Ngopi Sore

Kado Hari Merdeka untuk Archandra dan Gloria

Archandra Tahar didepak dari kursi menteri, Gloria sempat didepak dari tim Paskibraka. Keduanya gara-gara kewarganegaraan.

Kado Hari Merdeka untuk Archandra dan Gloria
TRIBUNNEWS/HERUDIN
Gloria Natapradja Hamel berpelukan dengan rekannya usai bertugas dalam tim Bima yang bertugas menurunkan bendera pusaka di Istana Merdeka, Jakarta, Rabu (17/8/2016). Gloria yang sempat dikeluarkan dari tim Paskibraka karena status kewarganegaraan akhirnya kembali ke tim dan bergabung pada Paskibraka Istana dalam posisi penjaga gordon. 

JELANG hari merdeka, 17 Agustus, tahun ini, hari-hari kita diriuhkan oleh silangpendapat perihal dua anak bangsa yang ke-Indonesia-annya diragukan. Keriuhan kian menjadi lantaran keduanya berada di pusat kesibukan negara.

Anak bangsa pertama bernama Archandra Tahar, Menteri Energi dan Sumberdaya Mineral (ESDM). Anak kedua Gloria Natapraja Hamel, anggota tim Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka). Mereka "didakwa" cuma setengah Indonesia, lantaran memegang paspor negara lain, dan oleh sebab itu didepak dari posisi masing-masing.

Archandra Tahar diributi sebab terungkap bahwa ia ternyata berpaspor ganda: Indonesia dan Amerika Serikat. Dia pergi ke Amerika tahun 1996 untuk kuliah S2 yang kemudian dilanjutkan S3. Pascamenyelesaikan kuliah ia bekerja di sana.

Tahun 2012, Archandra dinaturalisasi menjadi warga Amerika Serikat. Paspornya invalid (masa berlaku habis) tahun 2017. Uniknya, ia juga memegang paspor Indonesia yang juga invalid di tahun yang sama. Konon menurut informasi-informasi beredar, beberapa bulan sebelum Pemerintah Amerika melakukan naturalisasi terhadap dirinya, Archandra kembali ke Indonesia untuk mengurus paspor.

Kita sudah tahu bagaimana akhirnya. Archandra, ahli perminyakan, harus menepi. Presiden Joko Widodo memberhentikan dia dari jabatan yang baru diembannya selama 20 hari. Tersingkat sepanjang sejarah Republik Indonesia.

Blunder Jokowi? Barangkali demikian. Saya kira, dalam hal ini dia memang kurang jeli dan mengangkat menteri yang memiliki kelemahan yang fatal. Padahal di sisi lain, Jokowi punya tujuan besar. Tepatnya, perang besar, melawan bandit-bandit yang selama berpuluh-puluh tahun menguasai dan meraup untung gila-gilaan dari sektor minyak dan gas.

Untuk itu, dia butuh panglima yang tidak memiliki kaitpaut bisnis dan politis dengan para bandit ini. Panglima yang juga merupakan outsider, orang yang berada di luar garis lingkaran bandit, lingkaran di mana --sudah jadi rahasia umum-- banyak terdapat pejabat dan politisi di dalamnya.

Jokowi memilih Archandra Tahar. Nama yang sangat asing di belantika bisnis dan politik di Indonesia. Pilihan yang menjanjikan, pada awalnya. Iya, pada awalnya, sebelum kemudian, tiba- tiba saja melesat isu perihal kewarganegaraan. Archandra "didakwa" sebagai Warga Negara Amerika Serikat dan "vonisnya" jelas, dia harus beranjak dari kursi menteri.

Satu pukulan telak untuk Archandra. Pukulan KO untuk Jokowi. Kilah perihal ke-Indonesia-an dengan mengedepankan garis keturunan Archandra Tahar sebagai putera Minang tulen, pemeluk Islam yang taat, beristrikan perempuan muslim berhijab dan dua anak perempuan yang juga berbusana seperti ibunya, tidak cukup kuat untuk menghempang desakan yang mengatasnamakan hukum dan perundang-undangan.

Gloria didepak dari tim Paskibraka dengan pengatasnamaan yang sama. Dia memegang paspor Perancis dan Indonesia. Namun ada dua perbedaan kasus Gloria dengan kasus Archandra. Pertama, Gloria memang berdarah campuran. Setengah Perancis, setengah Jawa. Ayahnya bernama Didier Andre Aguste Hamel sedangkan ibunya Ira Hartini. Paspor Perancis yang dipegang Gloria valid sampai 20 Februari 2019. Perbedaan kedua, Gloria masih berusia 16.

Perbedaan kedua inilah yang kemudian memicu keriuhan. Pendepakan Gloria dari tim Paskibraka dinilai tidak tepat lantaran dia semestinya tidak dikategorikan sebagai "orang asing". Peraturan hukum dan perundang-undangan Indonesia menyatakan demikian. Bahwa anak hasil kawin campur dapat memilih kewarganegaraan hingga yang bersangkutan berusia 18.

Karena itu pula, atas dasar ini, dia tidak dapat dikategorikan sebagai Warga Negara Perancis. Paspor Perancis yang ada padanya, tidak seperti Archandra Tahar, bukan merupakan "dokumen identitas", melainkan sekadar "dokumen kelahiran".

Terlepas benar atau tidaknya pendapat ini, kita sudah tahu bagaimana akhirnya. Di hari merdeka, 17 Agustus, Archandra Tahar yang "didakwa" setengah Amerika, ternyata, masih berada di Jakarta. Dia belum terbang ke Washington untuk bertemu Barack Obama, atau merangsek mendekati Hillary Clinton atau Donald Trump. Di hari merdeka, kurang lebih satu jam sebelum gelar penurunan bendera, dia datang ke Istana Negara. Mengenakan batik, sebagai orang biasa? Untuk apa? Archandra tidak memberitahu.

Berjarak beberapa puluh meter darinya, Gloria memamerkan senyum lebar di depan puluhan juru foto. Ada kebeningan yang mengaca di matanya. Gloria akhirnya kembali ke tim, atas izin khusus dari Jokowi. Dia telah menerima kado hari merdeka, yang tentu saja sebagaimana diterima Archandra pula, sulit untuk dilupakan sepanjang hidupnya.

twitter: @aguskhaidir

Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved