AFF Suzuki Cup 2016

Jangan Parkir Bus !

Untuk ukuran negara yang baru lepas dari pengasingan internasionaldan liga domestiknya berjalan acak-kadut, melaju ke final adalah hasil menakjubkan.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO
UJI COBA LAPANGAN - Pemain tim nasional Indonesia berlatih ketika uji coba lapangan di Rajamangala National Stadium, Bangkok, Thailand (16/12/2016). Indonesia bertanding melawan Thailand pada putaran kedua final AFF Suzuki Cup 2016 di Rajamangala National Stadium, Sabtu (17/12/2016) sore ini. 

Akibatnya permainan Indonesia jadi serba tanggung. Menyerang tidak bertahan juga tidak. Kesalahan-kesalahan elementer semacam tak sempurna menahan bola atau salah memberi umpan, memperparah tingkat kerusakan permainan.

Sial bagi Thailand, di pertengahan babak kedua, angin keberuntungan berbalik ke arah Indonesia. Gol Risky Pora mengganggu kestabilan permainan Thailand dan Indonesia mampu memanfaatkan kecenderungan ini dengan sempurna.

Indonesia sekarang punya modal keunggulan satu gol. Modal yang pada dasarnya tidak terlalu menguntungkan. Sebab adanya regulasi gol tandang membuat Thailand cukup melesakkan satu gol untuk menambah panjang daftar mengenaskan Indonesia.

Dalam situasi seperti ini, tidak sedikit pelatih yang tergoda untuk menurunkan strategi bertahan total. Semacam catenaccio yang diadaptasi sedemikian rupa, dengan atau tanpa semangat dan karakter Gli Azzuri. Sejenis pertahanan dinding beton Gimnasia La Plata yang dipraktikkan Carlos Bilardo pada tim nasional Argentina di Piala Dunia 1990. Sebangsa "parkir bus" temuan Jose Mourinho.

Upaya ini sering berhasil. Mourinho telah berkali-kali melakukannya. Paling legendaris tentulah putaran kedua Inter Milan kontra Barcelona di semifinal Liga Champions, 28 April 2010. Racikan Mourinho membuat Inter mampu mempertahankan modal dua gol di Guiseppe Meazza (3-1). Padahal nyaris sepanjang 90 menit di Camp Nou, pertahanan mereka dibombardir pemain-pemain Barcelona dengan perbandingan penguasaan bola sangat jomplang, nyaris 70 berbanding 30 persen.

Sekali lagi, upaya ini sering berhasil. Klub-klub besutan Mourinho, La Plata di masa jaya, juga tim nasional Italia. Namun bermain bertahan juga penuh risiko. Meleset sedikit saja akan berakibat celaka dua belas dan inilah yang lebih sering terjadi. Pertahanan yang tidak betul-betul solid hanya akan melahirkan blunder.

Dan Alfred Riedl bukan pelatih yang memiliki reputasi sebagai peracik pertahanan yang ciamik. Tolok ukurnya jelas dan terang. Sepanjang AFF Suzuki Cup 2016, gawang Indonesia tidak pernah bersih dari gol. Empat gol kontra Thailand di fase penyisihan, ditambah dua dari Filipina, satu dari Singapura, tiga dari Vietnam, dan satu lagi dari Thailand di final pertama. Total sebelas gol dalam enam laga.

Karena itu, Rield sebaiknya jangan pernah berpikir untuk memainkan strategi bertahan di Stadion Rajamangala, Bangkok, Sabtu (17/12) petang ini. Bertahan, apalagi sampai bertahan total, entah memarkir bus atau kereta api atau memancakkan fosil dinosaurus sekalipun, hanya akan berakhir sebagai kesia-siaan.

Bukan lantaran bus atau gerbong kereta atau dinosaurus tidak kuat menahan gempuran pemain-pemain Thailand. Melainkan karena kekurangpiawaian Riedl dalam menempatkannya tanpa menyisakan celah yang memungkinkan untuk ditembus.

Strategi yang diterapkan di Stadion Pakansari kemarin adalah pilihan terbaik bagi Indonesia. Hanya saja perlu dilakukan perbaikan-perbaikan. Selain pada peran Stafano Lilipaly, Riedl juga harus bisa memperbaiki transisi kedua bek sayap. Terutama sekali Benny Wahyudi yang sering keteteran apabila sudah naik membantu serangan. Gol pertama Thailand yang dicetak Teerasil Dangda tidak lepas dari kurang cepatnya Benny menutup ruang jaga.

Persoalan lain adalah bagaimana Alfred Riedl memilih pemain untuk ditempatkan di pos Andik Vermansyah yang tidak bisa merumput karena cedera. Zulham Zamrun sejauh ini belum menunjukkan performa terbaik. Ada dua pemain bagus di bangku cadangan, Bayu Gatra dan Muchlis Hadi Ning Saifullah, yang bisa jadi pilihan. Riedl pun sesungguhnya bisa mencoba Ferdinand Sinaga di pos ini.

Apabila Riedl mampu menyempurnakan racikannya, barangkali rekor buruk Indonesia akan berakhir.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved