Ngopi Sore

Sumpah, Kami akan Terus Mengingat Munir

Momentum-momentum sejarah yang diperingati setiap tahun, termasuk Sumpah Pemuda, makin jatuh kepada rutinitas seremonial

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
MUNIR Said Thalib 

HARI ini 88 tahun lalu, buku-buku sejarah yang (dalam perkara ini) barangkali tidak terlalu ngibul, mencatat satu peristiwa di Batavia yang disebut 'Kongres Pemuda II' . Peristiwa yang kemudian selama bertahun-tahun diperingati dengan nama menggetarkan: Hari Sumpah Pemuda --satu rumusan yang pada Kongres Bahasa Indonesia II di Medan tahun 1954 diubah judulnya dari versi asli 'Poetoesan Congres'.

Saya ingin berhenti bicara sejarah sampai di sini. Sebab jika dilanjutkan, saya khawatir terjebak pada pemaparan-pemaparan sok pintar dan sok ilmiah yang hanya akan berakhir sebagai debat kusir seperti kerap dipertontonkan kaum-kaum "kelas menengah ngehe" di Twitter. Soal sejarah, tentu saja perlu. Sangat perlu malah. Akan tetapi, ikut-ikutan pamer pengetahuan terbatas yang cuma diperoleh lewat pencarian di Google, saya kira sangat konyol dan memalukan.

Seorang kawan saya bilang, makin ke sini, momentum-momentum sejarah yang diperingati setiap tahun, termasuk Sumpah Pemuda, makin jatuh kepada rutinitas seremonial.

Pengumpulan- pengumpulan massa: siswa sekolah berbagai tingkatan, TNI/Polri, dan pegawai negeri. Upacara-upacara yang dihadiri pejabat. Fragmen-fragmen, diskusi-diskusi, seminar-seminar, unjuk rasa. Yang disebut paling belakang, malah lebih gawat. Emosi yang tidak terkendali, entah lantaran terlalu bersemangat atau memang kurang pikir, membuat aksi-aksi ini seringkali berujung kerusuhan.

Tapi hal itu pun tidak akan saya bahas di sini. Saya tidak akan mengemukakan kecurigaan perihal pergeseran makna, betapa setelah 88 tahun, isi dan semangat pertemuan-pertemuan pemuda tak lagi beredar di seputaran isu kebangsaan, melainkan sekadar kongko-kongko yang paling jauh membahas gemerlap sepakbola Eropa, artis Korea, atau perihal telur ceplok yang sukses dimasak adik Raffi Ahmad.

Tentu, ada juga yang bicara tentang perkara-perkara yang serba serius dan bikin pusing kepala. Perkara-perkara besar dan mengesankan kecerdasan. Pemuda-pemuda yang bicara politik dengan semangat untuk melakukan perubahan. Pemuda-pemuda yang bicara birokrasi. Pemuda-pemuda yang bicara bisnis dengan semangat untuk menggapai kesuksesan dan menjadikan para multimulyuner semacam Bill Gates dan Jack Ma sebagai role model.

Namun sekali lagi, saya tidak akan membahasnya. Saya bahkan tidak akan membahas apa-apa. Saya cuma ingin mengingat-ingat. Bahwa di antara perkara-perkara yang membentuk dan membangun kebangsaan, kebahasaan, dan ketanahairan, terdapat satu perkara yang sampai hari ini tidak pernah bisa selesai, keadilan.

Kemarin di Jakarta, Jessica Kumala Wongso dijatuhi hukuman 20 tahun karena diputuskan bersalah melakukan pembunuhan berencana terhadap Wayan Mirna Salihin. Dan Twitter, Facebook, dan media-media sosial lain, menjadi panggung yang riuh oleh pendapat, yang sebagian besar mencerca vonis hakim. Kaum-kaum "kelas menengah ngehe" bahkan melontar kesimpulan: "keadilan telah diberaki!"

