Barcelona vs Real Madrid

Menyisakan Drama Gengsi

Daya tarik El Clasico yang pernah surut. Bahkan ketika bintang-bintang di kedua kubu tengah meredup. Bahkan tatkala tidak ada bintang sama sekali.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO

Kesalahan Benitez
April 2003, dalam satu momentum El Clasico di Camp Nou, pecah keributan massal. Penyebabnya adalah dua pemain sentral di kedua kubu. Pemain bernomor punggung lima dan nomor punggung 21, Zidane dan Enrique.

Permainan Enrique yang sangat agresif nyaris mencelakai Zidane, maestro pengatur irama permainan Madrid yang terkenal berdarah panas. Zidane mendatangi Enrique, meneriakinya, lalu meraup wajahnya. Enrique membalas dengan mendorong tubuh Zidane. Pemain-pemain lain berdatangan dan segera terlibat aksi saling dorong.

"Kami berdua profesional dan saya percaya, seperti juga saya, Zidane tidak akan menganggap insiden itu sebagai kenangan yang buruk di antara kami. Saya dulu menghormatinya sebagai pemain. Sekarang saya menghormatinya sebagai pelatih," kata Enrique seperti dikutip SBS.com.

"Zidane pemain jenius, dan sejauh ini, dia sudah menunjukkan sebagian dari kejeniusan itu sebagai pelatih. Madrid sekarang berbeda dengan Madrid yang kami hadapi beberapa bulan lalu. Saya kira ini akan jadi laga yang menarik," ujar Enrique menambahkan.

Enrique memang tidak mengatakannya secara langsung, namun sepertinya ia telah memperkirakan bahwa Real Madrid tidak akan mengulang kesalahan di Bernabeau. Kesalahan strategi Rafael Benitez yang membuat gawang Keylor Navas dihajar empat gol.

Benitez barangkali hendak menerapkan permainan menyerang yang agresif. Namun keputusannya menempatkan tiga gelandang stylish tanpa tukang angkut air, justru menjadi blunder yang berbuah petaka.

Toni Kross, Luka Modric, dan James Rodriguez memang membuat serangan Real Madrid lebih tajam. Modric dan Rodriquez mampu mengalirkan bola-bola untuk Cristiano Ronaldo, Bale, dan Karim Benzema.

Tapi serangan-serangan itu berhasil dihempang para penggawa lini belakang Barcelona. Mereka kemudian dengan cerdik merencanakan serangan balik. Serangan yang tidak terburu-buru, yang terkonsep rapi dan dirancang begitu cermat, memanfaatkan celah yang terbentuk antara Rodriguez, Modric, dan Kross. Celah di seputaran penalty arc, baik di sisi kiri maupun kanan. Lewat celah inilah, Sergio Busquets dan Ivan Rakitic berhasil mengirimkan umpan mematikan untuk Suarez dan Neymar.

Kesalahan kedua Benitez adalah menginstruksikan para pemainnya untuk melakukan pressing ketat dan agresif, namun sayangnya, tidak terpola jelas. Pendek kata, hanya agresif, namun kacau. Strategi ini hanya membingungkan pemain-pemain Barcelona di awal-awal laga. Selepas 15 menit, mereka melihat celah yang lain pula. Betapa pressing ini malah menciptakan ruang- ruang kosong dan satu dua pemain tak terkawal. Dan celakanya, yang sering lepas dari kawalan ini adalah Iniesta.

Lantas, apa yang akan dilakukan Zidane? Sejauh ini, ia tidak banyak bicara pada media. Namun Marca, memaparkan kemungkinan Zidane, untuk kali kesekian akan mengirim James Rodriguez ke bangku cadangan, dan mendorong Kross dan Modric sebagai duet yang akan berhadap- hadapan langsung dengan Rakitic dan Alda Turan.

Di belakang keduanya ditempatkan Casemiro, pemain yang sebenarnya belum menunjukkan kapasitas selevel Xabi Alonso, namun apa boleh buat, memang menjadi satu-satunya pemain yang mungkin dipilih untuk posisi itu.

"Kami akan mencoba memainkan sepakbola yang sederhana. Sepakbola yang tidak rumit. Barangkali kami akan mendapatkan peluang yang lebih baik dari kesederhanaan dan ketidakrumitan ini," kata Zidane.

twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved