Ngopi Sore

Peristiwa 9 Desember: Kemenangan Golput dan Kekalahan Manchester United

Apa hubungan kekalahan Manchester United ini dengan kemenangan golput di pelaksanaan sebagian besar pilkada di Indonesia?

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
TRIBUN MEDAN/RISKI CAHYADI
KURSI KOSONG - Suasana sepi pemilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS) 13 di Jalan Alumunium 3, Kelurahan Tanjung Mulia, Kecamatan Medan Deli, Medan, Rabu (09/12/2015). Banyaknya TPS yang sepi dari pemilih karena rendahnya minat warga untuk menggunakan hak pilihnya pada pilkada 2015. 

LEPAS pukul 14.00, petugas di Tempat Pemungutan Suara (TPS), tak jauh dari rumah saya di Medan, mulai bersiap melakukan perhitungan. Suasana sepi. Nyaris tidak ada gairah.

Berbeda jauh sekali dibanding Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Kota Medan, lima tahun lalu. Terlebih-lebih jika dibandingkan dengan Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014. Bagaikan bumi dengan langit.

Tidak ada pendukung kubu-kubu pasangan calon yang bertarung. Dalam arti pendukung- pendukung yang "betul-betul militan".

Hanya saksi yang dikirim Tim Sukses atau Tim Pemenangan pasangan calon. Selain itu adalah polisi yang berjaga-jaga, aparat kelurahan, dan petugas pemungutan suara. Tidak ada tepuk tangan apalagi sorak-sorai tiap kali suara dibacakan. Tadi saling lirik dengan sorot mata penuh curiga, sinis, benci.

Rabu, 9 Desembre 2015, TPS begitu sepi, datar dan hambar. Petugas pemungutan suara mengambil kertas suara dari dalam kotak dengan malas, menerawangnya juga dengan malas, lalu meneriakkan nama atau nomor pasangan calon. Dan petugas lain, juga saksi dari Tim Sukses atau Tim Pemenangan, mencatatnya. Begitu statis. Bahkan nyaris tidak ada interupsi.

Saya beranjak ke TPS lain. Situasinya ternyata tidak terlalu jauh berbeda. Tak ada semangat. Di satu TPS, saya diberitahu oleh seorang petugas bahwa dari 755 kertas suara yang tersedia (berdasarkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) + 10 persen dari DPT), tersisa 700 suara. Tingkat partisipasi tidak sampai 10 persen.

Sesungguhnya, sejak awal saya sudah meyakini bahwa Pilkada Kota Medan, dan kota-kota dan kabupaten lain di Sumatera Utara serta pilkada-pilkada tujuh provinsi lainnya, akan berlangsung lesu darah. Tingkat partisipasi akan rendah.

Namun saya sama sekali tidak menyangka jumlahnya akan serendah ini. Tadinya saya berpikir paling-paling akan sedikit lebih rendah dari partisipasi pada Pilkada Sumut 2013 yang memilih Gatot Pujo Nugroho sebagai gubernur. Kala itu, jumlah pemilih kurang lebih (saya tidak ingat persis) 45 persen dari total DPT.

Nyatanya jauh sekali di bawah angka itu. Di luar dua daerah yang ditunda pelaksanaanya, Kota Pematangsiantar dan Kabupaten Simalungun, pilkada digelar serentak di 21 kabupaten dan kota. Rata-rata jumlah pemilihnya jeblok. Tapi paling parah, memang, Medan. Golput menang telak dengan angka di atas 60 persen. Luar biasa!

Lima tahun lalu, dalam pilkada yang berlangsung lebih semarak dan ketat, Rahudman Harahap yang berpasangan dengan Dzulmi Eldin, menjadi Wali Kota Medan. Mereka berhasil mengatasi delapan kandidat pesaing. Sebelumnya, Syamsul Arifin dan Gatot Pujo Nugroho memenangi Pilkada Sumut, memenangi kompetisi melawan empat pasangan calon yang memiliki reputasi kuat dan massa yang besar.

Rahudman kemudian masuk penjara karena korupsi, mengulang "pencapaian" wali kota pendahulunya, Abdillah. Syamsul Arifin pun mengalami hal serupa. Pengganti Syamsul, Gatot Pujo Nugroho, juga demikian. Bahkan Gatot sejauh ini telah mencatat rekor yang barangkali bisa dicatat oleh Muri. Ia menjadi tersangka pada empat kasus hukum pidana sekaligus.
Begitulah pilkada seringkali hanya menyodorkan pilihan-pilihan yang sama saja buruknya. Dan pemilih dipaksa untuk memilih salah satu di antara mereka.

Kali ini pun masih begitu. Ada beberapa daerah yang barangkali bisa jadi kekecualian. Surabaya, misalnya. Tapi di luar itu, kecenderungannya belum berubah. Dan celaka dua belas, kian diperparah oleh persidangan Ketua DPR RI, Setya Novanto, di MKD.

Terlepas dari siapa yang benar dan siapa yang salah, proses persidangan ini, yang penuh instrik dan dagelan, terlanjur menghadirkan rasa muak tingkat akut.

Sementara itu, dari Wolfsburg, Land Niedersachsen, Jerman, pascamelalui pertarungan yang menyesakkan dada, Manchester United memastikan angkat kaki dari persaingan memperebutkan tropi Liga Champions musim ini. Mereka dikalahkan tuan rumah 2-3 dan hanya finish di posisi tiga grup, terpaut dua poin dari PSV Eindhovend yang pada laga di waktu yang sama, di Belanda, menang 2-1 atas CSKA Moscow.

Apa hubungan kekalahan Manchester United ini dengan kemenangan golput di pelaksanaan sebagian besar pilkada di Indonesia? Secara langsung, kecuali sama-sama merupakan peristiwa bertanggal 9 Desember 2015, sesungguhnya tak ada.

Namun jika ditarik lebih jauh, ada satu benang merah. Bahwa kekalahan dan kemenangan ini sama-sama disambut nelangsa. Manchester United, tentu karena kalah. Golput? Iya, sepanjang golput masih menjadi angka yang dominan dalam pemilihan umum, maka itu berarti titik kebangkitan negeri terkasih ini masih jauh di depan.

Twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved