Real Madrid vs Bayern Munchen
Don Carlo Masih Yakin
Dalam sepakbola tidak ada keberuntungan. Yang ada adalah strategi yang jitu dan kecerdasan pemain serta kerja keras mereka.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
EMPAT belas tahun lalu, Carlo Ancelotti datang ke Santiago Bernabeu. Hari itu, 12 Maret 2003, dan Ancelotti datang membawa skuat yang penuh percaya diri. Skuat AC Milan yang terbilang komplet dan bersemangat. Di San Siro, 26 November 2002, Milan menang 1-0 lewat gol Andrei Shevchenko.
Terlepas dari fakta bahwa pada akhir musim Milan berhasil menjadi kampiun --menundukkan Juventus 3-2 di partai final-- dan mencatat sejarah sebagai klub Italia paling sukses di Eropa (enam tropi Liga Champions yang kemudian bertambah satu di musim 2006-2007), pada hari itu di Bernabeu mereka kalah.
Dua gol Raul Gonzales Blanco dan Guti Hernandez hanya sempat ditipiskan oleh gol Rivaldo. Milan tak berdaya. Sepanjang pertandingan di hadapan 77 ribu penonton itu, mereka tertekan sejak puit kickoff.
Sekarang Don Carlo, atawa Carletto --sebutan per Italia untuk Ancelotti-- datang lagi. Bukan lagi Milan, tentu saja. Dini hari nanti, dia datang bersama Bayern Munchen. Dan dia, ternyata, tetap percaya diri. Padahal masalah yang dihadapinya jauh lebih berat ketimbang 14 tahun lalu.
Munchen bakal bentrok dengan Madrid di putaran kedua babak perempat final dan mereka berada dalam posisi tertinggal. Di Alianz Arena pekan lalu, Munchen kalah 1-2.
"Sangat berat tentunya. Namun kami masih hidup dan karenanya peluang itu masih ada. Kami akan berusaha untuk mengambil kesempatan tersebut," ujarnya dalam wawancara dengan skysports, sehari pascadibekap Madrid.
Secara matematis tertinggal satu gol memang tidak besar. Pun apabila regulasi FIFA dijadikan tolok ukur. Untuk lolos ke semifinal, Bayern Munchen harus mencetak dua gol dan mencegah Madrid mencetak gol. Bagi klub yang sering membuat lawan malu dan menderita dengan perbandingan gol yang jomplang, hal ini tentu tidak terlalu sulit.
Musim ini, di Bundesliga, Munchen dua kali membabat lawan mereka dengan skor setengah lusin. Korban pertama Werder Bremen (26 Agustus 2016). Sedangkan FC Augsburg dihajar pada 1 April 2017. Hamburger SV lebih dahsyat. Munchen membantai mereka delapan gol tanpa balas pada 25 Februari 2017.
Di Liga Champions, Arsenal yang ketiban sial. Dua putaran pertemuan, The Gunners --julukan Arsenal-- dipaksa bertekuk lutut masing-masing dengan skor 5-1 (agregat 10-2).
Persoalannya mereka kali ini bermain di Liga Champions. Di fase perdelapan final, Barcelona mencatat sejarah baru sebagai klub yang mampu membalas kekalahan 0-4 di putaran pertama. Namun sejarah yang menantang Munchen masih belum tergoyahkan sejak Inter Milan menyamai pencapaian Ajax Amsterdam di musim 1995-1996.
Uniknya, sejarah ini melibatkan Bayern Munchen pula. Musim 2010-2011, mereka menekuk Inter Milan 1-0 di putaran pertama di Guiseppe Meazza. Mario Gomez melesakkan gol ke gawang Julio Cesar di menit 90. Bayern Munchen di atas angin. Namun di Alianz Arena, 15 Maret 2011, mereka justru kalah 2-3. Gol Gomez dan Thomas Muller diimbangi Samuel Eto't, Wesley Sneijder, dan Goran Pandev menghadirkan petaka hanya dua menit sebelum akhir waktu normal.
Persoalan lain, mereka berhadapan dengan Real Madrid. Klub yang juga punya "kelakuan" serupa: gemar menunjukkan kuasa dan "menyiksa" klub-klub lain. Klub yang juga sama-sama tidak punya rasa belas kasihan. Di hadapan Real Madrid, superioritas Bayern Munchen lesap.
Lantas apa yang membuat Don Carlo yakin? "Kami seharusnya bisa unggul 2-0. Kenyataannya pinalti itu gagal dan Real kemudian pelan-pelan lepas dari tekanan. Tapi begitulah sepakbola. Satu kesempatan hilang, satu kesialan, bisa mengubah segalanya."
Jadi Don Carlo menganggap kekalahan Munchen di Alianz semata karena kesialan. Dalam pikirannya, sekiranya sepakan penalti Arturo Vidal tidak melayang melewati mistar, pertandingan akan berbeda. Kebangkitan Real Madrid mungkin tidak akan terjadi dan mereka tidak datang ke Bernabeu dalam kondisi tertinggal.
Zinedine Zidane menolak analisis Ancelotti. "Dalam sepakbola tidak ada keberuntungan. Yang ada adalah strategi yang jitu dan kecerdasan pemain serta kerja keras mereka," kata Zidane dalam sesi konferensi pers usai laga kontra Sporting Gijon, tatkala seorang wartawan menghubung-hubungkan kemenangan yang dramatis itu dengan keberhasilan menekuk Munchen di Jerman. Madrid menang 3-2 berkat gol Isco di menit 90.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/madrid-munchen4_20170418_132349.jpg)