Bayern Munchen vs Real Madrid

Jangan Cemas, Tidurlah yang Nyenyak

Saat Munchen dibantai tiga tahun lalu, Ancelotti adalah bos di bench Real Madrid. Zinedine Zidane, pelatih Madrid sekarang, menjadi asistennya.

Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
AFP PHOTO/CHRISTOF STACHE
PEMAIN Real Madrid, Gareth Bale (kiri), Luka Modric, dan Danilo, duduk di bench sebelum mengikuti sesi latihan di Stadion Alianz Arena, Munchen, Jerman, jelang laga Liga Champions kontra Bayern Munchen, dinihari nanti. 

KEMENANGAN besar 4-1 atas musuh besar di Bundesliga, Borussia Dortmund, tak lantas membuat pemain-pemain Bayern Munchen tenang. Sebaliknya, rasa cemas tetap membekap. Cemas atas pertandingan tengah pekan, pertandingan Liga Champions di Alianz Arena, di mana mereka kedatangan juara bertahan, Real Madrid.

Minggu pagi, kurang lebih 12 jam setelah laga kontra Dortmund, Carlo Ancelotti mengumpulkan pasukannya. Di hadapan pemain-pemain itu, Ancelotti menekankan untuk tidak terlalu memikirkan Madrid.

"Di saat seperti sekarang, terlalu cemas atas satu pertandingan bisa berakibat buruk. Lebih baik tidak usah cemas. Lebih baik tidur yang nyenyak. Kita perlu tidur nyenyak dan mimpi yang menyenangkan, dan setelah itu kita siap menghadapi Madrid," katanya.

Apakah petuah Ancelotti mujarab? Tentu saja belum bisa dipastikan mujarab atau tidaknya. Namun memang pada dasarnya Bayern Munchen wajar untuk merasakan cemas. Setidaknya jika data statistik dijadikan acuan.
Bayern Munchen dan Real Madrid telah bertemu total sebanyak 22 kali di Liga Champions (termasuk saat kejuaraan ini masih bernama Piala Champions). Rekor masih dipegang Munchen. Mereka menang 12 kali dan kalah 8 kali.

PELATIH Bayern Munchen, Carlo Ancelotti
PELATIH Bayern Munchen, Carlo Ancelotti (AFP PHOTO/CHRISTOF STACHE)

Akan tetapi, akhir-akhir ini, Real Madrid lebih sering menang. Pada edisi pertemuan paling anyar, Madrid bahkan menang kandang dan tandang. Di Alianz Arena, Bayern Munchen digebuk empat gol tanpa balas. Kekalahan terburuk Munchen di kejuaraan regional Eropa.

Kekalahan tersebut membuat hagemoni Munchen atas Madrid runtuh. The Bavarian --julukan Munchen-- boleh tetap unggul dari sisi rekor menang-kalah. Namun orang-orang akan lebih banyak mengenang, betapa pada malam 29 April 2014, di hadapan 68 ribu penonton Alianz gawang Manuel Neuer dibobol empat kali oleh pemain-pemain Madrid.

Maka sangat boleh jadi, kecemasan pemain Bayern Munchen bukan melulu berangkat dari ketakutan. Barangkali mereka geram juga. Semacam ketidaksabaran untuk melakukan pembalasan dendam. Dan Munchen punya semua syarat untuk mewujudkannya.

Peralihan dari Josep Guardiola ke Carlo Ancelotti berjalan sangat mulus. Sempat agak tersendat di awal namun kemudian melesat. Konsep semi tiki-taka yang ditanamkan Guardiola tak terlalu banyak diutak-atik Ancelotti. Secara umum polanya tetap sama. Perbedaan hanya pada kecepatan. Ancelotti lebih berani memaksimalkan kekuatan kedua sayap.

Sentuhan "kecil" ini memberi dampak dahsyat. Bayern Munchen bermain dengan kolektivitas tingkat tinggi sekaligus sangat cepat, plus ketajaman dalam memanfaatkan bola-bola mati. Munchen memiliki eksekutor-eksekutor kelas satu.

Modal selanjutnya tentulah Ancelotti sendiri. Saat Munchen dibantai tiga tahun lalu, Ancelotti adalah bos di bench Real Madrid. Zinedine Zidane, pelatih Madrid sekarang, menjadi asistennya. Dan sebagian besar pemain juga belum berubah. Di jajaran starting eleven Madrid sekarang, hanya Keylor Navas dan Toni Kroos yang kala itu tidak tercantum dalam daftar pemain. Dengan kata lain, Ancelotti paham betul strategi Madrid sampai ke akar-akarnya.

Bayern punya Xabi Alonso pula. "Orang dalam" yang tiada kalah krusial perannya di Madrid ketika itu. Alonso merupakan gelandang yang tidak tergantikan. Sejak bergabung ke Santiago Bernabeu dari Liverpool di tahun 2009, Alonso bermain 158 kali untuk Madrid. Selalu menjadi pemain utama. Jika dia tidak turun merumput, maka alasannya cuma dua: cedera atau mendapat hukuman dari pengadil pertandingan.

Usia Alonso kini 35. Terbilang tua untuk ukuran pesepakbola. Akan tetapi jangan ditanya perannya. Ancelotti lebih memilih Alonso ketimbang pemain muda macam Renato Sanchez. Dia juga nyaris tak pernah ditarik keluar.

XABI Alonso, Franc Ribery, dan pemain-pemain Bayern Munchen lain berbincang sebelum berlatih jelang menghadapi pertandingan Liga Champions kontra Real Madrid di Alianz Arena, Munchen, Jerman, dinihari nanti.
XABI Alonso, Franc Ribery, dan pemain-pemain Bayern Munchen lain berbincang sebelum berlatih jelang menghadapi pertandingan Liga Champions kontra Real Madrid di Alianz Arena, Munchen, Jerman, dinihari nanti. (AFP PHOTO/CHRISTOF STACHE)

Di sisi berbeda, Real Madrid datang ke Jerman dengan langkah yang agak pincang. Ada lubang di lini belakang. Pertarungan yang keras kontra Atletico di La Liga pekan lalu merobohkan Pepe. Tulang rusuknya memar akibat berbenturan dengan Toni Kroos. Pepe bermaksud menyergap bola yang dikuasai Antoine Greizman.

Sergapannya luput dan menabrak Kroos yang pada saat bersamaan berupaya menghalau bola.
Jika Pepe tak pulih, alarm tanda bahaya patut dibunyikan Madrid. Rafael Varane juga masih cedera. Dan Nacho bukanlah pasangan yang ideal bagi Sergio Ramos. Gol Greizman yang membuat mereka kehilangan dua poin tatkala laga tinggal tersisa lima menit, tak lepas dari kerapuhan kerjasama mereka.

Di bawah mistar, Keylor Navas juga masih bermasalah. Yakni konsistensi. Setelah melewati dua musim penuh sensasi yang membuat publik Bernabeu melupakan David de Gea, Navas mengalami penurunan kualitas yang boleh dibilang cukup serius. Blunder demi blunder dilakukannya. Bahkan saat Madrid hanya bentrok dengan klub-klub medioker. Beberapa di antaranya sangat konyol dan jadi lelucon yang ramai ditertawakan di media sosial.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved