Barcelona vs Juventus
Seberapa Panjang Usia Harapan?
Di luar keberhasilan menorehkan sejarah baru dalam perkara membalikkan kekalahan, situasi seperti ini sebenarnya sudah berkali-kali dihadapi Barcelona
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
BARCELONA lolos ke perempat final Liga Champions 2016-2017 lewat kemenangan 6-1 di laga putaran kedua atas Paris Saint Germain (PSG). Kemenangan yang menutup kekalahan 0-4 di putaran pertama. Sensasional, dan dramatis pula, akan tetapi bukan keajaiban. Sama sekali tidak ada campur tangan keajaiban di sana, sebab pada dasarnya, keajaiban tidak diturunkan dalam sepakbola.
Memang banyak hasil pertandingan sepakbola yang terbilang ajaib. Hasil yang tak logis dan tidak masuk akal. Namun, jika dirunut lebih jauh, jika dicermati lebih dalam, semua hal yang disangka ajaib tersebut bisa dijelaskan secara ilmiah. Hasil pertandingan sepakbola bukan sebangsa produk laku supernatural.
Pun demikian kemenangan Barcelona atas PSG. Bukan keajaiban, sekali lagi. Kemenangan tersebut berangkat dari setidaknya empat faktor, yakni strategi, disiplin, semangat, dan harapan, yang disempurnakan oleh sedikit keuntungan dari kekurangbecusan dari wasit yang memimpin pertandingan.
Namun dibanding keuntungan itu, pengaruh keempat faktor tadi jauh lebih besar. Sebab tanpa pelaksanaan strategi, tanpa disiplin, tanpa semangat, dan terlebih-lebih tanpa harapan, separah apa pun kerja wasit tidak akan membawa pengaruh signifikan.
Keempat faktor ini berkelindan satu sama lain, dan harapan sebagai entri pokoknya. Barcelona tetap menjaga harapan mereka tetap hidup, tak lantas berputus asa dan membiarkannya mati, meski menghadapi fakta menggetarkan: sejarah yang tak memihak mereka. Iya, setidaknya sampai saat itu, belum ada klub yang mampu mengejar defisit empat gol.
Kita tahu bagaimana akhirnya. Barcelona menorehkan sejarah baru. Empat kosong dibalas enam satu, dengan gol yang dilesakkan benar-benar di penghujung laga. Dramatisasi yang lebih kental daripada peristiwa dua gol Manchester United yang bersarang di gawang Bayern Munchen dalam tempo 112 detik di final Liga Champions 1999.
"Kami tidak pernah berhenti berharap. Kami menjaganya sampai wasit benar-benar memberi tanda pertandingan berakhir," kata Sir Alex Ferguson waktu itu.
Jadi seberapa panjang usia harapan? Apakah sepanjang 2 x 45 menit + 2 x 15 menit? Barangkali demikian dan Sir Alex Ferguson telah memberi sumbangsih besar bagi sepakbola lewat satu kecenderungan yang disebut Fergie Time. Anak-anaknya, para pemain Manchester United, begitu sering mencetak gol penting di ujung waktu.
Akan tetapi, harapan kadangkala juga terposisikan anomali. Usia yang kelihatannya panjang padahal sesungguhnya tidak. Sehingga, tetap menjaganya hanya akan berkesudahan sebagai kesia-siaan, yang syukur-syukur tak jatuh pula menjadi kekonyolan.
Dinihari nanti di Camp Nou, Barcelona akan menghadapi Juventus. Putaran pertama di Turin, Barcelona takluk 0-3, dan mereka butuh minimal empat gol untuk lolos. Seolah-olah deja vu, padahal tidak. Situasi ini hanya mirip dalam hitung-hitungan matematis. Kemarin butuh lima sekarang butuh empat. Lebih sedikit dari sisi jumlah, namun berkali lipat lebih sulit untuk diwujudkan. Kenapa? Karena yang dihadapi adalah Juventus.
Di luar keberhasilan menorehkan sejarah baru dalam perkara membalikkan kekalahan jadi kemenangan, situasi seperti ini sebenarnya sudah berkali-kali dihadapi Barcelona. Untuk defisit tiga gol saja sudah lima kali, dan tiga di antaranya berhasil dilalui dengan selamat.
Kontra Ipswich Town FC di musim 1977-1978, RSC Anderlecht di musim 1978-1979, dan IFK Gotenborg di musim 1985-1986, Barcelona kalah 0-3 di putaran pertama dan menang 3-0 di putaran kedua. Laga kemudian dimenangkan lewat adu penalti.
Intinya, Barcelona sudah terbiasa dan teruji pula. Namun sekali lagi, patut untuk digarisbawahi, lawan mereka kali ini adalah Juventus. Satu di antara klub dengan pertahanan paling kokoh dan solid di antero Eropa.
Juventus terakhir kali kalah dengan selisih empat gol pada 8 Februari 2004. Pekan ke 20 Serie A, dari AS Roma. Di kompetisi regional Eropa, kekalahan dengan skor 4-0 datang dari masa yang lebih lama, UEFA Cup (sekarang Europa League) musim kompetisi 2000-2001. Juventus takluk di Estadio Municipal de Balaidos, kandang Celta Vigo. Setelah itu, sekali pun kalah, tandang maupun kandang, tidak pernah lebih dari tiga gol.
"Pasti sangat sulit. Ini Liga Champions, dan kami menghadapi Juventus. Dalam banyak hal mereka tidak berada di bawah kami. Namun kami harus tetap percaya bahwa kami akan selalu mampu melewati kesulitan," kata Neymar dalam wawancara dengan ESPN.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/barcajuve4_20170419_175317.jpg)