Monaco vs Juventus
Melawan dengan Gembira
Monaco mematahkan penilaian-penilaian yang meremehkan mereka. Bukan cuma di Ligue 1. Di Liga Champions pun mereka melaju jauh.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
PARA pemain AS Monaco agaknya sadar, di antara kontestan-kontestan fase empat besar Liga Champions 2016-2017, mereka dianggap sebagai yang paling tak berpotensi ke partai puncak. Maka dari itu nyaris tak ada yang buka suara. Tak ada sesumbar.
Mau bagaimana lagi? Dua semifinalis adalah finalis musim kompetisi lalu. Real Madrid dan Atletico Madrid akan bentrok dan siapa pun di antara mereka dinilai pantas berada di Cardiff, 3 Juni 2017. Sedangkan Juventus, yang menjadi lawan mereka, selama bertahun-tahun tidak pernah keluar dari kelompok elite Eropa.
Monaco belum lama bangkit. Terdegradasi ke Ligue 2 pada musim 2010-2011, Monaco kembali ke Ligue 1 dua musim berselang. Namun sampai musim lalu, mereka tak pernah mampu memapas hagemoni Paris Saint Germain (PSG) dan Olympique Lyonnais. Baru di musim inilah Monaco melejit. Hingga pekan ke 35, Monaco masih bercokol di peringkat satu, unggul tiga poin dari PSG dengan keuntungan satu laga pula. Lyon di peringkat empat, tercecer jauh.
Kebangkitan Monaco sesungguhnya tak banyak diperkirakan. Para peramal sepakbola, juga para petaruh, kadung merasa bosan. Sejak dibeli Dmitry Yevgenyevich Rybolovlev, multi-miliuner Rusia pada tahun 2011, peramal dan petaruh ingin melihat Monaco melejit seperti halnya Chelsea, Manchester City, dan PSG.
Kekuatan uang menjadikan klub-klub ini beranjak cepat dari level medioker. Chelsea, City, PSG, mampu membeli pemain-pemain mahal berkualitas nomor satu, mampu mempekerjakan pelatih-pelatih hebat pengoleksi berbagai gelar juara.
Tidak demikian Monaco. Di musim pertamanya Rybolovlev malah tak membeli seorang pun pemain bintang. Langkah yang mengherankan meski hasilnya ternyata tidak buruk-buruk amat. Gebrakan baru muncul di musim 2013-2014. Rybolovlev mendatangkan Joao Moutinho, James Rodriguez, dan Radamel Falcao ke Stade Louis II. Namun musim berikutnya, James dijual ke Real Madrid dan Falcao dipinjamkan ke Manchester United.
Di lain sisi, tak ada pemain bintang baru yang dibeli. Hanya Aymen Abdennour dan sejumlah pemain pinjaman yang --tentu saja-- didapatkan secara gratisan. Di musim yang sama, Monaco malah menjual bintang mereka yang paling terang, Yannick Ferreira Carrasco, ke Atletico Madrid. Carrasco berseragam Monaco sejak tahun 2010.
Maka wajarlah apabila tak ada peramal dan petaruh yang menjagokan Monaco. Apalah arti Radamel Falcao yang sudah berusia 31 dan dua musim terlunta-lunta di Inggris? Apalah yang bisa diandalkan, dan diharapkan, dari Kylian Mbappe, "bocah" 18 tahun yang baru dipromosikan ke skuat utama? Apalagi, di awal musim, kapten sekaligus motor lini tengah mereka, Jeremy Toulalan, justru dijual ke Girondins de Bordeaux.
Monaco mematahkan penilaian-penilaian yang meremehkan mereka. Bukan cuma di Ligue 1. Di Liga Champions pun mereka melaju jauh. Sekarang sudah sampai di semifinal. Tak banyak yang percaya mereka bisa melewati Manchester City sebagaimana hampir tidak ada yang menduga mereka dapat mempecundangi Borussia Dortmund.
Namun di semifinal lawan mereka adalah Juventus. Dan para pemain AS Monaco, agaknya, memang sadar sepenuhnya bahwa mereka tetap ditempatkan di posisi tak diunggulkan. Mereka sadar tak dijagokan dan memilih untuk tidak melakukan "perlawanan" terhadap penilaian itu.
"Kami tahu siapa Juventus. Di lain tempat juga ada Real dan Atletico. Jelas, dibandingkan mereka kami bukanlah siapa-siapa. Akan tetapi sekarang kami juga di semifinal. Tinggal dua langkah menuju gelar juara. Kami mungkin bisa mendapatkannya. Mungkin juga tidak. Namun yang pasti, sampai di sini (semifinal) adalah satu pencapaian yang bagus. Karenanya, apapun yang terjadi, kami akan bermain dengan gembira. Kami akan melawan jagoan-jagoan itu dengan gembira," kata Vadim Vasilyev, wakil presiden klub.
Tidak ada ancaman. Namun kalimat ini seyogianya membuat Juventus waspada. Bermain dengan gembira adalah mengembalikan sepakbola ke semangatnya yang paling mendasar. Semangat bermain. Semangat bersenang-senang. Tak ada beban untuk mengejar kemenangan atau ketakutan didera kekalahan. Semuanya serba lepas dan bebas.
"Kami selalu masuk lapangan tanpa memikirkan apakah kami akan memang atau kalah. Tentu kami menginginkan yang paling baik. Namun kami melakukannya tanpa perlu merasa terbebani. Kami bersenang-senang. Kami tertawa-tawa. Di lapangan, kami senantiasa bergembira. Itulah sebabnya kenapa tim ini menjadi luar biasa," kata Mbappe dalam wawancaranya yang malu- malu dengan SkySports.
Dan pada L'Equipe, Falcao bilang begini: "Saya melewati masa-masa yang sulit dan saya kembali ke sini ketika tak ada seorang pun yang percaya bahwa saya masih bisa bermain sepakbola. Saya kira kesulitan membuat saya lebih kuat. Namun di sini saya mendapatkan lagi kegembiraan bermain sepakbola, dan itulah yang membuat saya berdamai dengan bola."
Begitulah, tak ada sesumbar, memang. Namun kalimat Vasilyev, Mbappe, dan Falcao, menunjukkan bahwa Monaco sekarang berada dalam tahapan yang "sufistik" ini dan karenanya jadi sangat berbahaya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/monaco-juve4_20170503_150011.jpg)