelar juara dunia. Tatkala ia pertama kali meraih gelar juara dunia balap motor di kelas 125 cc (sekarang bertransformasi menjadi Moto3) di tahun 1997, pebalap pendatang baru musim ini, Jack Miller, baru berusia dua tahun.

Rossi telah memenangi balap motor (di semua kelas) sebanyak sembilan kali. Namun kemenangan di Qatar, kemarin malam, lain dibanding kemenangan-kemenangan sebelumnya. Pertama, ini kemenangan pertamanya sejak naik podium teratas di GP San Marino, 14 September 2014. Kemenangan memang bukan lagi perkara yang akrab dengan Rossi. Ia beringsut dari kemenangan yang satu ke kemenangan yang lain dengan susah payah.

Namun kesulitan yang dialami Rossi, tidak lantas membuat nilainya merosot. Justru sebaliknya, malah menguatkan dirinya sebagai legenda. The Living Legend, legenda hidup. Hanya orang- orang istimewa yang bisa mendapatkan sebutan seperti ini.

Bagaimana tidak istimewa! Arena balap sekarang tak lagi serupa sepuluh-dua puluh tahun yang lalu. Ketika itu, teknologi motor antar kontestan kejuaraan sangat jomplang. Di kelas-kelas motor berkekuatan mesin kecil, Aprilia dan Ducati, mendominasi. Sedangkan di kelas menengah dan besar, dikuasai Honda. Suzuki dan Yamaha hanya menjadi bayang-bayang dan baru bisa melejit ketika diperkuat pebalap yang benar-benar berkelas premium semacam Wayne Rainey.

Sekarang, seluruh kontestan menggunakan motor yang nyaris sama baiknya. Bahkan untuk meningkatkan potensi persaingan, terhadap tim-tim yang disponsori secara resmi oleh pabrikan, diberikan regulasi yang lebih rumit. Pertarungan di Losail Circuit sahih menunjukkan kecenderungan ini. Ducati telah menunjukkan taringnya, melesat ke level yang sama dengan Honda dan Yamaha. Kawasaki, dan Suzuki, yang kembali ke arena setelah lama absen, mulai menebar ancaman pula.

Dan di tengah geliat persaingan yang semakin panas dan ketat, Rossi, "Pak Tua" itu, berhasil menjadi yang terdepan. Ia melewati Andrea Davizioso, pebalap Ducati, yang dalam lomba kemarin, nyata-nyata lebi cepat dari Yamaha tunggangannya. Ducati mampu mencapai kecepatan tertinggi 354 km/jam, sedangkan Yamaha "cuma" 326 km/jam. Terbayang betapa hebatnya Rossi.

Tapi tentu, kehebatan ini, bukanlah keajaiban. Bukan "rezeki terpijak" yang datang dari langit antah-barantah. Dalam wawancara dengan media usai balapan, Rossi mengatakan bahwa kemenangan di Losail merupakan buah dari kerja keras selama berbulan-bulan.

"Saya melakukan banyak kesalahan di musim lalu. Kesalahan-kesalahan yang semestinya bisa saya dan tim ini (Yamaha Racing Factory) minimalisir. Kami finish di posisi dua (klasemen konstruktor), dan meski ini bukan posisi yang terlalu jelek, kami ingin memperbaikinya. Masukan dari saya dan Jorge (Lorenzo), dijadikan pegangan untuk pengembangan mesin," ujarnya.

Yamaha tetap kalah, dari sisi kekuatan mesin, dari Ducati. Namun mereka unggul jauh dalam stabilitas. Davizioso, juga Andrea Iannone, pebalap Ducati yang lain, kerap bermasalah kala motor mereka melibas tikungan. Dan Rossi, serta Lorenzo sebelum ban belakang motornya aus, memanfaatkan kondisi ini semaksimal mungkin.

Saya tak tahu apakah Bapak Presiden kita yang terhormat, Joko Widodo, menonton lomba itu. Mungkin tidak lantaran sudah terlalu larut. Bendera start baru dikibarkan pada pukul 00.45 WIB. Barangkali beliau sudah mengantuk. Lelah setelah melakoni rangkaian perjalanan ke luar negeri dan beliau mesti jaga kondisi sebab harus bekerja memikirkan segala tetek-bengek negara ini keesokan harinya.

Jika seperti ini yang terjadi, tentunya sayang sekali. Sebab banyak pelajaran yang bisa beliau petik dari lintasan Losail yang serba gemerlap dalam gelap itu. Rossi, entah dengan kata juluk Rossifumi, Velentinik, atau The Doctor (julukan-julukan yang ia ciptakan sendiri), memamerkan apa yang disebut sebagai power of spirit. Kekuatan semangat.

Apakah Jokowi tidak memiliki semangat? Tentu punya. Bedanya, semangat Rossi adalah semangat yang lahir dari dorongan kejujuran dan digeberkan juga dengan kejujuran. Penggeberan Jokowi, semakin ke sini, semakin diragukan tingkat kejujurannya. Terlalu banyak kepentingan dan keserbatidakjujuran di sekitar Jokowi, membentuk jeram dan pusaran, dan sungguh celaka, gelagatnya, beliau membiarkan dirinya masuk ke dalamnya.

Twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved