Ngopi Sore
Pelacur Anak untuk Bapak-bapak Homo
Kelompok pendukung dan kelompok penolak homoseksual sama-sama bersikeras dengan pandangan masing-masing.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
SUNGGUH miris bahwa di Indonesia, perkara yang berkaitpaut dengan kaum homoseksual tidak pernah beringsut lebih jauh dari seks. Padahal ada banyak potensi lain di berbagai bidang yang termungkinkan untuk diperbincangkan. Potensi-potensi yang jelas-jelas menunjukkan bahwa kaum homoseksual sama bergunanya dengan kaum heteroseksual.
Anda yang pernah menonton Dallas Buyer Club, Brokeback Mountain, Concussion, The Kids Are All Right, atau film-film seperti Kiss of Spiderwoman, Boys Don't Cry, dan Danish Girl, barangkali akan paham bahwa seks bukan merupakan aktivitas utama dalam hidup kaum homoseksual. Sebagaimana kaum hetero, seks sekadar "bumbu penyedap". Bahkan apa yang disebut sebagai orientasi seksual ternyata tidak selalu berbanding lurus dengan perilaku seksual.
Tapi begitulah. Apa boleh buat, potensi-potensi lain yang menarik untuk jadi perbincangan akhirnya teredam lantaran yang lebih sering (untuk tidak menyebutnya nyaris selalu) mencuat adalah seks. Dalam hal ini --sudah barang tentu-- seks yang di mata kaum heteroseksual (dan juga di kitab-kitab suci agama manapun) merupakan seks menyimpang dan yang terjadi kemudian adalah debat-debat yang tak berujung.
Kelompok pendukung dan kelompok penolak homoseksual sama-sama bersikeras dengan pandangan masing-masing. Kelompok yang satu mengedepankan Hak Azasi Manusia, sedangkan kelompok kontra menjadikan agama dan budaya, yang mengerucut kepada satu kata kunci: moralitas, sebagai tolok ukur yang sahih.
Saya tidak masuk ke dalam kedua kelompok ini. Tidak mendukung tidak pula menentang. Saya punya banyak kawan homoseksual sebagaimana saya berhubungan baik dengan teman-teman lain yang heteroseksual. Bahkan saya tahu, ada juga di antara teman-teman saya yang biseks, 'asedese' kata pelawak Karjo almarhum, depan bisa belakang bisa.
Saya tidak menentang keberadaan homoseksual, tidak pernah menentang LGBT (Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender) sebagai kaum-kaum. Pendapat saya belum berubah. Bahwa menjadi Lesbian, Gay, Biseksual, dan Transgender, menjadi heteroseksual, homoseksual, atau aseksual sekalipun, adalah pilihan-pilihan untuk hidup. Perkara pilihan ini benar atau salah, saya kira itu urusan Tuhan.
Maka tiap kali keriuhan yang menyoal kaum homoseksual melesat dan saya gagal untuk mencari simpul pendapat dengan kawan-kawan atau siapapun (dari kedua kelompok tadi) yang mengajak berdiskusi, yang bisa saya lakukan adalah memandangnya sekadar sebagai humor.
Ada banyak homor yang menjadikan kaum homoseksual sebagai topik. Ini satu di antaranya, berjudul "Perampok Homo".
Tersebutlah sepasang suami-istri yang rumahnya disatroni perampok. Seorang laki berbadan tinggi besar, brewokan, dan sudah sepuluh tahun mendekam di penjara lantaran terlibat kasus pembunuhan berencana. Hukumannya masih tersisa 20 tahun dan 24 jam sebelumnya dia berhasil melarikan diri.
Suami istri ini ketakutan setengah mati. Terlebih-lebih setelah menguras harta benda mereka, perampok itu mendekati istri pemilik rumah yang berada dalam keadaan terikat. Setelah itu dia pergi meninggalkan kamar, setelah sebelumnya menanggalkan celana. Sang suami yang melihat kejadian itu bilang: "Sayangku. Aku lihat dia menciummu. Selama di penjara dia tidak pernah bercinta. Kalau dia menginginkanmu, biarkan saja. Jangan dilawan, supaya kamu selamat. Kuatkan hatimu, Sayang. Aku bisa mengerti."
Istrinya menggeleng. "Tadi dia tanya apakah kita punya lotion atau semacamnya. Aku bilang ada di kamar sebelah dan dia sekarang sedang mengambilnya. Sayangku, sebenarnya dia tidak menciumku. Dia cuma berbisik di telingaku. Katanya, selama di penjara dia selalu bercinta dengan laki-laki dan itu membuatnya tidak lagi tertarik pada perempuan. Tadi dia bilang kamu tampan sekali. Kalau dia menginginkan kamu, biarkan saja, turuti kemauannya dan jangan dilawan, daripada kamu celaka. Kuatkan hatimu, Sayang. Aku bisa mengerti."
Saya juga beberapa kali memutar rekaman pertunjukan panggung standup comedy Abdel Achrian. Perihal ciri khas kaum homoseksual yang memakai anting-anting di sebelah kanan. Abdel memaparkan, ia sempat meragukan ciri ini lantaran seorang kawannya, yang ia tahu benar memiliki kecenderungan homo, justru beranting-anting di telinga sebelah kiri. Abdel pun bertanya dan kawannya itu menjawab bahwa dia homo kidal.
Namun sampai pada titik-titik tertentu, humor memang sama sekali tidak dapat lagi dikedepankan sebagai reaksi. Menjadi homoseksual adalah pilihan. Tapi merayakan pilihan sebagai homoseksual dengan cara mencelakai orang lain adalah perbuatan jahanam.
Di Cipayung, Jawa Barat, dua laki-laki berinisial AR dan U ditangkap lantaran mempekerjakan puluhan remaja laki-laki sebagai pelacur untuk kaum homoseksual. Pengakuan keduanya, bisnis pelacuran ini sudah berlangsung menahun dan kebanyakan pelanggan mereka adalah lelaki (homo) paruh baya.
Tentu, tak boleh ada humor untuk kejahatan seperti ini. Tidak pantas juga ada kilah-kilah yang gagah atau mengharukan yang mengatasnamakan Hak Azasi Manusia. Polisi bilang, jika terbukti bersalah, para pelaku baik mucikari maupun pelanggan dapat dikenakan pidana berdasarkan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 2016 tentang Perubahan Kedua UU No 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Peraturan yang kerap disebut Perppu Kebiri lantaran di dalamnya terdapat poin yang menyatakan adanya pemberatan hukuman terhadap pelaku kejahatan seksual, antara lain dengan kebiri kimiawi.
Jika hukuman ini diterapkan pada jahanam-jahanam tengik itu, saya sepenuhnya setuju.
twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/sexworker_20160901_181855.jpg)