Mengurai Sejarah dan Kisah-kisah Mistis Batu Berlubang
Perjalanan ke Negeri Wisata Sejuta Pesona, Tapanuli Tengah, tidak berhenti pada wisata pulau dan pantai semata.
Laporan wartawan Tribun Medan/Silfa Humairah
TRIBUN-MEDAN.com - Perjalanan ke Negeri Wisata Sejuta Pesona, Tapanuli Tengah, tidak berhenti pada wisata pulau dan pantai semata. Ada wisata alam lainnya, yakni Goa Belanda atau oleh penduduk setempat disebut Batu Lubang.
Batu Lubang menyimpan sejarah sekaligus cerita mistis yang tak disangka-sangka mampu menggamit minat wisatawan untuk menyambanginya.
Batu Lubang bukti peninggalan sejarah perjuangan rakyat Tapanuli. Konon, awal dibuatnya jalan tersebut adalah pada saat masa penjajahan di tahun 1930.
Penduduk diperlakukan semena-mena dan dipaksa kerja rodi. Penjajah Belanda dan Jepang masuk ke tanah Batak melalui Barus mempunyai masalah untuk melewati jalan ini. Selain terhalang hutan belantara, ada pula batu gunung yang keras.

Para penjajah pun memaksa para tahanan perang yakni para pejuang Indonesia untuk membuat lubang dengan memahat batu-batu hingga bisa tembus ke jalan Tarutung-Sibolga-saat ini (Tapanuli Tengah).
Proses pembuatannya pun boleh dikata sungguh keterlaluan, pekerja dipaksa terus bekerja hingga kelelahan, tapi tidak diberi istirahat hingga banyak pekerja yang meninggal karena kelelahan. Kejamnya, pekerja yang meninggal hanya dibuang ke jurang yang berada di pinggir goa.
"Banyak yang meninggal karena kelelahan dan dibuang begitu saja ke jurang. Tapi, hasil kerja mereka akan tetap diingat khususnya wisatawan yang melewati batu lubang tersebut.Karena terbilang unik, kerukan batu ini bisa bertahan berabad-abad dan berbentuk seperti terowongan," kata Ramin, penduduk di tempat itu.
Ramin bilang, entah karena sugesti proses pembuatan yang terbilang kejam dan cerita banyaknya korban meninggal saat pembuatan lubang ini, kejadian mistis pun kerap dirasakan pengendara saat melewati goa tersebut.
"Ada yang cerita kalau ada motor yang mogok tiba-tiba di tengah goa, kemudian melihat goa bercahaya. Ada juga yang melihat bayangan orang dan mendengar suara manusia menjerit di dalam goa. Macam-macamlah pengalaman pengendara saat melintasi goa sepanjang 40 meter ini, dengan jeda ruang terbuka beberapa meter," katanya.

Sering kali rute melewati Tarutung dipilih untuk mencapai kota Sibolga atau objek wisata Pulau Mursala, melewati rute Goa Belanda agar khusus merasakan sensasi melewati goa, kemudian berhenti untuk sejenak mendokumentasikannya.
Ya, Batu Berlubang tersebut berada di tengah jalan dan rute alternatif dari beberapa rute lainnya menuju kota Sibolga atau objek wisata Tapteng lainnya.
Goa Belanda berada pada titik 7 km sebelum Kota Sibolga atau di desa Simaninggir Kecamatan Sitahuis kabupaten Tapanuli Tengah ini juga menarik wisatawan karena adanya air terjun yang turun di batu granit dengan ukiran seperti dipahat.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/goa-belanda_20160112_143843.jpg)