Ajax Amsterdam vs Manchester United
Demi Tiket Terakhir
Berbeda dari empat tahun lalu, Mourinho sekarang justru sangat menginginkan tropi Europa League
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Komposisi yang sedikit banyak mengkhawatirkan. Sebelum Ibrahimovic cedera, Manchester United berada selangkah di depan Ajax. Selain bekal pengalaman segudang, Friends Arena juga rumah baginya. Di sini, nama Ibrahimovic disebutkan dengan takzim.
Tanpa Ibrahimovic, Mourinho tidak punya pilihan kecuali pada Rooney yang makin lamban dan Marcus Rashford yang angin-anginan. Pula demikian di belakang. Bailey dan Smalling lebih menjamin kekokohan dan ketenangan. Marcos Rojo masih lumayan. Berbanding terbalik dengan Phil Jones dan Daley Blind. Seperti Rashford, keduanya kerap bermain tidak stabil. Kadang solid, tak jarang rapuh dan begitu mudah ditembus.
Di lain sisi, pasukan muda Ajax Amsterdam sangat eksplosif. Cepat dan mampu menyerang tak putus sepanjang pertandingan dalam tempo tinggi. Dan sebagai anak-anak muda, pastinya, otot- otot mereka juga jauh lebih bugar.
Pertanyaannya, cukupkah modal ini untuk mengubur ambisi Manchester United? Bagi Teddy Sheringham tidak. Pada Mirror, Sheringham, pahlawan kemenangan Manchester United pada final Liga Champions 1999 yang dramatis, mengatakan Ajax masih terlalu hijau.
"Pertandingan final adalah akumulasi dari taktik, semangat, dan pengalaman. Ajax kalah pada pengalaman dan taktik. Mereka punya tradisi namun belakangan tidak pernah bisa sampai pada level yang benar-benar matang. Mereka selalu muda. Dan melawan United di final satu kejuaraan Eropa tidak sama dengan bermain bola di taman bermain," ujarnya.
Kalimat Sheringham barangkali memang kedengaran terlalu pongah juga. Terutama kalau ingatan kembali dilayangkan ke tahun 1995. Ajax merajai Eropa dengan skuat yang berusia rata-rata 24. Skuat yang di kemudian hari melahirkan para legenda Belanda, termasuk Dany Blind, ayah Daley.
Namun dicermati lebih jauh, ada dua poin yang membuat kecemerlangan itu tak dapat dijadikan sebagai pembanding. Ajax 1995 dilatih Louis van Gaal, juru taktik jempolan yang dengan caranya sendiri memperkaya sistem Total Football Rinus Michel. Sekarang Ajax di tangan Peter Bosz. Hingga manajemen Ajax merekrutnya dari Maccabi Tel Aviv tahun lalu, pencapaian tertingginya adalah membawa Heracles Almelo menjadi juara Eerste Divisie, kompetisi kasta kedua sepakbola Belanda.
Poin lain, bibit skuat Ajax sekarang kalah kelas dibanding bibit 1995. Tidak ada pemain-pemain yang benar-benar bisa dianggap sebagai "reinkarnasi" Clarence Seedorf, Edgar Davis, Marc Overmars, Frank dan Ronald de Boer, dan Patrick Kluivert.
Nama yang terakhir bahkan mengirimkan keturunan langsungnya, Justin. Akan tetapi, sekali lagi, Justin bukan Patrick. Dan jangan lupa, di skuat itu ada Frank Rijkaard. Pemimpin kharismatik yang dihormati pemain- pemain lain.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/ajax-vs-mu3_20170524_112001.jpg)