Doktor Sejarah Hendak Menangis, Makam Raja Sidabutar 'Tak Lagi' Sakral
Seorang sejarawan Sumatera Utara Dr. Phil Ichwan Azhari mengaku hendak menangis tatkala menyaksikan kondisi makam Raja Sidabutar
Ichwan menjelaskan kepada tamunya: "Tamu patik nanya, ini makam beneran yang sakral atau replika untuk mainan? Patik bilanglah dengan gaya pemandu amatiran : 'ini sakral masih sakral, dan makam asli, lihatlah itu ada makam baru di sampingnya. Tapi untuk menyenangkan wisatawan seperti Tuan dan Puan, maka makam ini dijadikanlah objek wisata yang unik'."
"Patik lihat berkerut kening para tamu patik. (Beberapa meter dari makam patik lihat banyak Arca kecil terlantar dekat patung Sigale Gale. Arca Kuno atau baru buatkah ini? Patik alihkan perhatian tamu patik agar tak melihat ini, payah patik jelaskannya nanti)."
Lalu katanya ada kontras relif berwarna aneh, sepasang cicak merubung empat payudara perempuan di tembok. Sepuluh tahun lalu gak ada relif ini, ini tambahan baru. Sebagai pemandu wisata amatiran mulai pening kepala patik jawab pertanyaan kritis tamu tamu patik ini.
Relif seperti ini banyak pula di hotel hotel sekitar Prapat. "Apakah ada hubungan cicak, payudara, gajah putih dan raja Sidabutar yang dikuburkan di situ?" Di sebelah relif cicak ada pula dibuat daftar tak nyambung, seakan wilayah kekuasaan sang Raja? Dibuat di situ "Toba, Simalungun, Dairi/Pakpak, Tapsel, Karo".
Kompleks makam dinaungi pohon pohon tua seakan menjaga kesakralan walau hiruk pikuk.
"Sambil menggiring tamunya keluar kompleks patik lirik Arca Raja Sidabutar di kepala makam, seperti mau menangis Arca itu, atau patik kah yang sebenarnya mau menangis,"
Katanya situs sejarah yang potensial ini, di tengah banyaknya pengunjung terdidik juga pejabat, jadi seperti ini? Bagaimana pula nasib ribuan situs terlantar di tempat terpelosok sana?
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/makam-raja-sidabutar-menjadi-areal-permainan-anak-anak_20160712_121820.jpg)