Indri Terenyuh Lihat Murid SD Gendong Adiknya ke Sekolah

Indri Rosidah (21), guru muda asal Kota Bandung, Jawa Barat, terenyuh melihat dua muridnya yang menggendong adik mereka, yang masih balita ke sekolah

Facebook
Dua murid SDN Puncak Lolomatua, Kecamatan Ulunoyo, Kabupaten Nias Selatan, terpaksa membawa adik mereka ke sekolah. 

Menurutnya, selama delapan bulan mengajar ikut program SM3T, muridnya aktif dan berani kotor. Bahkan, saat bermain, para murid berani berguling-guling di tanam.

"Saya tinggal empat bulan lagi di sini. Agustus 2017 sudah kembali ke Bandung. Jarak dari kota ke sekolah memang jauh. Dari Telukdalam, Ibu Kota Nias Selatan menuju sekolah bisa sekitar tujuh jam bila sedang musim hujan," ujarnya.

Ia menceritakan, saat tiba di Kantor Bupati Nias Selatan, langsung dipertemukan dengan kepala sekolah. Setelah itu, ia menempuh perjalanan sekitar dua jam ke jalan utama yang beraspal. Kemudian, memasuki jalan berbatu.

"Dari jalan berbatu menuju puncak (lokasi sekolah) jaraknya mencapai 12 kilomater. Bila memasuki musim hujan, kendaraan tidak dapat melintas, sehingga harus berjalan kaki lima jam. Tapi, kalau musim kemarau, kendaraan bisa melintas," katanya.

Nyaman di Nias
Indri, menikmati jadi tenaga pendidik di SDN Puncak Lolomatua, lantaran masyarakat sangat ramah serta menghormati pendatang yang berbeda suku dan keyakinan.

"Saya menikmati suasana di sini. Kebetulan saya tinggal di rumah warga dan respons masyarakat sangat bagus. Saya orang pertama muslim yang tinggal di kampung ini. Awalnya takut, tapi alhamdulilah, tidak ada kesulitan apapun," ujarnya.

Delapan bulan mengajar di Nias Selatan, lanjutnya, sudah memahami bahasa daerah. Padahal, pertama mengajar ia kelabakan, lantaran banyak murid tidak pandai berbahasa Indonesia.

Faktor yang menyebabkan murid, tidak memahami bahasa Indonesia, karena tidak banyak orangtua yang pandai berbahasa Indonesia. Orangtua yang bisa berbahasa Indonesia hanya yang sering ke kota.

Ia menceritakan, dari puluhan murid kelas V SDN Puncak Lolomatua, hanya tujuh orang yang lancar berbahasa Indonesia. Karena itu, banyak siswa yang kebingungan saat Indri menjelaskan pelajaran.

"Agar murid dapat memahami materi pelajaran di ruang kelas, saya meminta satu murid yang lancar berbahasa Indonesia jadi penerjemah. Jadi, setiap saya bicara pakai bahasa Indonesia, murid saya akan kembali menjelaskan kepada teman-temannya pakai bahasa Nias," katanya.

Perempuan lulusan UPI tersebut menambahkan, selama tinggal di Nias terus berupaya belajar bahasa daerah. Alhasil, dia sudah bisa berbicara menggunakan bahasa Nias, meskipun belum mahir.

"Pelan-pelan saya sudah paham menggunakan bahasa Nias. Sedangkan murid saya, mulai lancar berbahasa Indonesia," ujarnya.(tio)

Sumber: Tribun Medan
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved