Kisah Anak Magang yang Diminta Ahok Awasi APBD Ini Mendadak Viral

Cerita anak magang yang ditugaskan oleh Ahok mengawasi APBD DKI Jakarta ini mendadak viral di media sosial.

Facebook Ismail Al Anshori
Ismail Al Anshori 

Saat itu kami penasaran, apa yang terjadi pada proses penyusunan anggaran sehingga dokumennya seperti tidak matang?

Untuk mencari jawaban atas pertanyaan tersebut, saya kemudian ngobrol-ngobrol dengan banyak orang. Ketemulah dengan beberapa PNS muda yang ternyata prihatin dengan proses penyusunan anggaran saat itu. Singkat kata, saya menemukan ada langkah-langkah yang dilewati, sehingga penyusunan anggaran menjadi terkesan tidak terkendali. Selain itu, aplikasi IT yang sudah dibuat pun ternyata pemanfaatannya minimal.

Temuan ini kemudian saya laporkan kepada PIC saya. Saat itu hari Senin 16 November 2015 sore hari. PIC saya waktu itu tahu bahwa situasinya cukup parah.

Tapi masalahnya, menurut jadwal, 4 hari lagi atau 20 November 2015 adalah penandatanganan MoU KUA PPAS. Waktunya sempit sekali untuk menangani masalah yang skalanya cukup besar. Karena sudah kadung marah lihat keadaan, saya waktu itu bilang, "Soal jadwal itu urusan elo, gue sih ngga peduli. Lo harus bilang ke Bapak."

Malamnya, si PIC melaporkan kepada Bapak. Selasa pagi Bapak datang ke kantor dan langsung marah-marah di depan awak media. Selasa siang saya ada kesempatan sebentar ngobrol sama Bapak sambil makan siang bareng, melaporkan sedikit temuan saya mengenai proses penyusunan anggaran dan hasilnya.

Rabu 18 November 2015 pagi sekitar jam 9 saya datang ke Balai Kota seperti biasa. Saat baru sampai Gedung DPRD, saya ditelpon oleh PIC saya untuk datang ke ruang Rapim. "Ada rapat nih," katanya.

Saya pikir saat itu cuma rapat tim biasa saja. Saya mendekat ke ruang Rapim masih mengunyah pisang goreng yang saya beli di samping Bank Bangkok. Agak bingung kenapa kok di depan ruang Rapim ada beberapa staf PNS.

Lalu saya masuk. Saat mau buka pintu, saya dengar Bapak sudah marah-marah. Ketika kepala saya nongol di pintu, Bapak langsung bilang, "Ismail, coba kamu tunjukin hasil kemarin melototin anggaran. Paparin aja!" Saya minta waktu sekitar 10 menit untuk rapihkan paparan.

Terutama karena saya harus menghilangkan kalimat-kalimat yang sensitif.

Setelah sudah saya rapihkan, kemudian saya minta ijin untuk memaparkan temuan-temuan anggaran. Saya pakai bahasa yang cukup frontal saat itu. Waktu itu saya pikir periode magang kan hanya sampai Desember 2015. Cuma tersisa 1,5 bulan lagi. Jadi, buat apa saya santun dan jaim? Akhirnya saya beberkan hal-hal yang menurut saya--dan teman-teman magang--kurang tepat.

Saya sampaikan apa saja kesalahan-kesalahan penyusunan anggaran di hampir semua bagian. Saya juga sampaikan berapa rupiah yang harus dipotong di masing-masing SKPD beserta alasannya. Tangan kanan saya mengoperasikan laptop, tangan kiri menggenggam daun meja sambil gemetaran. Keringat dingin bercucuran.

"Entah apakah hari ini bisa pulang dengan selamat," pikir saya waktu itu.

Bisa ditebak hasilnya: Bapak tambah marah. Bapak minta agar anggaran dievaluasi lagi. Lalu dia bilang akan memeriksa satu per satu.

Rapat selesai sekitar jam 12 siang. Kemudian jam 13 dilanjutkan dengan menyisir anggaran Dinas Pariwisata. Jam 12 malam baru selesai.

Penyisiran anggaran tersebut kemudian berlanjut hingga 11 hari kemudian. Mulai jam 9 pagi sampai tengah malam. Pernah Bapak menyisir sampai jam 01:30 pagi.

Sumber: Tribun Jabar
Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved