Korban Banjir Bandang
Inilah Kisah Saksi Hidup Korban Tragedi Air Terjun Dua Warna
Gambaran itu dikisahkan Mordang Sualoan Harahap (18), korban selamat.
Tangannya mencengkram rerumputan yang tumbuh di bebatuan, menjaga diri agar tak sampai jatuh.
Ia tak bisa banyak bergerak atau bergeser, apalagi membalik badan. Di bawahnya, selama waktu itu, air bah berbatu-batu mengalir deras. "Kalau saya gak kuat, saya mungkin sudah hanyut," katanya.
Mordang bukan mahasiswa Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Flora, seperti yang dikabarkan sebelumnya. Ia hanya ikut dengan rombongan mahasiswa STIKES Flora.
"Saya kebetulan memang berangkat sama rombongan mahasiswa itu. Saya diajak," katanya.
Mordang adalah pria yang baru saja dinyatakan lulus dari SMA Pondok Pesantren Darul Mursyid. Saat ini, ia sedang mengikuti bimbingan belajar sebagai persiapan SBMPTN. Selain dirinya, Riski Ayu Zahra juga lulusan Pondok Pesantren Darul Mursyid.
"Kami ada 16 orang. Yang belum mahasiswa, saya sama Zahra," kata Mordang. Sementara itu, tim pencarian dan evakuasi korban banjir bandang Sibolangit menghentikan kerja mereka tepat pukul 18.00 WIB.
Dari hasil pencarian sejak pagi, 14 dari 17 korban tewas telah berhasil dievakuasi. Dari 14 korban yang telah dievakuasi, delapan perempuan dan enam laki-laki.
Sedangkan tiga korban tewas lainnya masih belum dievakuasi, karena tersangkut bebatuan dan medan yang ekstrem. Selain itu, empat korban hilang juga belum ditemukan.
Sekretaris Badan Penanggulangan Bencana Daerah Deliserdang Darwin Surbakti mengatakan, evakuasi dan pencarian korban akan dilanjutkan pagi ini, Selasa (17/5).
"Ini karena sudah jam segini, kami hentikan. Besok kami lanjutkan lagi," ujarnya.
Darwin meyakini, tiga korban hilang yang belum berhasil dievakuasi tidak akan hanyut terbawa arus atau hilang. "Insya Allah tidak. Sulit sekali mengambilnya," katanya. (amr)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/korban-selamat-pada-peristiwa-banjir-bandang-sibolangit-mordang-sualoan_20160517_141215.jpg)