Juventus vs Real Madrid
Virtuoso di Sarang Naga
Virtuoso Zidane sebagai pemain berlanjut saat dia melatih. Siasat, taktik, dan strateginya penuh dengan sentuhan seni.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
Zidane dengan rekam jejak masa lalunya yang gemilang berhasil sampai pada titik yang dicapai Jose Mourinho. Dia berhasil membuat Real Madrid menguasai keriuhan media. Berbagi tempat dengan Barcelona. Dari sisi teknis, Zidane bahkan lebih baik.
Mourinho menunjukkan dirinya sebagai bos. Namun sikap ini menjadi bumerang baginya. Mourinho terlibat konflik dengan Iker Casilas, Sergio Ramos, dan Cristiano Ronaldo, dan dia akhirnya dipaksa angkat kaki. Zidane tidak. Zidane sepenuhnya memegang kontrol. Seluruh pemain Real Madrid menaruh hormat yang tinggi padanya.
Apakah semata karena kelegendarisannya sebagai pemain? Tentu saja tidak. Virtuoso Zidane sebagai pemain berlanjut saat dia melatih. Siasat, taktik, dan strateginya penuh dengan sentuhan seni. Sentuhan magis. Dia mampu menyusun rotasi yang sempurna. Membentuk skuat Real Madrid seolah-olah menjadi dua yang sama-sama memiliki daya rusak yang dahsyat. Tidak ada seorang pun pemain yang tersia-sia tanpa kontribusi di bangku cadangan.
Zidane menjadikan Real Madrid super ofensif. Statistik yang dirilis opta menunjukkan bahwa sepanjang musim ini di Liga Champions, mereka melepaskan 226 tembakan dan menghasilkan 32 gol. Tertinggi dibanding kontestan lain. Juventus berada di urutan enam. Melepaskan 169 tembakan dan menghasilkan 21 gol.
Posisi berbalik apabila parameternya pertahanan. Dalam 12 laga, gawang Juventus yang dikawal Gianluigi Buffon hanya kebobolan tiga gol. Sedangkan gawang Real Madrid dijebol 17 kali.
Massimiliano Allegri pada dasarnya bukanlah seorang master untuk urusan bertahan. Dia bukan penganut paham catenaccio. Dia tak piawai benar menerapkan strategi pertahanan gerendel ini. Allegri pernah mencoba menerapkan catenaccio saat AC Milan melawat ke Camp Nou pada putaran kedua Liga Champions ? Hasilnya, Milan kocar-kacir dan dilumat Barcelona.
Lalu kenapa sekarang dia bisa membuat lini belakang Juventus sekokoh batu karang? Kuncinya adalah materi pemain dan kepiawaian mengatur sinergi. Allegri adalah virtuoso juga. Buffon dan tiga pemain yang berdiri di depannya, trio BBC: Andrea Barzagli, Leonardo Bonucci, dan Giorgio Chiellini, menjadi kuartet yang sangat solid.
Duel ofensif kontra defensif biasanya tidak akan berlangsung menarik. Cenderung membosankan dan bikin ngantuk. Yang satu memukul yang satu lari. Datar dari awal sampai akhir. Pemenang sudah bisa ditebak. Tinggal menunggu momentum. Akan tetapi, kadangkala, pertarungan model begini bisa juga menghadirkan drama yang akan dikenang lama sekali, seperti Foreman lawan Ali.(t agus khaidir)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/juventus-vs-madrid4_20170603_003045.jpg)