Kicauan SBY
Tatkala SBY Menganggap Politik sebagai Panggung Pribadi
“Artinya menganggap bahwa politik itu panggung pribadi, atau menempatkan persoalan publik itu sebagai persoalan pribadi,”
TRIBUN-MEDAN.com, JAKARTA - Peneliti Pusat Studi Islam dan Kenegaraan Indonesia, Arif Susanto menilai, dalam sejumlah kesempatan, Ketua Umum Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono kurang memiliki kepekaan terhadap isu publik yang bersifat nasional kala menjadi Presiden keenam RI.
Baca: Simak Penuturan Saksi Pertama di Sidang Kesembilan Ahok, Jaenudin Bilang . . .
Baca: Menyasar SBY, Yenny Wahid: Orang Biasa Saja Mudah Bertemu Jokowi, Apalagi Mantan Presiden
Baca: Jagat Medsos Dihebohkan Foto Firza Husein Tanpa Hijab, Kok Bisa Beredar? Firza pun Syok Berat
SBY cenderung melihat persoalan politik lebih kepada persoalan pribadi.
“Artinya menganggap bahwa politik itu panggung pribadi, atau menempatkan persoalan publik itu sebagai persoalan pribadi,” kata Arif di Jakarta, Senin (6/2/2017).
Setidaknya, kata dia, hal itu terlihat ketika mantan anggota CIA, Edward Snowden, mengungkap adanya informasi terkait penyadapan Australia terhadap ponsel SBY.
Saat itu, SBY kurang memberikan reaksi atas penyadapan tersebut.
“Kapan SBY beraksi? Pada tahap berikutnya, (saat) menunjukkan bahwa yang disadap itu bukan hanya telepon genggam Pak SBY, tetapi juga telepon genggamnya Bu Ani (istri SBY),” kata dia.
Menurut Arif, sebagai Presiden, SBY saat itu seharusnya bereaksi keras ketika mengetahui dirinya disadap. Pasalnya, SBY merupakan kepala negara dan sekaligus kepala pemerintahan.
“Jadi mestinya kalau presiden disadap, itu persoalan publik, persoalan negara. Yang tersinggung kita semua warga negara Indonesia, seburuk apapun presidennya. Sebab, itu sudah melampaui kedaulatan,” ujarnya.
“Tapi kita punya presiden yang tersinggung hanya setelah sang istri disadap. Ada masalah dengan ini," lanjut dia.
Kurang pekanya SBY, imbuh Arif, juga terlihat ketika persoalan tenaga kerja Indonesia di luar negeri mencuat.
Saat itu, ada sejumlah TKI yang terancam hukuman mati di luar negeri. Pemerintah baru bereaksi setelah masyarakat memberikan empati dengan mengumpulkan koin untuk membayar uang tebusan agar para pahlawan devisa itu selamat.
“Mari kita bandingkan reaksinya keluarga ini, ketika beberapa pihak mulai menyinggung langkah kontroversial Mas Ibas. Lagi-lagi personal. Ini saya kurang paham bagaimana kita punya politikus yang take something personally,” kata dia.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/sby_20170207_103811.jpg)