Ngopi Sore

Jessica dan Kematian di Olivier Cafe

Apakah Jessica benar pembunuh Mirna? Dia didakwa bersalah. Pun apabila diputuskan sebaliknya, kekaburan tetap menyergap.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP/BAY ISMOYO
JESSICA Kumala Wongso (baju putih), saat digiring turun dari mobil tahanan yang membawanya ke persidangan di PN Jakarta Pusat, kemarin. Jessica dituding dan dinyatakan bersalah membunuh rekannya, Wayan Mirna Salihin. 

SEANDAINYA Agatha Christie masih hidup tentu dia akan datang ke Jakarta dan menghadiri persidangan-persidangan Jessica Kumala Wongso. Dia akan duduk di bangku panjang di antara pengunjung sidang, mencermati keterangan tiap-tiap saksi, juga silang sengkarut pendapat, ceceran, serangan, dan debat antara jaksa, pengacara, dan hakim.

Andaikata Agatha Christie masih hidup tentu dia akan datang ke Jakarta dan duduk di Olivier Cafe. Duduk di kursi yang diduduki Wayan Mirna Salihin sebelum perempuan ini terjerembab terkapar kejang-kejang lalu mati, usai melewatkan beberapa seruputan Vietnamese Iced Coffee ke tenggorokannya.

Agatha Christie, sebagaimana biasa, akan menempatkan dirinya sebagai Hercule Poirot, detektif berkebangsaan Belgia. Atau mungkin dia memilih menjadi Jane Marple. Berbeda dari Poirot yang profesional, Marple, perempuan setengah baya asal Inggris, merupakan detektif amatir yang lebih sering bekerja berdasarkan intuisi keperempuanan. Dan memang, kasus-kasus yang ditangani dan dipecahkan Miss Marple, demikian sapaannya, pada umumnya berkaitpaut dengan perempuan dan persoalan-persoalan keperempuanan, dan karena itu pula, barangkali, dia lebih cocok dipilih Agatha Christie untuk kasus kematian Wayan Mirna Salihin, The Death in Olivier Cafe.

Saya percaya, jika masih hidup Agatha Christie akan datang ke Jakarta. Bahkan tidak cuma dia. Saya kira, Truman Capote juga akan tertarik. Mungkin dia ingin mengulang keberhasilan In Cold Blood. Capote menuliskan novel nonfiksi ini berdasarkan satu kasus pembunuhan di Holcomb, Kansas, lalu mengikutinya secara terus-menerus sejak penangkapan dua pelaku, Richard Hickock dan Perry Smith, pada 30 Desember 1959 hingga mereka dihukum gantung 14 April 1965.

Kasus kematian Wayan Mirna Salihin menarik lantaran penuh misteri. Siapakah pembunuh Wayan Mirna? Sampai hakim mengetuk palu vonis, Kamis, 27 Oktober 2016, kasus ini tidak pernah benar-benar jadi terang.

Apakah Jessica benar pembunuh Mirna? Pun apabila diputuskan sebaliknya, kekaburan tetap menyergap.
Jessica tidak pernah mengaku melakukan pembunuhan. Sejak awal kasus bergulir, pengakuan- pengakuannya konstan, emosinya sangat stabil. Sekali dua kali dia menangis, tetapi itu tidak membuat keterangan-keterangan yang disampaikannya melesat ke arah yang bisa mencuatkan fakta baru. Jadi benarkah Jessica pembunuh Mirna? Jika bukan dia, lalu siapa?

Hanya ada dua orang di dekat Wayan Mirna di detik-detik jelang kematiannya, Jessica dan Hani Boon Juwita. Dari kesaksian-kesaksian di pengadilan maupun keterangan berdasarkan Berkas Pemeriksaan Polisi (BAP), Jessica diketahui datang lebih dulu. Dia memesankan Vietnamese Iced Coffee atawa Es Kopi Vietnam untuk Wayan Mirna, minuman terakhir yang melewati tenggorokannya, yang --di dalam sidang lewat keterangan Hani-- disebut Mirna sebagai minuman yang berasa menjijikkan: "it's awful, that's so bad. Minuman apa ini, parah banget".

Kunci utama dalam menguak kasus kriminal, termasuk pembunuhan, adalah motif pelaku. Richard Hickock dan Perry Smith membunuh Herbert Clutter dan istrinya Bonnie Clutter, serta dua anak mereka, Nancy dan Keyon, karena kegagalan mengendalikan ledakan emosi akibat upaya perampokan yang gagal. Keduanya memiliki persoalan kejiwaan.

Di dalam novel-novel Agatha Christie, misalnya dalam Murder in Orion Express atau Sleeping Murder, baik Hercule Poirot maupun Jane Marple menyelesaikan kasus-kasus yang serba rumit pascamenemukan motif pelaku. Motif, menjadi benang merah yang menghubungkan peristiwa ke peristiwa yang melibatkan pelaku dan orang-orang yang langsung dan tak langsung berhubungan dengan pelaku.

Lalu pertanyaannya, apakah motif Jessica membunuh Mirna? Sempat mengemuka kecurigaan Jessica memiliki dendam terhadap Wayan Mirna. Dendam lantaran asmara. Jessica dan Mirna disebut-sebut sebagai bekas pasangan kekasih dan Jessica tidak dapat menerima kenyataan ketika Mirna memilih menikah dengan Arief Soemarko. Tapi begitulah, sepanjang sidang yang sudah berlangsung entah berapa kali dan secara menakjubkan disiarkan secara langsung oleh sekaligus tiga stasiun televisi, kecurigaan terkait dendam dan kecenderungan perilaku lesbian tidak pernah betul-betul bisa dibuktikan secara terang-benderang.

jess3
JESSICA Kumala Wongso

Lantas, kalau bukan dendam asmara, apa motifnya? Latar belakang apa yang bisa mendorong seseorang mampu dan tega membunuh seseorang yang lain dengan cara memasukkan racun ke dalam minuman untuk kemudian membiarkan yang bersangkutan mati secara perlahan-lahan? Kalau bukan akibat sakit hati yang kelewat dalam, rasanya, sangat tidak mungkin kekejaman yang sempurna seperti ini bisa dilakukan.

Sempat pula muncul kecurigaan terhadap Arief Soemarko. Laki-laki ini dicurigai terlibat pembunuhan Wayan Mirna. Adakah suami yang mampu dan tega membunuh istrinya? Ada, bahkan banyak jumlahnya. Namun sekali lagi, apa motif Arief?

Apakah dendam? Apakah ada konspirasi untuk menguasai harta atau merebut jabatan atau kedudukan? Ataukah terkait perselingkuhan? Jika berselingkuh, dengan siapa? Dalam kasus ini, tentulah dengan perempuan di lingkaran Wayan Mirna: Jessica, Hani, dan Vera Rusli, rekan Mirna yang lain.

jessss
WAYAN Mirna Salihin, Hanie Juwita Boon, Jessica Kumala Wongso, dan Vera Rusli (kiri ke kanan)

Menurut Hani dalam persidangan, mereka berempat membuat grup di aplikasi WhatsApp. Grup yang mereka gunakan untuk saling berbagi cerita dan keluh kesah. Melalui grup ini pula, sebut Hani, beberapa kali Jessica mengajak bertemu. Vera sebenarnya juga diajak untuk bertemu di Oliveir Cafe, namun dia terlambat datang lantaran ada kesibukan yang tidak dapat ditinggalkan. Mirna datang berbarengan Hani.

Nama Arief Soemarko terbawa-bawa setelah ada seorang saksi yang mengaku melihat laki-laki mirip dirinya datang ke kafe tersebut, sehari sebelum Wayan Mirna, Jessica, dan Hani bertemu di sana. Dugaan-dugaan pun melesat liar. Arief dicurigai membuat perjanjian busuk dengan seorang barista (peracik kopi) untuk meracuni Mirna menggunakan larutan sianida. Dengan skenario seperti ini, Jessica jadi tidak bersalah?

Belum tentu. Sebab tanpa informasi dari satu di antara Jessica, Hani, atau Vera Rusli, mustahil bagi Arief untuk tahu lokasi pertemuan mereka. Siapa yang memberitahukan? Bisa Jessica. Bisa juga Hani dan Vera Rusli. Tapi mungkin saja tidak mustahil. Mungkin bukan Jessica, Hani, atau Vera yang memberitahu Arief. Bisa saja, bisa secara kebetulan atau memang disengaja, Arief membuka telepon selular Wayan Mirna, dan saat mengetahui adanya pertemuan tersebut, muncul niatnya untuk menghabisi.

Tapi, lagi-lagi, dugaan sekadar berakhir sebagai dugaan. Motif Arief Soemarko membunuh Wayan Mirna tidak pernah bisa dibuktikan secara konkret. Olivier Cafe dikelilingi CCTV. Mal Grand Indonesia juga disesaki CCTV. Dan dari sekian banyak CCTV, tak satu pun yang merekam keberadaan Arief Soemarko pada hari di mana saksi mengaku melihat lelaki mirip dia datang ke Olivier Cafe.

CCTV ini semestinya bisa menjerat Jessica. Apabila dia yang memasukkan dan mencampurkan larutan sianida ke gelas berisi Vietnamese Iced Coffee, maka tentunya aksi itu akan terekam. Ternyata tidak juga. Memang ada Jessica di rekaman tersebut. Akan tetapi, momentum ini tidak ada.

Jessica terekam di beberapa adegan, namun tidak tampak adanya gerakan yang sangat- sangat sahih yang menunjukkan dia memasukkan sianida ke dalam minuman yang dipesankannya untuk Mirna. Hanya gerakan yang kelihatan seolah-olah sedang mengambil sesuatu dan menuangkan sesuatu. Pun gelagat menggaruk-garuk yang diduga sebagai reaksi yang ditimbulkan oleh bekas larutan sianida yang menetes. Tidak seorang ahli pun berani memberikan kepastian.

Jadi siapa pembunuh Wayan Mirna? Ataukah jangan-jangan dia tidak dibunuh? Apakah mungkin Mirna meninggal oleh sebab-sebab alami? Penyakit, misalnya? Kemungkinan- kemungkinan ini juga sudah dikupas dan dicacah-cacah, termasuk diperiksa oleh kalangan ahli, dan hasilnya, sebagaimana motif Jessica dan Arief Soemarko, tidak ditemukan fakta kebenaran yang meyakinkan.

Pertanyaannya, mengapa Jessica tetap dihukum? Saya tidak tahu persis. Barangkali karena dari sekian motif, hanya motif Jessica yang dinilai paling memungkinkan untuk dijadikan alasan membunuh Wayan Mirna. Kecenderungan yang --setidak-tidaknya-- bisa dicermati dari paparan majelis hakim dalam berkas putusan sepanjang 377 halaman yang dibacakan selama lebih dari empat jam itu.

Putusan sudah dijatuhkan. Jessica Kumala Wongso harus mendekam di tahanan selama 20 tahun. Tapi misteri belum pecah. Apakah Jessica benar-benar pembunuh Wayan Mirna?

Di sidang pembacaan vonis, Jessica, seperti sering diperlihatkannya pada sidang-sidang sebelumnya, bersikap sangat tenang. Ekspresi wajahnya dingin sekali. Gambaran sikap orang yang sungguh-sungguh yakin dirinya tidak salah atau psikopat? Sayang, Agatha Christie dan Truman Capote juga sudah lama mati.

twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved