Gunung Sibayak, Penuh Bebatuan Namun Diminati Pendaki Pemula
Sibayak menawarkan pemandangan matahari terbit dari puncak, awan putih yang menyelimuti kawah, hingga batuawas yang menyemburkan asap belerang.
Pantauan Tribun Travel, banyak pendaki yang melakukan pendakian malam dan camping untuk menunggu matahari tepat di wajah. Ya, demi melihat sunrise memang ramai pendaki memilih mendaki di malam hari, dan melakukan camping di sana.
Selama berada di atas, pendaki tidak pernah berhenti mendengar suara letusan dari kawah belerang.
Di dalam kawahnya ada batu cadas dengan kawah belerang dengan kandungan solfatara yang membuatnya tak pernah berhenti menyemburkan uap panas.
Para pendaki yang menempati puluhan tendadi bagian landai kawasan kawah akan mendengarkan suara air mendidih yang banyak orang bilang seperti suara pesawat sebelum terbang.
Utami Tanjung, pendaki pemula, menuturkan sempat berdebar-debar saat mendengar suara kawah, dan mengira gunung akan meletus.
"Awalnya saya enggak bisa tidur. Tapi setelah dijelasin itu suara normal dari kawah yang berisi belerang, Saya pun mulai tenang dan mulai menikmati suasana malam di gunung. Berjalan di atas bebatuan, ada serpihan cahaya dari rumah penduduk di kaki gunung, hingga suara hening selain suara kawah," ujarnya.
Menurut, Arwan, pendaki yang sudah berulang kali mendaki Sibayak, di kawah ini juga sering digelar upacara bendera saat 17 Agustus.
Jika ingin lebih menikmati eksotisnya Gunung Sibayak, pendaki harus menuju puncak yang bernama Puncak Takal Kuda.
Takal Kuda sendiri merupakan bahasa Karo yang berarti “Kepala Kuda”. Di Puncak Takal Kuda ini, pendaki bakal disuguhkan pemandangan yang luar biasa indahnya, apalagi jika cuaca bersahabat.

"Mulai dari pemandangan matahari terbit dan melihat dari kejauhan kondisi Gunung Sinabung yang belakangan kerap mengeluarkan semburan debu dan beberapa kali awan panas," jelasnya.
Menurutnya, walaupun ada akses yang mudah bukan berarti pendaki boleh mengabaikan persiapan. Pendaki tetap harus memakan baju hangat karen cuaca sangat dingin di puncak sana.
Di sekitar kawah, ada juga kawasan landai yang basah karena semburan belerang. Di sini, para pendaki bermain-main dengan batu dan membentuk sebuah huruf. Ada yang menyusun nama pacar, istri, ada juga namanya sendiri.
Gunung Sibayak sendiri merupakan gunung berapi aktif yang memiliki uap panas. Terakhir kali pada tahun 1881. Orang suku Karo menyebut Gunung Sibayak dengan sebutan Gunung Raja.
Ketinggian dari Gunung Sibayak ini sendiri adalah mencapai 2094 Mdpl, dengan posisi kordinat puncaknya adalah pada 97° 30 BT dan 14 ° 16 LS.
Pendaki hanya diminta uang distribusi untuk naik sebesar Rp4.000 dan biaya parkir Rp15 ribu jika menginap.
Jaraknya juga tidak terlalu jauh dari Medan, hanya 77 km atau sekitar dua jam perjalanan. (sil/tribun-medan.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/gunung_sibayak_20150810_115645.jpg)