Aih, tanpa sedikitpun mengurangi keprihatinan atas peristiwa di Olivier Cafe yang membuat Wayan Mirna Salihin kehilangan nyawa, saya kira kesimpulan ini hanya separuh gagah. Hanya separuh lantaran terkesan ahistoris. Jika lantaran vonis Jessica, yang pada dasarnya belum tentu keliru juga, keadilan disebut telah diberaki, maka atas terbunuhnya Munir Said Thalib, apa perlakuan yang pantas disebutkan untuk keadilan?

Munir mati diracun di udara, pada hari Selasa 7 September 2004, dalam pesawat Garuda, 40 ribu kaki di atas tanah Rumania. Pemeriksaan darah Munir menunjukkan angka 83% Arsenik 3 dan 17% Arsenik 5.

Konsentrasi Arsenik 3 sebanyak 0,460 miligram per liter itu menyebabkan blokade reaksi detoksifikasi, lantas terjadi penekanan ekskresi arsenik melalui ginjal. Munir tidak sempat mendarat di Belanda, tempat yang ia tuju untuk melanjutkan pendidikan.

Siapa pembunuh Munir? Persis vonis Jessica Kumala Wongso yang diragukan, orang yang didakwa terlibat pembunuhan ini, Pollycarpus Budihari Priyanto, juga disangsikan. Pollycarpus, ketika itu pilot senior Garuda Indonesia, diyakini banyak orang tidak lebih dari "perpanjangan tangan" otak pembunuhan.

Dia cuma membantu sebagai penghubung, bukan eksekutor. Lalu siapa pembunuh Munir? Siapa eksekutor dan siapa pula dalangnya?

MUNIR3
POLLYCARPUS Budihari Priyanto

Seno Gumira Ajidarma menulis cerita berjudul Aku, Pembunuh Munir di Kompas. Tapi cerita ini, tentu saja, tidak mengungkap apa-apa selain menambah-nambah kadar kecurigaan terhadap orang-orang yang selama ini sudah terlanjur dicurigai sebagai pembunuh Munir.

Goenawan Mohamad menulis esai tentang Munir (sampai dua kali) di Tempo. Tapi esai-esai ini juga tak menerangjelaskan apa-apa kecuali menambah-nambah kadar kesedihan dan pemakluman (yang dipaksakan) terhadap satu perkara: betapa di negeri orang-orang yang dianggap berbahaya memang harus selalu sangat berhati-hati lantaran setiap saat bisa dibungkam.

Harapan tinggal pada kerja Tim Pencari Fakta (TPF) Munir. Konon mereka telah bekerja dan konon pula hasilnya sudah diserahkan pada Presiden Indonesia keenam, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Presiden ketujuh, Joko Widodo (Jokowi), atas desakan banyak pihak yang mengingatkan pada janji kampanyenya, membuka kembali kasus ini. Hasil kerja TPF Munir, yang ternyata disimpan oleh SBY (atau pihak yang dipercaya SBY?), disebut-sebut sudah diserahkan (pada tim yang dibentuk Jokowi) meski dalam bentuk fotokopian --lantaran aslinya dikatakan hilang.

MUNIR2

Bagaimana berkas teramat penting ini bisa hilang otak saya tak sanggup mencerna dan karena itu sebaiknya tidak saya bahas. Barangkali SBY (atau pihak yang dipercaya SBY?) betul-betul alpa, lupa meletakkan dan menyimpannya di mana, atau mungkin saja memang menganggapnya tidak lebih penting dari contekan kunci gitar lagu Kangen Band.

Sekali lagi saya tidak tahu dan tak berani menebak-nebak. Oleh sebab itu, saya, dengan kapasitas sebagai pemuda yang sudah tidak lagi terlalu muda, cuma ingin mengubah kata 'saya' dengan 'kami'. Bahwa kami akan terus mengingat Munir. Apakah boleh?

twitter: @aguskhaidir

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved