Ngopi Sore

Mengistarahatkan Kata, Mengistirahatkan Wiji Thukul ?

Thukul besar di jalan, di antara para demonstran. Di tiap aksi unjuk rasa yang digelar buruh-buruh pabrik di Solo, dia selalu berada di garis depan.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
http://www.dw.com
DOKUMEN foto keluarga saat Wiji Thukul membacakan puisi di sanggar yang didirikannya sebagai wadah kreativitas anak-anak buruh pabrik. 

BAGI saya Wiji Thukul adalah penyair besar. Satu di antara penyair terpenting Indonesia. Walau namanya tidak dimasukkan ke dalam buku 33 Tokoh Sastra Indonesia Paling Berpengaruh, kalah dari seorang makelar politik dan tukang survei bernama Denny JA, bagi saya dia tetap besar dan penting.

Dia tidak menggagas dan menuliskan puisi esai. Dia tidak menuliskan puisi-puisi yang dipenuhsesaki kata-kata yang membentuk kalimat-kalimat serba sulit dan memusingkan. Dia tidak pernah mengakrobatkan kata-kata. Akan tetapi, bagi saya, sekali lagi bagi saya, dia adalah penyair besar dan penting. Penyair yang lewat puisi-puisinya sedikit banyak telah mengubah wajah Indonesia.

Wiji Thukul adalah penyair rakyat. Sebenar-benarnya penyair rakyat. Bukan cuma puisi- puisinya, kata-katanya, bahkan wajahnya, mimiknya saat berbicara, dan gesturnya, juga merakyat.

wiji thukul1
THE JAKARTA POST

Saya cuma satu kali bertemu dia. Tidak bertemu langsung. Tidak saling bertukar sapa. Saya melihatnya dari jarak kira-kira lima meter. Dia di panggung saya di bawah panggung. Di satu tempat di Jakarta, kira-kira setahun sebelum dia menghilang untuk kali ke pertama.

Saya tidak bicara dengan dia namun saya tak pernah melupakan baris-baris puisi yang meluncur dari mulutnya. Baris-baris puisi dalam intonasi yang kedengaran agak aneh lantaran lidahnya yang cadel. Gumam Sehari-hari, puisi yang waktu itu tidak terlalu terkenal --sampai 14 tahun berselang dikutip Dub Youth, satu grup rap dari Jogja, untuk lagu mereka yang diberi judul Panggung Kami.

di ujung sana ada pabrik roti
kami beli yang remah-remah
karena murah
di ujung sana ada tempat penyembelihan sapi
dan kami kebagian bau
kotoran air selokan dan tai

Puisi yang sangat lugas dan tanpa tedeng aling-aling. Puisi yang boleh jadi tidak dianggap puisi oleh mereka yang masuk dalam "sekte" pemuja rembulan, matahari, embun yang menetes dari ujung, rinai hujan dan nyanyian burung-burung.

Namun terang ini puisi. Tepatnya, puisi yang memang hanya mungkin diciptakan oleh penyair rakyat. Dan Wiji Thukul, selain penyair rakyat, adalah juga seorang aktivis.

Sebelum bergabung dengan Partai Rakyat Demokratik (PRD), Thukul besar di jalan, di antara para demonstran. Di tiap aksi unjuk rasa yang digelar buruh-buruh pabrik di Solo, dia selalu berada di garis depan, sebagai orator, sekaligus pembaca puisi.

Tahun 1986, Wiji Thukul menulis puisinya yang kemudian menjadi sangat terkenal, Peringatan. Puisi yang memuat sebaris kalimat yang barangkali tidak akan pernah hilang sepanjang di Indonesia masih ada unjuk rasa: "Hanya ada satu kata, lawan!"

Pilihan hidup yang berisiko sangat besar. Dihajar, diperiksa di kantor polisi dan tentara, dipenjarakan, mengisi hari-hari Wiji Thukul. Sampai akhirnya dia harus melarikan diri. Harus menghilang. Pascakerusuhan 27 Juli 1996 dan para aktivis dan pentolan PRD dituding sebagai biang kerok dan dijadikan tersangka, Wiji Thukul menghilang. Belakangan diketahui dia lari dan menyepi ke Pontianak, Kalimantan Barat.

GRAFITI puisi Wiji Thukul di Jakarta
GRAFITI puisi Wiji Thukul di Jakarta

Inilah periode paling sunyi dalam hidup Wiji Thukul. Periode di mana dia harus senantiasa berjaga dan bersiaga dan merawat curiga, dan juga rindu, pada Sipon istrinya serta dua anaknya, Fitri Nganti Wani dan Fajar Merah.

Periode ini, tepatnya penggalan-penggalan kisah dalam pelariannya yang mencekam, sekarang dijadikan film. Diputar di gedung-gedung bioskop papan atas tanah air, gedung-gedung yang serba sejuk dan berbau harum dan sudah barang tentu mematok harga tiket yang tak terjangkau oleh buruh-buruh pabrik dan kaum tertindas yang dulu dibela Wiji Thukul.

Film ini diberi judul Istirahatlah Kata-kata. Sampai di sini, mencuat satu pertanyaan. Siapakah yang dimaksudkan dengan 'kata-kata'? Apakah 'kata-kata' di sini merepresentasikan Wiji Thukul?

Jika benar tentunya ini miris sekali. Sebab kata-kata seorang penyair, terlebih-lebih penyair rakyat, tidak akan pernah mati. Kata-katanya akan tetap hidup dan menggema dan merasuk. Akan tetap abadi sepanjang peradaban.

Atau jangan-jangan Yosep Anggi Noen, sang sutradara, punya maksud lain? Kita tahu, pascapelarian ini Wiji Thukul kembali ke Solo, lalu ke Jakarta, kembali berjuang bersama kawan-kawannya para aktivis, lalu menghilang lagi, sampai sekarang. Entah hilang lantaran kembali lari dan menyepi, atau dihilangkan, tidak pernah jelas.

wiji thukul3
FACEBOOK

Sementara itu, sebagian kawan-kawan seperjuangannya sekarang telah berada di jalan lain. Jalan kekuasaan dan berkelindan di dalamnya. Mereka menjadi politisi baru dan pejabat-pejabat baru dan hidup enak dan sering saling pura-pura bersilang pendapat demi partai tempat bernaung.

Apakah ini yang dimaksud Josep? Apakah dia menginginkan Wiji Thukul beristirahat saja supaya kebesarannya tetap terjaga dan tak ikut jadi sontoloyo? (t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    berita POPULER

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved