Kisah Anak Magang yang Diminta Ahok Awasi APBD Ini Mendadak Viral
Cerita anak magang yang ditugaskan oleh Ahok mengawasi APBD DKI Jakarta ini mendadak viral di media sosial.
Pada saat penyisiran anggaran, tugas kami saat itu adalah membuat ringkasan kondisi anggaran SKPD yang akan disisir oleh Bapak. Kami kemudian mendiskusikan temuan-temuan kami ke Bapak secara terbuka.
Sebenarnya apa yang saya dan teman-teman "temukan" saat itu bukan berasal dari penilaian ahli (expert judgment). Sebaliknya, kami justru baru mengenal anggaran di Pemda. Kami hanya mengandalkan logika dan pengetahuan yang selama ini kami dapat selama di luar birokrasi. Tapi anehnya, dan ini bikin saya takjub, Bapak mau mendengarkan opini dari anak ingusan seperti saya. "Lo kirim aja ke WA gue, tulis yang rapi, biar nanti gue yang forward ke SKPD," kata Bapak.
Saat SKPD disisir oleh Bapak, ternyata banyak kesalahan elementer yang diulang-ulang. Oleh karena itu diputuskan agar SKPD disisir dulu oleh Tim Gubernur dan anak magang sebelum menghadap ke Bapak. Coba bayangkan, ada birokrat sudah belasan atau puluhan tahun pengalaman harus menghadapi "sidang anggaran" oleh anak muda umur 20an, yang sebagian besar malah baru saja lulus kuliah. Pasti mereka keki abis.
Seringkali kami harus menemui berbagai mata anggaran yang "ajaib". Yaitu ketika kami tanya apa tujuan dan bagaimana analisa kebutuhannya, si penyusun celingak-celinguk tidak tahu. Mungkin karena sudah berhari-hari begadang dan berkali-kali menemukan keajaiban-keajaiban, saya sempat lepas kendali. Beberapa kali saya komentar dengan nada tinggi dan sinis. Kabarnya ada beberapaPNS komplain ke Bapak. Saya dianggap tidak sopan karena memarahi PNS.
Salah satunya, waktu itu saya berdebat cukup keras mengenai "uang transport untuk warga" sebesar Rp 150 ribu. Saya hitung-hitung ternyata nilai totalnya lumayan besar, sampai ratusan milyar. Uang transport tersebut dipakai sebagai "uang saku" kepada warga Jakarta yang terlibat di kegiatan Pemprov. Salah satunya acara pelatihan.
Saya tanya, "pelatihan kan sudah gratis, serta ada snack dan makan siang. Kenapa harus ada uang transport?" Dijawab, "kasihan kalau ngga ada uang transport, apalagi yang rumahnya jauh." Saya tanya lagi, "Kalau rumahnya jauh, kenapa ngga kita sewa bus aja, atau minta Transjakarta untuk menjemput mereka?" Dijawab lagi, "lokasinya terpisah-pisah, susah untuk koordinasi." Saya tanya lebih lanjut, tapi jawabannya muter-muter lagi, dan saya tetap ngotot pengen hapus.
Di tengah situasi deadlock itu, tiba-tiba ada yang bilang, "kalau ngga dikasih uang transport, warga ngga mau hadir di pelatihan." Saya pikir, itu jawaban yang jujur. Kemudian saya komentar, "Bapak-Ibu kan bilang bahwa pelatihannya bagus dan dibutuhkan. Jika warga ngga mau datang ke pelatihan hanya karena ngga ada uang transport, maka pelatihannya berarti ngga bagus dan ngga dibutuhkan." Rupanya komentar saya ini dianggap kurang ajar. Dan bodohnya, saya waktu itu sama sekali tidak sadar bahwa yang saya hadapi adalah Wali Kota, Wakil Wali Kota, dan Sekretaris Kota.
Lalu datanglah teguran dari Bapak agar saya bisa lebih menahan diri. Dari kejadian itu, saya baru sadar bahwa ternyata Bapak itu sabar banget. Saya baru sebentar di Balai Kota aja sudah pengen marah-marah mulu. Di sisi lain, Bapak mau berdebat panjang lebar dan mengajari ini itu sampai detail. Saya mah ogah banget.
Penyisiran anggaran selama 11 hari ini kemudian membuahkan pemotongan anggaran sekitar Rp 4,5 triliun. Lalu ada cukup banyak kebijakan yang secara fundamental mengubah pola penyusunan anggaran di Jakarta. Misalnya untuk lampu PJU, pemeliharaan taman, pemeliharaan pompa, maintenance kendaraan & utilitas, rehab gedung, pembelian ATK, makanan, dan lain-lain. Termasuk ide untuk membuat 3 level password ebdugeting itu juga mengerucut saat penyisiran anggaran ini.
Setelah itu kemudian Bapak menawari saya menjadi staf gubernur yang khusus menangani anggaran. Kemudian saya juga diminta untuk mengawal urusan lelang. Kedua urusan inilah yang selama 19 bulan terakhir membuat saya harus sering-sering nengok ke belakang kalau malam-malam pulang ke kosan. Bisi we ada orang kalap nyewa pembunuh bayaran, apalagi katanya tarifnya cukup murah.
Terimakasih, Bapak. Saya pikir, Bapak adalah satu-satunya politisi yang mau memberikan kesempatan dan kepercayaan bagi anak muda untuk berbagi peran secara aktif menangani hal strategis. Tidak pernah saya menjumpai orang yang begitu terbuka, jujur, dan apa adanya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ismail_al_anshori_20170511_122914.jpg)