Ngopi Sore

Pokemon Go untuk Penggemar Jokowi-Prabowo dan Messi-Ronaldo yang Selalu Berselisih

Hal apakah yang kira-kira tak dapat memancing kehebohan dan memantik keriuhan di Indonesia? Mungkin nyaris tidak ada.

Pokemon Go untuk Penggemar Jokowi-Prabowo dan Messi-Ronaldo yang Selalu Berselisih
vox-cdn.com

SAYA tak paham-paham benar tentang Pokemon. Saya cuma tahu bahwa karakter-karakter animasi ini diciptakan di Jepang pada tahun 1995. Pokemon --dibaca Poh-Kay-Mon atau Poh-Ki- Mon-- awalnya merupakan permainan kartu, lalu, setahun berselang, berkembang menjadi permainan (game) elektronik, di mana penciptanya, Satoshi Tajiri dan Ken Sugimori yang berkolaborasi dengan Kabushiki Gaisha (perusahaan permainan yang juga dikenal dengan nama Game Freak), menjalin kesepakatan eksklusif dengan Nintendo, khususnya pada perangkat Game Boy.

Dari game berjudul Pocket Monsters: Red & Green, Pokemon melesat cepat dan mendapatkan popularitas global. Mulai dari komik, mainan, seri animasi televisi, hingga film layar lebar. Di seluruh dunia, juga terbentuk komunitas-komunitas penggemar Pokemon. Satu yang terbesar adalah Bulbagarden, komunitas penggemar Pokemon di dunia maya.

Tapi The Pokemon Company, perusahaan pemilik segala bentuk hak cipta dan hak edar Pokemon, tidak pernah berhenti melakukan inovasi. Pascamelepas seri game yang membuat para penggemar game Pokemon generasi awal (generasi yang sekarang mulai beranjak tua) kembali ke masa kanak-kanak, Pokemon Omega Ruby and Alpha Sapphire, mereka meluncurkan Pokemon Go, versi yang dengan cepat menjadi "gelombang tsunami" kehebohan dan keriuhan di berbagai negara. Termasuk, tentu saja, Indonesia.

Iya, sekali lagi, tentu saja. Hal apakah yang kira-kira tak dapat memancing kehebohan dan memantik keriuhan di Indonesia?  Saya kira nyaris tidak ada. Mobil produksi baru heboh. Telepon selular produksi baru, juga heboh. Jalan tol baru, tak kalah heboh. Polisi wanita cantik, tukang getuk cantik, tukang pecal cantik, tukang pel kamar mandi rumah makan cantik, penjaga pintu kereta api cantik, makin heboh.

Pun dari ranah hiburan. Ada Norman Kamaru yang melakukan lip sync lagu India. Ada Sinta dan Jojo. Ada Sualudin alias Udin Majnun alias Udin Sedunia. Kita juga pernah mengenal Mbah Surip. Sebelum Tak Gendong ke Mana-mana, lagunya yang enteng belaka dan dicurigai plagiat oleh Remy Sylado, itu direkam dan dibikinkan video klipnya, tidak banyak yang mengenal dia.

Kecuali barangkali mereka yang sering datang ke Pasar Seni Ancol, tempat laki-laki lucu itu menjalani aktrivitas berkeseniannya, yang juga sekaligus menjadi tempatnya tidur. Tidak ada tempat khusus. Jika malam tiba, atau tepatnya selepas tengah malam tiba, Mbah Surip akan menelentangkan tubuhnya di mana pun dia suka.

Namun setelah lagunya meledak, Mbah Surip berubah jadi superstar. Hingga puncaknya, tatkala ia kemudian meninggal dunia, tak kurang Presiden Indonesia ketika itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), menyampaikan ucapan belasungkawa secara resmi, belasungkawa dalam status sebagai presiden, yang dipancarluaskan lewat televisi. Padahal di saat yang hampir bersamaan, Indonesia harus kehilangan penyair besar yang nama dan karya-karyanya diakui dunia internasional, WS Rendra. Dan SBY, ternyata, menepikan (atau jangan-jangan melupakan?) Rendra.

Kehebohan dan keriuhan yang sama juga pernah dipicu oleh telenovela-telenovela Meksiko, sinetron-sinetron "hidayah", dan paling belakang (dan masih berlangsung), program musik dan komedi garing yang dibesut pembawa acara keroyokan, serta opera sabun Turki dan India.

Sekarang Pokemon Go mulai masuk ke lingkaran kehebohan dan keriuhannya itu. Barangkali memang tidak dalam waktu dekat dapat meruntuhkan eksistensi Fatmagul dan Uttaran, yang oleh penontonnya yang sebagian besar ibu rumah tangga (serta para suami yang mengaku terpaksa menonton demi cinta dan keharmonisan keluarga), diperlakukan secara istiqomah. Namun pelan namun pasti akan menuju ke sana. Jika pun tidak, lantaran sifatnya yang menuntut banyak gerak, Pokemon Go akan membangun lingkaran kehebohan dan keriuhannya sendiri.

Di lain sisi, seperti yang juga sudah menjadi kelaziman di negeri terkasih ini, heboh dan riuh Pokemon Go mengiringi hadirnya pandangan-pandangan yang dikemukakan oleh para pengamat dunia akhirat, baik yang sudah karatan dan kawakan maupun yang baru lahir. Pandangan- pandangan menyangkut masa depan anak bangsa yang dengan cara menakjubkan kemudian melesat-lesat ke arah isu kapitalisme dan kolonialisme baru, bahkan perkara dosa pahala yang bermuara pada surga dan neraka.

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved