Juventus vs Real Madrid
Virtuoso di Sarang Naga
Virtuoso Zidane sebagai pemain berlanjut saat dia melatih. Siasat, taktik, dan strateginya penuh dengan sentuhan seni.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
SEJUMLAH negara di Eropa lekat dengan mitologi naga. Akan tetapi memang hanya Wales yang menempatkan mahluk yang entah ada entah tidak tersebut di posisi paling terhormat. Iya, naga menjadi bagian dari bendera. Dan naga itu, Y Ddraig Goch, berwarna merah dengan lidah api yang menjulur dan cakar yang siap mencengkeram dan mencabik-cabik, juga disematkan di logo-logo badan otoritas olahraga. Tak terkecuali sepakbola. Berangkat dari ucapan Gareth Bale di Piala Eropa 2016, melejit satu lagu berjudul The Dragon in My Shirt.
Kini naga yang lain mendapatkan panggung yang tiada kalah cemerlang. Naga berwarna biru dengan penampilan yang jauh dari kesan seram.
Naga tersebut, yang mengingatkan pada naga baik hati dalam film How to Train Your Dragon, diberdirikan di tengah-tengah landmark Wales, Cardiff Castle, bersama-sama The Big Ear, Si Kuping Besar, tropi Liga Champions. Dengan posisi sayap yang membentang, naga ini seolah-olah hendak melindungi lambang supremasi sepakbola Eropa yang dinihari nanti, di Millenium Stadium, akan diperebutkan Juventus dan Real Madrid.
Maknanya bisa beragam. Boleh jadi hendak mempertegas keperkasaan bangsa Wales seturut dongeng Y Ddraig Goch. Barangkali pula semacam pesan. Bahwa di sarang naga, tropi ini akan aman dari segenap ancaman. Termasuk terorisme. Belum lekang dari ingatan teror yang menghantam Inggris. Sebanyak 22 orang tewas dan puluhan terluka akibat ledakan bom di konser Ariana Grande.
Terlepas dari kemungkinan latar belakang ini, final Liga Champions edisi 61 (terhitung sejak digelar dengan format European Cup atau Piala Champions pertama kali pada musim 1955- 1956), barangkali akan menjadi bentrok yang paling berseni. Pertarungan virtuoso. Duel antara dua klub terbaik dari kutub-kutub yang saling bertolak-belakang.
Virtuoso sesungguhnya istilah dalam musik. Yakni orang yang memiliki kemahiran luar biasa, sangat ahli dalam memainkan alat musik sehingga mampu melahirkan rangkaian nada yang aduhai. Orang-orang Italia yang kreatif kemudian mendekatkannya dengan sepakbola. Sandro Mazzola, Gianni Rivera, Giancarlo Antognoni, Roberto Baggio sampai Francesco Totti.
Orang-orang luar Italia mendapatkan gelar yang sama. Michael Platini, Diego Maradona, Enzo Francescoli, Dejan Sevicevic. Mereka para fantasista. Para maestro. Virtuoso dalam mengolah bola. Di kaki mereka, bola menjelma benda yang tak terjelaskan dan tak terpaparkan. Bola yang melahirkan ketakjuban-ketakjuban.
Zinedine Zidane tentu saja fantasista juga. Adalah virtuoso yang barangkali paling dikenang dalam sejarah Serie A era modern setelah Platini dan Maradona. Dia datang ke Italia, mendarat di Juventus setelah melewati empat musim yang gemilang di Bordeux.
Melangkah dari Turin ke Madrid, reputasi Zidane sebagai virtuoso semakin menguat. Bergabung dalam proyek ambisius Los Galacticos, Zidane menjadi figur sentral. Bintang terunggul di antara parade bintang. Dan dia pensiun sebagai legenda.
Beberapa tahun menepi dari hiruk pikuk sepakbola, riwayat Zidane berlanjut. Dari lapangan ke tepi lapangan. Dari lebih banyak memeras keringat ke sepenuhnya memeras otak.
Tidak terlalu banyak pemain besar yang juga sukses melatih. Johan Cruyff berhasil. Franz Beckenbeauer berhasil. Namun Pele gagal. Sir Bobby Charlton gagal. Maradona gagal. Platini gagal. Marco van Basten juga gagal. Jajaran pelatih yang berhasil justru datang dari mereka yang ketika bermain tergolong bagus namun tak menonjol sehingga jauh dari popularitas, biasa-biasa saja, bahkan tidak punya nama sama sekali. Sebutlah, misalnya, Carlo Ancelotti, Josep Guardiola, Antonio Conte, Sir Alex Ferguson, dan Jose Mourinho.
Zidane memulai riwayat barunya di bawah bayang-barang kegagalan para maestro itu. Bayang- bayang yang sangat kuat karena dia diserahi tanggung jawab melatih Real Madrid, klub yang masih mengidap sindrom kepanikan. Manajemen Real Madrid, siapa pun presidennya, adalah manajemen yang tidak sabaran. Tolok ukur keberhasilan pelatih hanya satu, yakni tropi kejuaraan. Tanpa tropi berarti gagal dan konsekuensinya adalah dipecat.
Sebagai pembanding, Arsene Wenger mengambil pekerjaan sebagai manajer Arsenal pada tahun 1996 dan dia akan bertahan sampai setidaknya dua tahun mendatang. Jika dihitung dari tahun yang sama, minus Zidane, Real Madrid telah mempekerjakan 18 pelatih. Apakah selama periode ini tidak ada tropi yang bertambah di lemari Madrid? Ada, jumlahnya 26. Termasuk empat tropi Liga Champions. Namun itu tadi, manajemen Real Madrid mengharamkan nirgelar.
Sejauh ini posisi Zidane masih aman. Real Madrid telah mengunci gelar La Liga, merebutnya dari tangan Barcelona dengan cara yang penuh gaya pula.
Fabio Capello dua kali mengantarkan Real Madrid berpesta di Plaza de Cibeles. Dua kali pula dia dipecat. Kenapa? Karena permainan Madrid yang menjemukan --monoton, miskin kreasi, minim gol. Apa boleh buat, Capello tidak dapat memenuhi standarisasi Real Madrid: bermain cantik sekaligus memenangkan laga. Dia juga tidak bisa menciptakan atmosfer yang memungkinkan pemain-pemain Real Madrid menjadi selebritas. Padahal, Real Madrid perlu pemasukan dari iklan, hak siar televisi, dan hasil penjualan merchandise.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/juventus-vs-madrid4_20170603_003045.jpg)