Sepakbola Inggris dan Boxing Day
Merry Christmas . . . This is Football Time!
Di Inggris, dimulai sejak laga Preston North End versus Derby County di tahun 1888, Boxing Day adalah sepakbola.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Pengalaman pertama juga akan dicatat Josep Guardiola. Manchester City kontra Hull yang dibesut Mike Phelan, pelatih yang sudah berkali-kali melewati Boxing Day sebagai asisten Sir Alex Ferguson. Di Old Trafford, Zlatan Ibrahimovic, menambah tebal catatan buku sejarahnya. Dari Swedia melanglang buana ke Belanda, Italia, Spanyol, dan Perancis, kini dia bertualang di Inggris dan akan punya cerita perihal Boxing Day. Apakah dia memulai cerita ini dengan indah atau sebaliknya?
Ibrahimovic lebih beruntung karena dia bukan bos. Bukan pengendali dan pengambil keputusan. Dengan kata lain, adaptasinya cuma untuk diri sendiri. Sekiranyapun Ibrahimovic gagal beradaptasi, Jose Mourinho tinggal menggantinya dengan pemain yang lebih siap.

ANTONIO Conte
Conte dan Guardiola berada di posisi berbeda. Mereka beradaptasi dengan sistem baru. Dan berhasil tidaknya mereka akan memberi pengaruh signifikan terhadap tim secara menyeluruh. Bahkan boleh dibilang, pencapaian akhir Chelsea dan Manchester City di penghujung musim 2016-2017, tergantung pada hasil Boxing Day.
Sejauh ini Conte unggul dari Guardiola. Chelsea bercokol di posisi puncak sedangkan Manchester City di peringkat tiga. Meski secara umum terbilang baik, keduanya sama-sama telah menunjukkan kebelumpahaman terhadap kultur sepakbola Inggris.
Conte belum paham betapa FA, federasi sepakbola Inggris yang mengendalikan penuh jalannya roda kompetisi, seringkali membuat keputusan yang kejam. Kesalahan-kesalahan yang di kompetisi lain barangkali sepele, seperti melancarkan protes keras kepada wasit atau perselisihan antar pemain di dalam dan di luar lapangan, bisa berakibat fatal. Mulai dari pengurangan poin sampai sanksi larangan tampil. Dan keputusan seperti ini dijatuhkan tanpa kenal ampun dan tak pandang bulu pula.
Conte, baru-baru ini, menyebut dirinya tidak habis mengerti, bahkan menganggap konyol rencana FA yang hendak memotong poin Chelsea karena insiden perkelahian pemain di akhir laga yang panas kontra Manchester City, awal Desember lalu. Dua pemain City, Sergio Aguero dan Fenandinho, diusir keluar lapangan oleh wasit. Namun FA melakukan penyelidikan setelah kubu City melapor bahwa insiden yang berbuah kartu merah kedua terjadi karena adanya provokasi dari pemain-pemain Chelsea.
"Pengurangan poin? Ini menggelikan. Pertandingan itu disiarkan ke seluruh dunia dan semua orang bisa melihat bahwa pemain saya justru hendak mendinginkan emosi. Kami tidak bersalah. Sama sekali tidak," kata Conte seperti dikutip banyak media di Inggris.

JOSEP Guardiola
Pun demikian, dibanding Guardiola, pemahaman Conte lebih baik. Conte sekadar belum memahami kebiasaan di luar lapangan. Di dalam lapangan, minus Boxing Day yang baru akan dihadapinya malam nanti, dia belajar lebih cepat.
Sedangkan Guardiola masih "terbawa-bawa" atmosfer sepakbola Spanyol dan Jerman. Masih terkenang-kenang pada kedigdayaan Barcelona dan Bayern Munchen yang memang nyaris tidak bisa disentuh kecuali oleh satu dua klub.
Ivan Campo, pesepakbola Spanyol yang pernah merumput bersama Bolton Wanderers dan Ipswich Town, pada Omnisport mengatakan bahwa jika tidak cepat beradaptasi, Guardiola akan kehilangan semua gelar musim ini.
"Dia harus sadar bahwa sepakbola Inggris sangat berbeda dengan sepakbola di luar sana. Di sini lebih cepat, dan tiap-tiap pemain secara sadar melibatkan diri dalam pertarungan yang sengit. Sepakbola di Inggris adalah pertarungan. Dan dia (Guardiola) menurunkan pemain yang sama dalam setiap pertandingan, seperti yang dilakukannya di Spanyol dan Jerman. Di sini dia harus menyiapkan banyak strategi cadangan," ucapnya.
City memang sempat melejit di awal-awal kompetisi. Namun pilihan strategi yang monoton cepat memerosokkan mereka. Dan Guardiola terhenyak tatkala pasukannya yang serba mahal ditahan imbang para semenjana semacam Everton, Southampton, dan Middlesbrough, sebelum dihajar Leicester, juara bertahan yang ironisnya juga sedang limbung.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/boxing-day_20161226_151207.jpg)