Semifinal AFF Suzuki Cup 2016
Memaksimalkan Modal Satu Gol
Di Vietnam, media-media lokal mengobarkan provokasi. Modal satu gol Indonesia disebut sebagai modal kecil yang mudah dipatahkan.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
- Vietnam vs Indonesia
TEKAD membombardir jala gawang Vietnam tidak menjadi kenyataan. Bermain di Stadion Pakansari, Cibinong, pada putaran pertama babak semifinal AFF Suzuki Cup 2016, 3 November, Indonesia memang bisa melesakkan dua gol. Akan tetapi, eksekusi penalti Nguyen Van Quyet, menempatkan Vietnam pada posisi lebih baik.
Saat ganti bertindak sebagai tuan rumah, Rabu (7/12) malam nanti, Vietnam hanya membutuhkan satu gol untuk melangkah ke partai puncak. Skor imbang namun Vietnam diuntungkan regulasi gol tandang.
Situasi yang harus diakui berat untuk Indonesia. Pemain harus mampu memaksimalkan modal satu gol. Bagaimana bisa mempertahankan gawang dari kebobolan selama 90 menit. Syukur-syukur bisa mencuri gol.
Pertanyaannya, mampukah pemain-pemain Indonesia melakukannya? Menarik untuk dicermati apakah Alfred Riedl akan memberikan instruksi bertahan pada pasukannya. Apakah dia akan mengubah formasi dengan menempatkan lebih banyak pemain berkarakter bertahan?
Mudah-mudahan ini tidak dia lakukan. Riedl tidak punya reputasi cemerlang sebagai pelatih yang mampu meracik strategi bertahan mumpuni. Di lain sisi, kualitas pemain-pemain lini pertahanan Indonesia juga berada di bawah ambang batas "aman". Khususnya di jantung pertahanan.
Riedl memilih duet Rudolof Yanto Basna dan Fachruddin Wahyudi Aryanto dan memainkan mereka di tiga pertandingan babak grup. Hasilnya? Gawang Indonesia yang dikawal Kurnia Meiga kebobolan tujuh gol.
Di semifinal, keduanya absen karena akumulasi kartu kuning. Riedl memasukkan duet baru ke dalam starting eleven, Hansamu Yama Pranata dan Manahati Lestusen. Meski Hansamu menyumbangkan satu gol, secara umum, performa duet ini tidak lebih baik dari Yanto Basna dan Fachruddin.
Beberapa kali pemain-pemain Vietnam berhasil menerobos masuk ke area tembak karena kekurangcermatan mereka dalam menutup wilayah. Koneksi antar keduanya juga tak berjalan baik.

SELEBRASI gol Hansamu Yama Pranata
Jadi, pada dasarnya, siapapun yang dipilih oleh Riedl, entah mempertahankan Hansamu-Lestusen atau memasukkan kembali Basna-Fachruddin, tidak terlalu jadi pembeda. Tidak menghadirkan beda kekuatan yang signifikan.
Dengan kata lain, akan sangat berbahaya apabila di Stadion My Dinh National, Hanoi, Riedl nekat memaksakan strategi bertahan sebab ini sama artinya dengan menyodorkan leher untuk dijerat. Bunuh diri.
Pertanyaan kebalikannya, apakah tim nasional Indonesia mampu menyerang? Kolumnis sepak bola, John Duerden, dalam ulasannya di Fox Sport Asia, menyebut Indonesia memiliki potensi dan harapan yang mungkin tak terduga. Tim nasional saat ini, menurut dia, telah menunjukkan gaya bermain yang (relatif) berbeda dibandingkan skuat-skuat tim nasional terdahulu.
"Mereka lebih agresif dan setiap pemain menunjukkan diri mereka sebagai pekerja keras. Mereka lari tidak berhenti sepanjang pertandingan. Menurut ruang-ruang dan merebut bola. Kecepatan sejumlah pemain juga di atas rata-rata," katanya.
Duerden menyebut nama Andik Vermansyah, Rizky Pora, Muhammad Abduh Lestaluhu, dan Boaz Salossa.
"Saya kira memang terlalu prematur untuk menyebut Indonesia berpeluang merebut juara. Bagaimanapun Vietnam, dan terutama sekali Thailand, merupakan kekuatan besar di Asia Tenggara. Tapi kemajuan yang ditunjukkan, yang bagi saya agak mengejutkan, menguatkan potensi itu. Bukan kejutan jika Indonesia bisa ke final," ucapnya.

ANDIK Vermansyah
Analisis John Duerden tentu tidak sembarang. Di Cibinong, Vietnam menunjukkan determinasi pascagawang mereka dibobol Hansamu Yama. Serangan bergelombang dicecarkan ke lini pertahanan Indonesia yang pada akhirnya memaksa Benny Wahyudi melakukan kesalahan yang membuat wasit menunjuk titik putih.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/indonvietnam4_20161207_135854.jpg)