Ngopi Sore
Masih Kuatkah Anda Menahan Godaan Etalase Warung Padang
Bagaimana mungkin ada banyak sekali orang yang merasa terancam dan tergoda? Adakah kelas yang lebih jebluk dari "kelas ekonomi"?
Penulis: T. Agus Khaidir |
PUASA Ramadan telah berjalan tiga hari dan saya sungguh bersyukur karena sepanjang 12 jam harus terkurung di satu ruangan di lantai tujuh sebuah gedung bertingkat di Palmerah Selatan.
Padahal, terus terang, di lain sisi, ini menyiksa. Bukan lantaran perkara 12 jam itu. Memang, 12 jam merupakan waktu yang panjang. Akan tetapi, waktu seringkali terabaikan apabila tiap-tiap detiknya dilalui dengan cara dan suasana yang menyenangkan hati. Ini tidak.
Saya mesti berkutat dengan dua hal yang terlanjur saya anggap sebagai mimpi buruk: angka dan perhitungan rugi laba. Lantas kenapa saya bersyukur? Tentu saja. Sebab dengan berada di sana selama 12 jam, saya tak harus melakukan apa yang menjadi rutinitas saya tiap kali ke Jakarta. Rutinitas yang levelnya bahkan hampir menjelma ritual: keluyuran cuci mata ke sudut-sudut pasar untuk kemudian menuntaskannya dengan singgah di warung (nasi) Padang.
Hei, bukankah sekarang bulan puasa? Bukankah seyogianya, terkecuali singgah makan, tak ada masalah jika saya tetap melakukan rutinitas tersebut?
Di sinilah justru letak persoalannya. Saya tidak berani menyebut diri beriman. Perkara beriman atau tidaknya seorang muslim merupakan hak prerogatif Allah. Manusia tidak mendapatkan hak itu. Namun selama ini, memang, niat saya untuk berpuasa hingga Magrib tiba tak goyah sedikitpun meski di etalase-etalase warung Padang -yang setengah, bahkan tigaperempat bagiannya tertutup kain- dipampangkan masakan-masakan bercitarasa serba aduhai dalam formasi apik dan bernilai seni tinggi.
Ada ayam pop. Ada rendang, ada untaian petai, dan gulai jariang. Ada dendeng batokok sambal hijau, ikan balado, peyek udang, usus telor, gulai kepala kakap, dan masih banyak lagi.
Saya selalu berhasil mengelabui dorongan selera, baik selera perut ataupun sekadar selera mata. Meski tetap lancang mengirimkan aroma yang menyergap hidung, saya tak pernah kalah, tak pernah membelokkan arah langkah untuk memasukinya.
Tapi begitulah. Hari-hari terakhir ini, kok, ya saya jadi agak ragu pada keteguhan hati saya itu sendiri. Anda tahu, kira-kira sepekan sebelum masuk bulan puasa, negeri terkasih ini dihebohkan oleh satu isu yang berkembang dari celoteh Menteri Agama di Twitter. Celoteh perihal warung-warung, kedai, juga kafe dan restoran yang tidak wajib tutup selama Ramadan. Sebab bilang Pak Menteri, hormatilah juga orang-orang yang tidak berpuasa.
Sebenarnya tidak ada yang keliru dari pernyataan ini. Pertama, semenjak Republik Indonesia berdiri, tidak pernah ada aturan resmi dan sah yang mewajibkan warung nasi tutup selama Ramadan. Yang mau tutup ya tutup. Mau sehari, seminggu, sebulan, terserah. Mau buka juga terserah. Intinya, terpulang pada pengusahanya masing-masing.
Kedua, soal hormat-menghormati, pakem dan mekanismenya sudah terbentuk dengan sendirinya, dari kesadaran dan sikap tenggang rasa selama berpuluh-puluh tahun.
Tapi ternyata kalimat-kalimat Pak Menteri ini dipersoalkan. Isu jadi melebar kemana-mana. Ke tudingan anti Islam, liberal, sekular, sampai illuminati, freemason, dan yang paling anyar; Islam Nusantara. Para penuding bicara sesuka hati mereka dengan segenap teori yang berdasar maupun yang ngawur, dan celakanya, entah bagaimana, saya, kok, ya jadi terpengaruh.
Saya merasa konvensional saja dalam menjalani ajaran-ajaran Islam. Saya salat ketika masuk waktu salat (meski seringkali masih bolong-bolong). Saya berzakat. Saya berpuasa hanya yang wajib. Saya belum punya rezeki untuk naik haji. Dengan apa yang saya lakukan, saya sadar, seandainya ada pengelompokan, maka hampir pasti saya hanya akan masuk ke dalam kelas ekonomi.
Nah, kalau saya yang cuma kelas ekonomi, setidaknya sampai Ramadan tahun lalu, bisa acuh terhadap ancaman dan godaan etalase warung Padang, bagaimana mungkin ada banyak sekali orang yang merasa terancam dan tergoda? Adakah kelas yang lebih jebluk dari kelas ekonomi?
Saya tidak mau menduga dan berandai-andai. Untuk persoalan seperti ini, saya memilih berbicara pada diri saya sendiri. Apakah saya akan terancam dan tergoda. Dan syukurnya, saya tidak perlu menjawab itu karena selama 12 jam sehari sampai 12 hari ke depan, saya masih akan terkurung di sini dan tidak berpeluang sama sekali untuk bertemu dengan wangi uap nasi kapau yang panas berkepul-kepul, tatkala disandingkan dengan rendang dan paru goreng yang disiram kuah gulai.
Bagaimana dengan Anda? Sudahkah merasa terancam dan tergoda?
Twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/rumah_makan_padang_20150624_141435.jpg)