Kisah Inspiratif
Keren, Dua Pelajar Mendadak Populer lantaran Usaha Sampingan Beromzet Puluhan Juta, Kok Bisa?
Dua siswa tingkat menengah atas ini mendadak populer. Kisahnya yang menginspirasi mengemuka setelah disentil akun Twitter terverifikasi Kemdikbud
Bahkan ia sendiri tidak paham seperti apa program keahlian Produksi Grafika yang dipilihnya di SMKN 4 Malang.
"Dulu pas masuk sini (SMKN 4 Malang) nggak tau apa itu produksi grafika. Lalu pas sudah masuk sekolah, belajar, dan lihat-lihat mesin cetak, saya jadi tertarik dan ingin buka usaha percetakan sendiri," katanya mengenang masa-masa awal menjadi siswa SMK Negeri 4 Malang.
Fahris bertutur, suatu hari di sekolah pernah ada sesi diskusi dengan guru dan teman-temannya mengenai cita-cita.
Saat ia mengutarakan cita-citanya menjadi pengusaha percetakan, teman-temannya menertawakannya. "Saya diketawain teman-teman waktu itu," tuturnya.
Untuk memperlihatkan keseriusannya, Fahris pun mendirikan perusahaan percetakan yang diberi nama Barokah Printing, dengan modal dari tabungannya sendiri.
Barokah Printing didirikan pada tanggal 11 Januari 2016. Lalu sekitar enam bulan kemudian berubah nama menjadi Asa Printing.
"Dulu waktu pakai nama Barokah Printing itu baru dalam tahap penyusunan strategi saja."
"Terus setelah udah mulai serius dan terjun ke lapangan saya minta restu dari orang tua, saya minta saran juga. Dari situ sama Ayah saya dikasih nama Asa Printing," ujar Fahris. Ia menambahkan, kata "Asa" berasal dari bahasa Sansekerta, yang berarti kemenangan atau harapan.
Seperti layaknya seseorang yang memulai usaha, Fahris juga merasakan jatuh-bangun.
Saat mendapat pesanan cetakan untuk pertama kalinya, ia langsung rugi sekitar Rp2 juta rupiah karena kliennya tidak puas dengan hasil cetakannya, dan meminta dicetak ulang. Kala itu Fahris masih menggunakan pihak ketiga untuk mencetak pesanan yang diterimanya, sehingga ia tidak bisa mengawasi secara langsung saat proses pencetakan.
Sekarang Fahris sudah bisa menggunakan mesin cetak di sekolahnya lewat fasilitas Unit Produksi dan Jasa (UPJ). Mesin cetak di SMKN 4 Malang menggunakan mesin cetak Offset Printing Machine GH 524 dan Thermal CTP Platemaker Speedy 560/110, dengan merk Gronhi.
Mesin cetak empat warna itu merupakan bantuan dari Asian Development Bank (ADB). Dengan meminjam mesin cetak di Unit Produksi dan Jasa SMKN 4 Malang, Fahri dapat melakukan pengawasan secara langsung terhadap proses pencetakan dan hasil cetaknya.
Saat ini ia sudah memiliki dua karyawan tetap yang terdiri dari alumni SMKN 4 Malang dan siswa SMKN 4 Malang yang berlatar belakang teknologi informasi, khususnya bagian desain. "Freelance juga banyak, bisa belasan sampai puluhan, tergantung orderan cetakan," ujar anak tengah dari tiga bersaudara itu.
Omset yang diterimanya pun pernah mencapai puluhan juta rupiah.
Awal tahun 2017 ini ia baru saja mendapatkan pesanan untuk mencetak ratusan kalender dari sebuah hotel ternama di Malang.