Arsenal vs Bayen Munchen

Pintu Keluar Monsieur Wenger

Kesabaran sudah sampai pada batas dan suporter Arsenal telah menyampaikan kekesalan mereka tanpa sungkan.

Tayang:
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/PAUL ELLIS
ARSENE Wenger 

Para suporter agaknya memang telah melupakan jasa itu. Kenangan-kenangan kejayaan pupus oleh kedongkolan karena harapan-harapan yang terus-menerus tergerus. Gelar juara liga semakin jauh. Tropi Liga Champions yang lagi-lagi lepas dari genggaman.

Sebenarnya tropi ini belum benar-benar lepas. Masih ada harapan. Namun bagi suporter Arsenal, harapan ini sekadar semu. Harapan yang sangat boleh jadi mustahil terwujud. Harapan yang baru bisa menjadi kenyataan apabila Tuhan menurunkan keajaiban.

Bagaimana tidak. Putaran kedua babak 16 besar Liga Champions 2016-2017 memang dimainkan di Emirates Stadium, Rabu (8/3) dinihari nanti. Namun bola akan bergulir dari titik tengah dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan bagi Arsenal. Mereka memulai pertandingan dengan selisih empat gol. Di Alianz Arena, 15 Februari lalu, Bayern Munchen membantai Arsenal 5-1.

PEMAIN Bayern Muenchen Robert Lewandowski (tengah), mendapatkan tekel dari pemain Arsenal, Shkodran Mustafi, pada laga putaran pertama Babak 16 Besar Liga Champions 2016-2017 di Alianz Arena, Munich, 15 Februari. Muenchen menang 5-1.
PEMAIN Bayern Muenchen Robert Lewandowski (tengah), mendapatkan tekel dari pemain Arsenal, Shkodran Mustafi, pada laga putaran pertama Babak 16 Besar Liga Champions 2016-2017 di Alianz Arena, Munich, 15 Februari. Muenchen menang 5-1. (AFP PHOTO/ODD ANDERSEN)

Sepanjang sejarah kejuaraan, hanya ada satu klub yang mampu membalikkan kekalahan jadi kemenangan pascatertinggal sedemikian jauh. Di musim 1985-1986, era sebelum Liga Champions, Real Madrid kalah 1-5 di putaran pertama kontra VfL Borussia Monchengladbach. Di putaran kedua yang digelar di Santiago Bernabeau, Madrid menang 4-0 dan melangkah ke fase selanjutnya.

Setelah era Liga Champions bergulir tak ada klub yang mampu mengulang pencapaian ini. Satu- satunya yang mendekati adalah Deportivo La Coruna. Musim 2003-2004, mereka membalikkan kekalahan 1-4 atas AC Milan di San Siro menjadi kemenangan 4-0 di Estadio Municipal de Riazor.

Di tahun-tahun berikutnya pencapaian ini menjadi semacam tolok ukur bagi klub-klub yang tertinggal jauh. Tepatnya sebagai upaya untuk menghibur diri. Upaya untuk tetap menjaga keoptimistisan. Bahwa jika La Coruna bisa mengapa mereka tidak. Sayangnya, memang tidak bisa. Tidak ada yang bisa.

PEMAIN-pemain Deportivo La Coruna merayakan gol yang dicetak ke gawang AC Milan yang dikawal kiper Dida (tengah), pada laga putaran kedua Babak Perempatfinal Liga Champions 2003-2004. Deportivo menang 4-0 dan melangkah ke semifinal dengan agregat 5-4.
PEMAIN-pemain Deportivo La Coruna merayakan gol yang dicetak ke gawang AC Milan yang dikawal kiper Dida (tengah), pada laga putaran kedua Babak Perempatfinal Liga Champions 2003-2004. Deportivo menang 4-0 dan melangkah ke semifinal dengan agregat 5-4. (ARCHIVOFUTBOL)

Di musim 2012-2013, dua laga semifinal menghasilkan skor yang jomplang. Di Dortmund, Borussia memberangus Real Madrid 4-1. Berjarak 473 km, di Munich, Bayern menghancurkan Barcelona empat gol tanpa balas. Putaran kedua, Madrid hanya berhasil menang 2-0 sedangkan Barcelona malah semakin hancur. Gol Arjen Robben dan Thomas Muller, ditambah bunuh diri Gerard Pique, mengantarkan Barcelona pada kekalahan (dalam agregat) terburuk sepanjang sejarah keikutsertaan mereka di Liga Champions.

Di sinilah letak persoalan yang membuat suporter-suporter Arsenal terpaksa memandang laga dinihari nanti dengan tatap pesimistis. Bagaimana bisa mengulang pencapaian Real Madrid jika untuk menyamai rekor Deportivo La Coruna saja belum ada yang mampu.

Bukan tak mungkin, memang, namun mustahil. Atau katakanlah hampir mustahil. Melesakkan empat gol tanpa balas ke gawang kiper sekelas Manuel Neuer yang dibentengi bek-bek kelas satu, jelas bukan perkara main-main. Bahkan dalam situasi internal Arsenal yang "aman tenteram" sekali pun tetap akan sangat sulit tercapai. Kecuali, seperti disebut sebelumnya, Tuhan berkehendak dan menurunkan keajaibannya.

Bagi Monseiur Wenger, laga ini berarti krusial. Bayern Munchen adalah pertahanannya yang terakhir. Kekalahan membuat pintu keluar Emirates terbuka lebih lebar. Dan suporter-suporter yang marah itu akan ramai-ramai mendorong punggungnya.(t agus khaidir)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved