Ngopi Sore

Makanan Kedaluwarsa dan Pikiran Kedaluwarsa

Makin ke sini, kedaluwarsa pikiran makin merebak, menjelmakan semacam epidemi.

Makanan Kedaluwarsa dan Pikiran Kedaluwarsa
http://brandfiercely.com
ILUSTRASI 

TIBA-tiba Pizza Hut yang sangat digdaya terguncang. Bukan oleh pesaing-pesaingnya. Puluhan merek dagang pizza terdapat dan bertarung di panggung bisnis kuliner di Indonesia, namun sampai sejauh ini, belum satupun yang mampu menyaingi Pizza Hut. Untuk sekadar mendekati popularitasnya pun tidak.

Kebanyakan tumbang langsung tumbang di "ronde pertama". Sebagian masih bertahan dengan nafas yang berkali-kali nyaris putus. Sementara gerai-gerai baru Pizza Hut, perusahaan raksasa yang memulai torehan sejarahnya di Kansas Amerika Serikat pada tahun 1958, terus tumbuh bagai jamur di musim hujan. Bahkan sampai ke kota-kota kecil.

Jika bukan pesaing, lantas dari mana guncangan yang melimbungkan Pizza Hut ini datang? Ternyata tak jauh. Dari dapur mereka sendiri. Laporan investigasi kolaboratif Tempo dan BBC mengungkap fakta mengejutkan. Pizza Hut menggunakan bahan kedaluwarsa untuk membuat pizza mereka yang melegenda. Selain Pizza Hut, bahan-bahan kedaluwarsa juga ditemukan di Marugame Udon, restoran franchise Jepang.

Di seluruh penjuru dunia, termasuk Indonesia, bisnis restoran dan kafe menggantungkan nasib pada dapur. Bukan cuma produk yang dihasilkannya. Melainkan juga kondisinya. Lengkap atau tidak. Bersih atau tidak. Sebab kebersihan dapur bisa dijadikan cerminan kualitas produk yang dihasilkan.

Di Indonesia, dapur yang jorok, dapur yang menjadi ruang pembantaian bagi tikus, kalong, atau binatang-binatang lain yang terlanjur direpresentasikan jorok, dapur di dalamnya menyimpan jampi-jampi, siluman, dan benda atau mahluk gaib lain, dapat menjadi petaka besar. Tatkala isu seperti ini berkembang, terlepas benar atau tidaknya, akan segera berdampak signifikan. Terutama dalam hal jumlah pelanggan.

Namun memang tidak sering ditemukan kasus penyusutan mendadak jumlah pelanggan dari restoran atawa kafe lantaran isu penggunaan bahan-bahan kedaluwarsa. Entah lantaran yang seperti ini tidak dianggap terlalu penting atau memang kurang pemahaman. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak restoran menjual makanan yang sudah bermalam. Bahkan ada yang lebih dari satu malam. Makanan-makanan yang dipanaskan berkali-kali, digoreng berkali-kali, dan baru dibuang jika sudah basi.

Cara pandang dan reaksi dan perlakuan masyarakat terhadap restoran atau kafe (paling sering restoran) yang melakukan praktik-praktik ini, kita tahu, berbeda dibanding yang terindikasi berdapur jorok atau yang pemiliknya diisukan memiliki prewangan. Meski sudah banyak saksi, toh, pengunjung tetap saja berdatangan. Tetap saja ramai.

Bagaimana dengan Pizza Hut? Apakah kasus ini akan menyurutkan jumlah pelanggan mereka? Belum ada hitung-hitungan dilakukan. Pastinya, Pizza Hut tidak pernah menjual makanan yang dipanaskan, terlebih-lebih yang basi. Hanya saja, bahan bakunya yang diduga "basi". Kedaluwarsa, sudah lewat tenggat pakai.

Mengacu pada laporan Tempo dan BBC yang melakukan investigasi berdasarkan informasi dari seorang bekas petinggi Sriboga Food Group, perusahaan yang membawahi merek Pizza Hut di Indonesia, diduga beberapa bahan untuk membuat pizza dan menu lain diperpanjang masa kedaluwarsanya. Di antaranya yang tercatat Veggie Chicken Sausage (sosis ayam dan sayuran), Carbonara Sauce Mix (adonan saus karbonara), Puff Pastry (bahan pembuatan kue), Brownies Mix (adonan brownies), Marinade Citrus Marinade, Satay Sauce, Saos Tempura, dan Saus XO. Ditemukan pula perpanjangan kedaluwarsa untuk Bonito Powder, bahan untuk membuat kuah ikan di restoran Marugame Udon.

Apakah memperpanjang masa kedaluwarsa ini merupakan berbahaya? Logikanya demikian. Tapi ada beberapa pendapat yang berbeda. Pandangan yang menjadikan obat-obatan sebagai tolok ukur. Disebutkan, obat yang sudah kedaluwarsa masih dapat, dan aman, dikonsumsi hingga satu dua bulan berselang. Pertanyaannya, apakah sifat kedaluwarsa obat sama dengan kedaluwarsa bahan makanan?

Halaman
12
Penulis: T. Agus Khaidir
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved