Korban Banjir Bandang
Inilah Kisah Saksi Hidup Korban Tragedi Air Terjun Dua Warna
Gambaran itu dikisahkan Mordang Sualoan Harahap (18), korban selamat.
Mordang mengenal Zahra sejak bersekolah di Pesantren Darul Mursyid enam tahun lalu.
Bersama Zahra, ia telah banyak menghabiskan waktu, bermain dan belajar.
Terakhir, mereka sama-sama mengikuti bimbingan belajar sebagai persiapan menghadapi Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN).
"Saya mau masuk ITB. Dia pengin masuk jurusan Kimia Unpad," ujarnya.
Saat terjadi banjir bandang, Mordang sempat menggenggam tangan Zahra beberapa saat. Namun, derasnya arus air membuat genggamannya terlepas.
"Gimana saya bisa melupakan itu," kata Mordang sambil menahan tangis.
Semasa bersamanya, kata Mordang, Zahra termasuk tipe perempuan pemalu. Mereka bertemu sejak sekolah menengah pertama.
"Saya dari Batangtoru. Dia dari Padanglawas. Saya sudah kenal dia enam tahun. Dia jago Kimia. Kami masih sempat sama-sama berlindung di tenda waktu air datang."
"Dia terlihat senyum. Saya sempat tanya ke dia, 'Masih kuat?' Dia jawab, 'Tenanglah, Do. Strong aku, strong.' Saya masih ingat semuanya," ujar Mordang.
Gantung 10 Jam
Camat Sibolangit, Amos Karokaro mengatakan, Mordang sempat nekat kembali ke lokasi air terjun untuk mencari Zahra.
"Tadi pagi lari dia dari posko. Mau dicarinya kawannya itu. Kami cegah. Kami bilang, kami aja yang cari," kata Amos.
Mordang selamat, karena bergantung di tebing selama sepuluh jam. Padahal, tebing di mana ia berpijak nyaris tegak lurus.
Mordang menggambarkan kemiringan tebing itu hampir 90 derajat. "Dari jam dua siang sampai dua belas malam saya berdiri di tebing. Tebingnya hampir tegak lurus," katanya.
Selama berdiri sepuluh jam di tebing, hanya separuh telapak kaki Mordang yang bisa bertumpu pada batu.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/korban-selamat-pada-peristiwa-banjir-bandang-sibolangit-mordang-sualoan_20160517_141215.jpg)