Indri Terenyuh Lihat Murid SD Gendong Adiknya ke Sekolah

Indri Rosidah (21), guru muda asal Kota Bandung, Jawa Barat, terenyuh melihat dua muridnya yang menggendong adik mereka, yang masih balita ke sekolah

Facebook
Dua murid SDN Puncak Lolomatua, Kecamatan Ulunoyo, Kabupaten Nias Selatan, terpaksa membawa adik mereka ke sekolah. 

TRIBUN-MEDAN.COM, MEDAN - Indri Rosidah (21), guru muda asal Kota Bandung, Jawa Barat, terenyuh melihat dua muridnya yang menggendong adik mereka, yang masih balita ke sekolah.

Lulusan Universitas Pendidikan Indonesia (UPI), yang mengikuti program Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan, Terluar dan Tertinggal (SM3T), mengunggah foto murid itu ke media sosial.

Foto-foto yang ia unggah menjadi viral sekaligus menjadi perbincangan masyarakat pada Hari Pendidikan Nasional, Selasa, 2 Mei. Indri sudah delapan bulan mengajar di SDN Puncak Lolomatua, Kecamatan Ulunoyo, Kabupaten Nias Selatan.

"Saya cukup sedih melihat keadaan siswa bernama Boisman Gori, yang terkadang belajar terpaksa bawa adiknya. Dia sangat menyayangi adiknya. Saat saya mengajar, dia (Boisman) selalu memeluk dan mencium kepala adiknya," ujarnya, saat dihubungi Tribun-Medan.com, Selasa (2/5/2017).

Indri, sapaan guru kelahiran 23 Februari 1994 itu menceritakan, Boisman merupakan siswa kelas V SD, Puncak Lolomatua. Laokasi tersebut merupakan daerah dataran tertinggi di Nias Selatan.

Indri Rosidah saat mengajar di SDN Puncak Lolomatua, Kecamatan Ulunoyo, Kabupaten Nias Selatan.
Indri Rosidah saat mengajar di SDN Puncak Lolomatua, Kecamatan Ulunoyo, Kabupaten Nias Selatan. (Facebook)

Tidak hanya Boisman, lanjutnya, murid perempuannya Latina Ndruru juga sering membawa adiknya ke sekolah. Boisman dan Latina merupakan murid kelas V SD. Bahkan, Indri memberikan perhatian yang lebih kepada muridnya, Latina.

Ia menceritakan, Latina, anak ketiga dari tujuh bersaudara, dan balita yang sering digendongnya ke sekolah merupakan adik bungsunya. Kehidupan orangtua Latina juga serba kekurangan, karena mereka tinggal di rumah berlantai tanah.

"Lantai rumah orangtua Latina masih tanah. Artinya, tidak gunakan semen sebagaimana rumah kebanyakan orang. Kemudian dinding rumahnya masih tepas, dan beratap rumbia. Rumah mereka paling dekat dengan sekolah ini," katanya.

Sedangkan rumah Boisman sudah berlantai semen dan beratap seng. Boisman dan Latin membawa adik mereka ke sekolah, jika orangtua mereka ke ladang, menyadap getah atau pergi ke pasar.

"Setiap ibunya pergi ke pekan (pasar yang buka seminggu sekali) atau menyadap getah, pasti mereka membawa adik mereka ke sekolah. Anaknya penuh kesadaran, dan tabah hidup dalam keadaan serba kekurangan. Saya terkesima melihat kondisi siswa-siswi di sini," ujarnya.

Indri sempat meneteskan air mata melihat kondisi sekolah di pedalaman Nias Selatan, yang serba kekurangan dan ketinggalan dibanding sekolah-sekolah di perkotaan. Bahkan, ruang kelas tempatnya mengajar masih berdinding papan dan beralas tanah.

"Awal tiba di sini (Puncak Lolomatua) sangat memperihatinkan. Saya tidak bisa menahan air mata. Saya sedih melihat keadaan sekolah dan fasilitas sekolah," katanya.

Indri menambahkan, umumnya murid SDN Puncak Lomatua tidak memakai seragam dengan rapi. Seluruh murid punya persoalan serupa yaitu tidak punya seragam yang bagus atau pakaian bersih.

Namun, muridnya tetap bersemangat belajar, dan saban hari menempuh jarak yang cukup jauh demi belajar. Bahkan, murid yang memakai sepatu dapat dihitung jari.

"Awalnya, saya selalu ingatkan para siswa untuk menggunakan sepatu. Namun, melihat kondisi jalan menuju ke sekolah yang berbatu, saya jadi maklum. Daripada mereka terjatuh, karena jalan yang licin dan berbantu mending tak gunakan sepatu," ujarnya.

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved