Nobel untuk Bob Dylan
Dia secara sadar mengambil jarak dari lingkaran mapan. Menjadi pemrotes.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir

Lantas apa alasan paling sahih? Terus terang saya tidak tahu. Belum tahu, tepatnya. Dan karenanya tidak berani berpendapat. Sebab orang-orang yang mungkin saja lebih tahu sejauh ini juga berbeda pandangan sebagaimana delapan tahun lalu tatkala Komite Pulitzer memberikan penghargaan khusus untuk Bob.
Salman Rushdie, lewat akun Twitter, menulis: "From Orpheus to Faiz, song & poetry have been closely linked. Dylan is the brilliant inheritor of the bardic tradition.Great choice."
Tapi Gary Shteyngart berpendapat lain. "I totally get the Nobel committee. Reading books is hard," tulisnya. Senada Shteyngart, penulis Inggris Hari Kunzru, juga menyatakan ketidaksetujuan. Ia menyebut pilihan Komite Nobel untuk kategori Sastra tahun ini sebagai pilihan yang paling timpang. "This feels like the lamest Nobel win since they gave it to Obama for not being Bush."
Ah, pada akhirmya saya tak cuma jadi teringat pada Murakami, pada Kundera, Adonis, pada Thiong'o. Terlebih-lebih saya jadi teringat pada Pramoedya Ananta Toer. Novel-novelnya, esai- esainya, laporan-laporan jurnalistiknya. Apakah memang tidak cukup untuk membuat namanya tertera pada secarik kertas berstempel Svenska Akademien itu?
twitter: @aguskhaidir
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/dylan1_20161013_221722.jpg)