Nobel untuk Bob Dylan

Dia secara sadar mengambil jarak dari lingkaran mapan. Menjadi pemrotes.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
rollingstone.com

BARANGKALI tak pernah ada yang menyangka Komite Nobel untuk kategori Literature (Sastra) tahun 2016 akan sampai pada keputusan seperti ini.

Bukan Haruki Murakami, ternyata. Penulis Jepang yang masyhur, populer, dan paling dijagokan, sebagaimana tahun 2015 dan 2014, lagi-lagi harus gigit jari. Bukan Milan Kundera, Ali Ahmad Said Esber (Adonis), Ngugi wa Thiong'o, dan Salman Rushdie serta sejumlah nama lain yang juga digadang-gadang bakal memperoleh penghargaan prestisius ini.

Ternyata, panitia Nobel memilih Robert Allen Zimmerman. Lewat website resmi mereka, sekitar pukul 18.00 (WIB), panitia Nobel mengumumkan nama ini.

Nama yang asing? Tentu saja. Tahun 1941, Robert Allen Zimmerman lahir di Duluth, Minnesota, Amerika Serikat. Nama ini dipakainya sampai tahun 1962, di mana dia mulai secara regular tampil di panggung-panggung musik folk mengikuti inspirasi terbesarnya, Woody Guthrie. Di panggung-panggung yang kebanyakan gelap dan kumuh namun riuh itu, Robert Allen memperkenalkan nama barunya, Bob Dylan.

Dalam wawancara di CBS News, Dylan bilang. "You're born, you know, the wrong names, wrong parents. I mean, that happens. You call yourself what you want to call yourself. This is the land of the free."

Satu argumentasi yang bagi kalangan konservatif dan agamawi barangkali akan terasa "mengganggu". Kelahiran yang salah, nama yang salah, bahkan orang tua yang salah. Mungkin takdir yang salah. Dylan bilang, kau dapat melakukan segala kebebasan atas dirimu sebab ini adalah tanah kebebasan. Dan dia memilih nama yang sama sekali baru. Bob adalah sapaan yang kerap datang dari ibunya, Beatrice Stone. Dylan? Bob mencomotnya dari Dylan Thomas, penyair Wales.

Agak aneh. Bob Dylan sejak muda secara sadar menempatkan dirinya sebagai "pihak luar". Dia secara sadar mengambil jarak dari lingkaran mapan. Menjadi pemrotes. Menjadi pengkritik. Menjadi pengecam. Jejak yang sebenarnya tidak dapat ditemukan pada Dylan Thomas. Sulit menghubungkan secara terang sajak-sajak penyair yang sakit-sakitan dan meninggal mengenaskan karena ketergantungan alkohol di New York dalam usia 39 ini dengan kebengalan Bob.

Namun barangkali hubungan ini terletak pada upaya untuk mengetengahkan pergolakan. Jika Dylan Thomas menyelami jiwanya sendiri lalu mengeluarkan keluh kesah dan derita dan menempatkannya sebagai pelantang yang menyela keriuhan di sekitarnya, maka Bob melakukan kebalikannya. Dia menjadikan pergolakan yang terjadi di dunia sebagai cerminan, lantas berkomentar atasnya.

Mama, put my guns in the ground
I can't shoot them anymore.
That long black cloud is comin' down
I feel I'm knockin' on heaven's door.

Bob Dylan konsisten melakoni peran sebagai pemrotes, pengeritik, dan pengecam sampai hari ini. Mei 2016, dia melepas album rekaman ke 37, Fallen Angels. Tidak lagi terlalu keras. Tapi tetap menohok. Dylan membungkus protes, kritik, dan kecamannya dengan syair-syair puitik yang lebih halus.

Apakah lantaran konsistensi ini Komite Nobel memilih Bob Dylan sebagai penerima Nobel Sastra? Boleh jadi. Lagu-lagu Bob boleh disebut sebagai penyuara zaman. Mewakili zaman. Bob memiliki lagu untuk peristiwa apapun di dunia. Terutama yang berkaitpaut dengan perang, bencana alam, dan pelanggaran-pelanggaran hak azasi manusia. Lagu-lagu yang bukan sekadar ada. Bukan sekadar menyelip mencari-cari panggung.

Blowin' in the Wind dan The Times They Are Changin', misalnya, merupakan "lagu wajib" pergerakan antiperang dan penuntutan hak-hak rakyat. Atau lagu-lagu seperti Mr Tambourine Man, I Want You, It's All Over Now, Baby Blue, Like a Rolling Stone dan Knocking Heaven's Door yang juga "abadi" karena sudah entah berapa ribu kali diaransemen dan dilantunkan ulang oleh penyanyi-penyanyi lain.

Sekali lagi pertanyaannya, apakah lantaran konsistensinya Komite Nobel memilih Bob Dylan sebagai penerima Nobel Sastra? Boleh jadi. Tapi pastinya tak cukup. Sebab jika demikian, maka kalimat bernada sinis yang bertebaran di Twitter pascapengumuman Komite Nobel --di antaranya yang seperti ini: If Bob Dylan can win the Nobel Prize for literature then I think Stephen King should get elected to the Rock N' Roll hall of fame-- akan dapat dibenarkan.

Apa lagi? Syair-syair puitik lagunya yang bersifat naratif dan berima memukau? Mungkin, tapi pastinya tetap tidak cukup. Sebab jika hanya ini, maka Ebiet G Ade, Iwan Fals, dan bahkan Raden Haji Oma Irama pun semestinya bisa mendapatkan penghargaan tersebut.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved