Hari Sumpah Pemuda
Medan, Siantar dan Aceh Lupakan Amin Nasution Tokoh Sumpah Pemuda Kecuali Wikipedia
Sejarawan Sumatera Utara Ichwan Azhari mengajak untuk mengenal kembali S.M. Amin Nasution.
TRIBUN-MEDAN.com - Dalam rangka hari Sumpah Pemuda yang jatuh pada 28 Oktober hari ini sejarawan Sumatera Utara Ichwan Azhari mengajak untuk mengenal kembali S.M. Amin Nasution.
Siapa Amin Nasution? Apa peranannya dalam Sumpah Pemuda?
Ichwan menyesalkan tak satupun ada nama jalan baik di Kota Pematang Siantar, Kota Medan, maupun di Aceh untuk sekedar mengingat perjuangannya, hingga generasi sekarang terkesan melupakan jasa-jasanya.
Barangkali hanya Wikipedia yang mengingat siapa Amin Nasution, itu pun jika generasi sekarang ingat lalu mengetik namanya di mesin pencari Google.

Presiden Soekarno didampingi Gubsu pertama Mr.SM.Amin Nasution (pakai peci kiri) di Banda Aceh. Dalam masa pemerintahan Soekarno, hanya Mr.SM Amin lah satu satunya Gubernur yang pernah dilantik langsung oleh Presiden.
Maka muncullah kalau Amin Nasution merupakan Gubernur Sumatera Utara dan Riau yang Pertama. Ia juga merupakan tokoh pergerakan Sumpah Pemuda.
Sementara itu Ichwan menguraikan dengan detail peranan Amin Nasution dalam dinding akun Facebooknya. Begini isi postingannya untuk sekedar mengingatkan dan pentingnya Amin Nasution di Sumatera Utara:
Amin Nasution diangkat sebagai Gubernur Muda Sumatera Utara pada tanggal 14 April 1947 oleh Wakil Presiden Mohammad Hatta dan dilantik di ibukota Sumatera Utara di Pematang Siantar saat kota Medan diduduki Belanda.
Saat itu Belanda mengatakan kalau Republik Indonesia sudah kiamat, ibu kota negara, Jakarta, Jogya sudah kami duduki, semua pemimpin termasuk Bung Karno dan Bung Hatta sudah kami tangkapi. Indonesia mati suri, Indonesia sudah tidak ada.
Mr.SM Amin Nusution menantang klaim Belanda itu.
Dia seakan proklamirkan, pusat boleh ditawan, Sumatera Utara sebagai bagian RI masih ada, pemerintahan daerah yang sah berjalan di sini.
Tiga bulan menjalankan pemerintahan sipil di Pematang Siantar, ketika para pejuang bersenjata kalah dan gagal mempertahankan Ibu Kota Sumut itu, dia ditangkap Belanda, diinterogasi di Hotel Siantar, "RI sudah tidak ada kenapa ente ngaku sebagai Gubsu yang sah", begitu kira kira Belanda menyekapnya.
Lalu dia ditawan, dibawa ke Medan pada bulan Juli 1947. Tapi licin bagai belut dia berhasil melarikan diri ke Penang untuk masuk ke Kuta Radja (Aceh) dan melanjutkan roda pemerintah sipil RI di Sumut.
Belanda tidak berani masuk Aceh untuk memburunya. Lalu dengan cerdik dia membentuk parlemen (DPRD) pertanda adanya pemerintah yang lengkap.
Dia undang tokoh,wakil wakil dari keresidenan Tapanuli, Sumatera Timur dan Aceh ke tempat tersembunyi di Tapak Tuan untuk dia lantik dan dia sebagai ketuanya, yang masa itu dimungkinkan.
Di Koeta Radja/Banda Aceh (waktu itu Aceh bagian dari Provinsi Sumatera Utara) dia menerbitkan dua seri uang perlawanan Republik Indonesia (Uripsu) yang berlaku untuk seluruh daerah Sumatera Utara.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/cover-buku-tentang-mrsm-amin-nasution-facebookichwan-azhari_20161028_135704.jpg)
