Ngopi Sore

Mafia Listrik, Mafia Asap, Mafia Minyak, Mafia Beras, Mafia Daging, dll

Di luar perkara potensi kerugian negara ini, istilah 'Mafia Listrik' yang dikedepankan Rizal Ramli menambah panjang daftar mafia di Indonesia.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
INTERNET

SAYA pertama kali mengetahui bahwa dunia memiliki kosa kata mafia pada tahun 1985. Saat itu, ayah saya sedang duduk di depan televisi kami, yang lewat perangkat video kaset, tengah mengalirkan film yang seru sekali.

Ledakan demi ledakan. Darah mengalir, muncrat ke dinding. Kaca-kaca pecah. Adegan tembak- menembak yang brutal. Seorang tokohnya meneriakkan kalimat ini saat memberondongkan senapan mesin: "say hello to my little friend."

Saya menonton sembunyi-sembunyi, dari balik pintu. Keseruan mendorong saya untuk mendekat, dan saya langsung dihalau. "Ini film mafia. Anak-anak nggak boleh nonton," kata ayah saya.

Bertahun kemudian saya baru tahu judul film itu. Scarface, dibintangi Al Pacino. aktor Amerika berdarah Italia yang memang sungguh cocok berperan sebagai mafia. Selain Scarface, ia juga membintangi banyak film mafia yang beberapa di antaranya berkualitas aduhai, seperti Serpico, Carlito's Way, Donnie Brasco, Heat, dan tentu saja, trilogi The Godfather.

Dari Al Pacino, juga Marlon Brando dan Robert de Niro, kerangka pemikiran yang terbentuk di kepala saya, mafia tiada lain adalah bandit-bandit bertuksedo, berdasi sutera, yang kerap makan di restoran-restoran mahal yang menyediakan caviar, minum wine dan mengisap cerutu, dan bisa menembak orang semudah menepuk nyamuk sembari menggendong Kucing Persia.

Belakangan saya baru tahu bahwa mafia bukan sekadar orang atau sekelompok orang yang menjalankan pekerjaan kotor, melainkan sebuah filosofi juga. Ada persaudaraan, ada keluarga, ada kesetiaan, yang kemudian menjadi satu kesatuan tak terpisahkan, berkelindan: Mafiusu (disebut juga Mafioso, yang bermakna 'lelaki terhormat').

Sulit menjelaskan mafiusu dalam satu defenisi yang baku. Apabila kita merujuk ke Kamus Besar Bahasa Indonesia, definisi mafia adalah "perkumpulan rahasia yang bergerak di bidang kejahatan (kriminal)". Apakah mafia memang melulu terkaitpaut dengan kejahatan. Sesungguhnya tidak juga. Tapi pastinya, filosofi Mafiusu berkembang ke berbagai arah.

Bukan lagi cuma persaudaraan, keluarga, dan kesetiaan dalam ruang lingkup pribadi, suku bangsa, dan agama, tapi juga bisnis, yang kian lama kian mengarah ke bisnis kotor, bisnis yang menjadikan ancaman, senjata, dan penghilangan nyawa, sebagai bagian dari negosiasi. Dalam kesehariannya, para Mafiusu atawa Mafioso ini menjalankan kode etik tersendiri.

Ingatan terhadap mafia singgah kembali di kepala saya setelah Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman, Rizal Ramli, menyebut ada mafia di PLN. Khususnya terkait listrik prabayar (listrik pulsa atau token). Menurut Rizal, sistem listrik prabayar sangat merugikan masyarakat, karena nilai manfaat riil yang diterima dari nominal pulsa listrik yang dibelinya rata-rata hanya 70 persen.

"Jika orang beli (pulsa) Rp 100 ribu dapatnya ternyata cuma 73 ribu. Atau beli Rp 50 ribu, isinya hanya 34 ribuan. Kan, untungnya sudah besar sekali. Sementara untuk pengadaan listrik prabayar ini terjadi monopoli pula. Dan pemaksaan. Pemasangan baru wajib prabayar. Jika terjadi pemutusan, maka ketika disambungkan kembali juga harus prabayar. Ke depan, PLN mesti memberikan kebebasan pada masyarakat untuk memilih. Mau pakai prabayar atau pascabayar," ucapnya.

Rizal Ramli barangkali agak kurang cermat dalam soal hitung-hitungan. Ia, misalnya, membandingkan antara pulsa listrik dengan pulsa telepon selular. Sama-sama pulsa, memang, tapi pembandingan ini tetap bukan apple to apple. Sebab hitung-hitungan antara selular dengan listrik yang menggunakan satuan Kwh, tidak sama.

Pun demikian, kecurigaan-kecurigaan lain yang ia paparkan, cukup beralasan. Memang ada banyak keanehan dalam kebijakan listrik prabayar, dan ini patut untuk ditelisik lebih lanjut. Apakah benar ada korupsi di sana? Apakah benar ada kongkalikong?

Di luar perkara potensi kerugian negara ini, istilah 'Mafia Listrik' yang dikedepankan Rizal Ramli menambah panjang daftar mafia di Indonesia. Sicily, Italia, cuma punya satu mafia, La Cosa Nostra. Mereka menyeberang ke Amerika dan ke Eropa untuk menguasai dunia bawah tanah dan pasar-pasar gelap. Di Hongkong ada Triad. Di Jepang ada Yakuza.

Tapi di Indonesia ada Mafia Listrik, ada juga Mafia Asap, yakni orang atau kelompok orang atau perusahaan yang membakar hutan seenak perutnya untuk membuka lahan perkebunan dan menyebabkan jutaan orang sesak nafas.

Lantas ada Mafia Minyak, Mafia Beras, Mafia Daging, Mafia Gas, Mafia Ikan, Mafia Tanah, Mafia Judi, Mafia Hukum, dan jauh sebelumnya dikenal pula istilah Mafia Berlekey, yakni sekumpulan ekonom lulusan University of California, Berkeley, Amerika Serikat, yang diandalkan Presiden Soeharto untuk mengendalikan perekonomian nasional (istilah yang pertama kali dirujuk oleh kolumnis majalah Ramparts, David Ransom, pada tahun 1970).

Di berbagai bidang, mafia-mafia ini, melakukan kerja sistematis untuk melakukan penggerogotan yang menjerumuskan negara kepada kesulitan tiada akhir.

Ada lagi yang lain? Mungkin ada. Dan sekiranya memang ada, silakan tambah sendiri. Dan sementara Anda mencari tahu, saya ingin menutup tulisan ini dengan satu pantun: "tali rafia tali sepatu, para mafia selalu bersatu."

Twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved