Kisah Inspiratif

Keren, Dua Pelajar Mendadak Populer lantaran Usaha Sampingan Beromzet Puluhan Juta, Kok Bisa?

Dua siswa tingkat menengah atas ini mendadak populer. Kisahnya yang menginspirasi mengemuka setelah disentil akun Twitter terverifikasi Kemdikbud

TWITTER/@KEMDIKBUD_RI
Fajar baru saja lulus SMA, ia ingin kuliah dan saat ini menabung dari hasil usahanya jualan Mochi bikinan sendiri. Omzet per bulan capai Rp 36 juta per bulan. (TWITTER/@KEMDIKBUD_RI) 

Penyuka sepak bola itu merasa bersyukur mendapat dukungan penuh dari pihak sekolah maupun keluarga dalam menjalani usahanya.

Selain diperbolehkan menggunakan fasilitas di UPJ, Fahris juga merasa terbantu saat berkonsultasi dengan salah satu guru, Rini Soesilowati, seorang guru di program keahlian Persiapan Grafika.

Fahris pernah meminta petunjuk dari Rini mengenai cara membuat nota kesepahaman atau surat kontrak saat menerima pesanan. Di acara syukuran setahun berdirinya Asa Printing, ia pun mengundang Rini untuk datang ke acara tersebut, tapi Rini berhalangan untuk hadir.

Esok paginya di sekolah, Rini mendapati di atas mejanya terdapat sebuah parsel buah yang dikirimkan Fahris sebagai ucapan terima kasih dan syukur.

"Saya terharu, sampai hampir menangis melihatnya," tutur Rini yang tidak menyangka Fahris sangat memperhatikan konsultasi yang dianggapnya tidak seberapa itu.

Sebagai guru, ia juga mengaku sangat senang dengan keberhasilan Fahris berwirausaha.

Dukungan dari keluarga juga diterima Fahris, meskipun pada awalnya keluarganya sempat keberatan dengan niatnya berwirausaha sambil bersekolah.

"Takut sekolah terganggu," kata Fahris saat ditemui usai ujian praktik kejuruan UPK), di Gedung SMKN 4 Malang, Jawa Timur, Jumat (3/3/2017).

Namun, ia berhasil membuktikan kepada orang tuanya bahwa ia bisa melakukan manajemen waktu dengan baik, antara sekolah, berwirausaha, dan kegiatan "mondok" di Pondok Pesantren Islam Darul Makin Malang.

"Sekolah sampai jam 3. Terus jam 3 sampai jam 5 saya cari order (pesanan). Lalu mondok, ngaji sampai jam 8, lanjut mengerjakan tugas sekolah di pondok sampai tengah malam, tidurnya di pondok. Makanya kadang saya suka ngantuk-ngantuk kalau lagi di sekolah," tuturnya sambil tersenyum.

Siswa yang akan mewakili sekolahnya dalam Lomba Kompetensi Siswa (LKS) itu berencana melanjutkan pendidikannya ke bangku kuliah setelah lulus dari SMK nanti. "Saya ingin kuliah sambil berwirausaha," ujarnya.

Menariknya, jurusan yang dipilihnya di perguruan tinggi nanti tidak linier dengan jurusannya di SMK, maupun kegiatannya berwirausaha.

Pria kelahiran 1 November 1998 itu tidak berniat mengambil jurusan teknik maupun manajemen, melainkan jurusan psikologi.

"Saya tertarik dengan psikologi. Itu yang sesuai dengan pilihan hati saya," tutur Fahris.

Fahris telah membuktikan bahwa siswa SMK mampu berwirausaha dan menciptakan lapangan kerja.

Ia juga menjadi contoh mampu bersaingnya siswa SMK dalam perputaran roda ekonomi, khususnya di dunia usaha dan dunia industri (DUDI).

Ia dan sekolahnya telah menjadi praktik baik (best practice) bagaimana lulusan SMK bisa berkualitas dan memiliki daya saing, sesuai dengan yang diharapkan dalam Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2016 tentang Revitalisasi SMK Dalam Rangka Peningkatan Kualitas dan Sumber Daya Manusia Indonesia.

(TribunWow/ Rimawan Prasetiyo)

Sumber: TribunWow.com
Berita Terkait
  • Ikuti kami di
    AA

    Berita Terkini

    Berita Populer

    © 2025 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved