Doktor Sejarah Hendak Menangis, Makam Raja Sidabutar 'Tak Lagi' Sakral
Seorang sejarawan Sumatera Utara Dr. Phil Ichwan Azhari mengaku hendak menangis tatkala menyaksikan kondisi makam Raja Sidabutar
TRIBUN-MEDAN.com - Seorang sejarawan Sumatera Utara Dr. Phil Ichwan Azhari mengaku hendak menangis tatkala menyaksikan kondisi makam Raja Sidabutar yang cukup memprihatinkan saat mendatangi Tomok, pulau Samosir, Sumatera Utara.
Hal ini disampaikan Ichwan dalam akun media sosialnya saat melakukan kunjungan dalam perjalanannya saat libur Idul Fitri bersama tamu dan rekan-rekannya yang sengaja datang dari luar kota.
Masing-masing dua tamunya bergelar doktor, satu penulis puluhan judul buku di Malaysia, ada PNS, ada kepala sekolah, mahasiswa dari Perguruan Tinggi terkemuka di Pulau Jawa.
Dia menyampaikan kesedihannya saat melihat sarkofagus yang terbuat dari batu itu sudah tidak memperlihatkan keasliannya lagi.
Terlebih makam itu diperlakukan semena-mena karena sudah terlihat dicat, dan diberi ornamen-ornamen tambahan yang tidak ada pada situs aslinya.

Kotak donasi menyambut pengunjung makam Raja Sidabutar
"Patik seperti pemandu wisata, ingin menjelaskan pada tamu patik berbagai penanda di situs ini, hubungan antara Aceh dengan pedalaman Batak sebelum masuknya agama Kristen. Sudah 10 tahun patik tak ke sini dan sekarang terkejut melihat berbagai perubahan," tulis Ichwan.
Kata Ichwan, para tamunya senyum-senyum melihat ada dua kotak sumbangan (dikotaknya ditulisi bahasa Indonesia dan Inggris) juga mereka heran melihat situs itu dikepung berbagai himbauan dalam dua bahasa yang terjemahannya berbeda walau maksudnya sama mengarah ke dua kotak sumbangan itu.

12 Arca disebelah Situs Makam Raja Sidabutar diletakkan begitu saja berdampingan dengan patung plastik bekas kepala perahu dayung rusak dan patung Sigale Gale.
"Misalnya ditulis di satu kotak "Kotak Partisipasi" (bahasa Inggrisnya dibuat "Welfare Box), lalu ada dikotak di tulis "Kotak Amalan" (yang Malaysia itu nanya, "Amalan" maksudnya apa?)," tanya Ichwan.
Bahkan di areal pemakaman seluas lapangan badminton itu dikepung berbagai himbauan, tapi tak ada penjelasan akademis ini kompleks apa dan artinya bagi sejarah pulau Samosir dan tanah Batak.

Berbagai himbauan dipasang disekitar makam Raja Sidabutar
"Sebagai pemandu sok tahu sejarah Batak, berusahalah patik menjelaskan berbagai hal jumpalitan yang ada di makam yang dihimpit ratusan pedagang souvenir dan disesaki ribuan pengunjung itu," katanya.
Dia menjelaskan kalau situs itu harusnya sudah ditetapkan menjadi situs cagar budaya berdasar undang undang cagar budaya.
Jika belum, katanya maka itu menjadi kelalaian Dinas Kebudayaan dan Pariwisata tingkat Kabupaten Samosir serta Provinsi Sumut, Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) dan Dirjen Kebudayaan RI.
Sebagai cagar budaya maka situs ini tidak dapat diperlakukan semena mena, dicat, diberi ornamen ornamen tambahan yang tidak ada pada situs aslinya.
"Tapi inilah dia namanya wisata sejarah, patik sok tahu menjelaskannya pada tamu patik dan ingin menyenangkan mereka dalam program "Welcome to Tomok ini". Patik lihat gajah di kanan kiri makam sudah dicet warna putih (mungkin maksudnya mirip Gajah Putih Aceh?). Arca sisi makam dicat warna warni mistis Batak (hitam merah putih)."
Dia mengatakan kontras dengan suasana sakral kompleks makam, areal makam Sidabutar itu sudah jadi seperti Time Zone yang mengesankan pengunjung karena anak-anak bebas naik patung "anak gajah" dan ratusan pengunjung berfoto selfie bersandar di dinding makam sambil tagolak, makan minum.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/makam-raja-sidabutar-menjadi-areal-permainan-anak-anak_20160712_121820.jpg)