Ngopi Sore
4 November: Ujian untuk Indonesia
Saat negara-negara lain, bangsa-bangsa lain, melaju makin kencang, waktu dan perhatian kita tersita untuk membangkitkan diri dari kehancurleburan.
Penulis: AbdiTumanggor | Editor: T. Agus Khaidir
JELANG pemilihan Gubernur Jakarta 2017 situasi politik di Indonesia memanas. Silang sengkarut "pertempuran" melesat ke bidang dan sendi kehidupan lain di negeri ini. Lantas memengaruhi dengan sangat kuat.
Satu di antara lesatan tersebut mewarnai kehidupan kita di hari-hari belakangan. Kita di sini adalah seluruh Warga Negara Indonesia (WNI) yang terkoneksi dengan kabar-kabar dari Jakarta (lewat media apapun).
Di Medan, di Sabang, di Marauke, atau di manapun yang dapat mengakses kabar-kabar paling anyar perihal pemilihan Gubernur Jakarta. Ajang ini, suka tidak suka, ternyata memang sudah tidak lagi terbatas pada kepentingan warga Jakarta.
Semestinya ini jadi perkembangan menggembirakan. Setidak-tidaknya menunjukkan betapa politik sudah tak lagi eksklusif milik kelompok-kelompok tertentu. Politik sudah memasyarakat layaknya sepakbola dan musik dangdut.
Namun sayangnya, makin ke sini, yang makin menyeruak justru kekhawatiran. Bukan kecerdasan. Melainkan ancaman yang potensial sangat pahit. Politik di Jakarta, makin ke sini, menjelma ajang untuk menguji keindonesiaan.
Tanggal 4 November 2016 digadang ribuan orang dari sejumlah kelompok mengatasnamakan agama (Islam) akan menggelar unjuk rasa di Jakarta --dan beberapa daerah lain di indonesia. Mereka hendak mendesak pemerintah pusat dan kepolisian menangkap kandidat Gubernur Jakarta Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok, atas tudingan melakukan penistaan agama.
Berunjukrasa tentu saja tak salah. Berunjukrasa, mengemukakan pendapat, merupakan perwujudan dari demokrasi. Persoalannya adalah, sejak jauh hari, kelompok-kelompok yang berunjukrasa telah menebar semacam ancaman. Bahwa jika Ahok tidak ditangkap, tidak diadili, maka mereka yang akan melakukannya.
Padahal kita juga tahu bahwa menangkap dan mengadili tidak bisa dilakukan oleh sembarang orang dan sembarang lembaga.
Polisi telah bersiap. Tentara juga sudah bersiaga. Di pihak pengunjukrasa, kesiapsiagaan serupa menyeruak. Mereka disebut-sebut mengklaim sudah mencium wangi surga di Jakarta. Mereka sudah menuliskan surat wasiat untuk keluarga. Mereka sudah siap mati.
Ah, kenapa harus begini? Apakah kita memang menginginkan perpecahan? Apakah kita memang menginginkan negeri raksasa ini berubah awut-awutan, ambruk dan porak-poranda macam negara-negara di Balkan dan Timur Tengah? Apakah kita memang sudah bosan mencium aroma kedamaian dan lebih mendambakan bau anyir darah?
Mari kita kembali ke dasar negara. Kembali ke Pancasila dan semboyan Bhinneka Tunggal Ika. Kita boleh berbeda pandangan, berbeda pilihan, berbeda suku, agama, dan lainnya, tetapi kita satu negara, satu bangsa, satu tujuan, yaitu Indonesia yang lebih kuat. Indonesia lahir dari keberagaman.
Para pendiri bangsa mewariskan kepada kita semangat ini. Semangat keberagaman yang melahirkan Indonesia. Semangat keindonesiaan yang telah berurat berakar. Telah mendarahdaging. Alangkah menyedihkan apabila keindonesiaan yang sudah dibangun selama bertahun-tahun dengan susah payah harus ambruk lagi lantaran nafsu dan emosi politik segelintir orang.
Ahok mungkin salah dalam perkara pengutipan atas penafsiran Surah Al Maidah Ayat 51. Ahok mungkin berlaku tidak etis. Tapi terlepas apakah dia menistakan agama (Islam) atau tidak yang masih bisa diperdebatkan dan diterangjelaskan, toh, Ahok sudah mengemukakan permohonan maaf dan penyesalan.
Toh, apabila perbuatan ini tidak dapat termaafkan, gampang saja. Pertama, laporkan Ahok secara resmi ke polisi. Sertakan bukti-bukti sahih yang kira-kira dapat menjeratnya. Toh Presiden Jokowi sudah membuka pintu untuk hal ini. Apabila polisi menilainya bersalah, secara otomatis Ahok akan gugur sebagai kandidat. Jadi tidak perlu ribut-ribut menggalang massa yang berpotensi menimbulkan chaos seperti sekarang.
Kedua, andaikata pun polisi tak memeriksanya atau memeriksa namun menyatakan Ahok tidak bersalah, tetap tak ada masalah. Tak perlu repot-repot. Cukup masuk ke bilik suara dan cobloslah Anies Baswedan atau Agus Yudhoyono.
Sebagai bangsa, kita sudah berkali-kali menghadapi dan melewati ujian. Dan sejauh ini, seperti pernah diucap Bung Karno, meski hancur lebur kita masih bisa bangkit kembali. Namun tentunya kenyataan ini tidak menggembirakan. Saat negara-negara lain, bangsa-bangsa lain, melaju makin kencang, waktu dan perhatian kita justru tersita untuk membangkitkan diri dari kehancurleburan.
Sampai kapankah kita akan jatuh dan jatuh lagi ke lubang yang sama?
twitter: @atumatum2681
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ngahokk_20161101_181753.jpg)