Paris Saint Germain vs Barcelona

Mimpi Buruk Emery

Unai Emery punya rekor buruk saat menghadapi Barcelona. Bahkan boleh dibilang sangat buruk. Klub yang dilatihnya hanya menang satu kali dari 23 laga.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/PHILIPPE DESMAZES
UNAI Emery 

Formasi 4-3-3 adalah formasi menyerang. Filosofi bermain PSG, terutama sejak era Carlo Ancelotti, juga menyerang. Pun kecenderungan Emery. Di Valencia dan Sevilla, dia menerapkan permainan menyerang. Nyaris secara konstan. Bahkan saat berhadapan dengan klub-klub level atas semacam Barcelona atau Real Madrid.

Masalahnya, hasil penerapan filosofi ini amatlah buruk. Real Madrid memang beberapa kali bisa disulitkan. Bisa dikalahkan. Akan tetapi Barcelona tidak. Filosofi menyerang Emery tak cukup kuat untuk meruntuhkan soliditas Tiki Taka. Permainan terbuka justru menjadi bumerang karena pada celah-celah yang terbuka, para pemain Barcelona dapat masuk untuk menghujamkan tikaman mematikan.

Bumerang seperti ini bisa dihindarkan apabila lawan-lawan Barcelona memiliki lini tengah dan belakang yang juga solid. Memiliki pemain-pemain yang bisa cepat menutup celah dan berani bertarung. Terutama dalam mengadang dan menghentikan pergerakan Messi, Neymar, Luis Suarez, dan Andres Iniesta. Meleset sedikit saja akan jadi petaka.

PEMAIN-pemain PSG berlatih jelang menghadapi Barcelona di putaran pertama babak 16 Besar Liga Champions 2016-2017, di Paris, dinihari nanti.
PEMAIN-pemain PSG berlatih jelang menghadapi Barcelona di putaran pertama babak 16 Besar Liga Champions 2016-2017, di Paris, dinihari nanti. (AFP PHOTO/PHILIPPE LOPEZ)

PSG tidak memiliki kemampuan ini. Lini tengah dan belakang mereka terlalu stylish. Rapat tapi kurang ngotot sehingga gampang roboh. Dari Ancelotti, ke Laurent Blanc, sampai sekarang, PSG belum punya solusi.
Marcos Aoas Correa alias Marquinhos, sebelas dua belas dengan David Luiz. Walau sama-sama berkebangsaan Brasil, koneksi dan koordinasinya dengan Thiago Silva masih lemah. Mereka boleh tangguh di Ligue 1. Akan tetapi di Eropa kualitas kolaborasi mereka tak bisa dikatakan istimewa. Di fase grup, gawang PSG dibobol tujuh kali dalam enam laga.

Di tengah, mereka juga tidak memiliki gelandang jangkar yang betul-betul "menggigit". Gelandang yang siap jungkir balik, kalau perlu bermain kotor. Masa keemasan Thiago Motta sudah lewat. Sedangkan Grzegorz Krychowiak belum menemukan sentuhan terbaiknya. Dan lebih sial bagi PSG, di Parc des Princes, dinihari nanti keduanya harus absen karena cedera.

Maka begitulah. Unai Emery memang harus betul-betul cermat dan berhati-hati dalam menurunkan strategi. Jika tidak, mimpi buruknya bakal semakin panjang.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved