Catatan Sepakbola
Real Madrid yang Kejam
Real Madrid adalah klub terbesar di dunia dan karena itu kekalahan digariskan sebagai sesuatu yang hukumnya haram.
Penulis: T. Agus Khaidir | Editor: T. Agus Khaidir
SEBELUM melangkah lebih jauh, ingin saya tegaskan bahwa kata kejam di sini tidak dipilih untuk menggambarkan sikap Real Madrid yang sama sekali tak berbelas asih kepada Juventus. Utamanya kepada Gianluigi Buffon.
Kiper ini sudah berusia 39 dan final di Cardiff, kemarin malam, bisa jadi merupakan final terakhirnya di Liga Champions. Buffon memang masih akan berada di bawah mistar Juventus dalam dua tiga tahun mendatang. Akan tetapi, kesempatan untuk bermain kembali di laga puncak, tentu saja, sangat tidak mudah. Potensinya mungkin tidak lebih dari 25 persen.
Buffon bermain gemilang hingga final. Gawangnya cuma kebobolan tiga kali. Musim ini, bersama Juventus, dia sudah meraih gelar juara Serie A dan Copa Italia. Gelar Liga Champions bukan cuma menebus kegagalannya di dua laga final sebelumnya, lebih jauh juga membuka peluangnya meraih gelar Ballon d'Or. Gelar prestisius yang sesungguhnya pantas untuk kiper legendaris seperti dia.
Kita tahu ini tidak akan terjadi. Buffon tetap gagal. Di Cardiff, gawangnya dibobol empat kali. Satu laga mencoreng 12 laga yang luar biasa. Dan seiring itu, buyarlah peluangnya mendapatkan Ballon d'Or. Ronaldo yang dua kali memaksanya memungut bola dari dalam gawang dan total melesakkan 12 gol lesakannya sepanjang kompetisi, kembali berada di urutan paling depan untuk menerima tropi itu.
Kejam, memang. Tak berbelas kasih, memang. Sebagaimana mereka lakukan pula pada seteru sekota, Atletico. Betapa tidak. Empat musim beruntun Madrid bentrok dengan Atletico dan empat kali pula Atletico jadi pesakitan. Sekali angkat kaki di perempat final, sekali tumbang di semi final, dua kali terkapar di final.
Namun bukan kekejaman seperti ini yang saya maksudkan. Sebab kekejaman-kekejaman yang demikian tidak ada artinya sama sekali jika dibandingkan kekejaman Real Madrid pada diri mereka sendiri.
Mari kita mulai dari bintang terbesar Real Madrid, Cristiano Ronaldo. Dibeli dari Manchester United tahun 2009 dengan banderol yang kala itu memecahkan rekor dunia, 94 juta euro. Sejak itu, sampai malam kemarin di Cardiff, Ronaldo telah menebusnya dengan 407 gol. Jauh lebih banyak dari Raul Gonzales, Alfredo Di Stefano, Santillana, Ferenc Puskas, dan Hugo Sanchez.
Tak pelak, Ronaldo telah menjadi legenda terbesar Real Madrid --meski untuk perkara jumlah gelar dia masih kalah dari Di Stefano dan Puskas.
Namun tahukah Anda bagaimana perlakuan para Madridistas (sebutan untuk suporter Real Madrid) terhadap Ronaldo? Apakah dia selalu dielu-elukan? Sama sekali tidak. Musim ini, pada banyak pertandingan, dari tribun-tribun di Santiago Bernabeau, menggema chants, kalimat ejekan untuk Ronaldo: Cristiano Hijo de Puta. Tahukah Anda apa artinya? Cristiano anak pelacur! Ejekan yang sungguh-sungguh kurang ajar ini dilontarkan hanya gara-gara dia gagal mencetak gol di dua tiga pertandingan dan ratusan golnya dan gelar demi gelar yang telah diraihnya seolah dilupakan begitu saja.
Wujud sikap tak tahu terima kasih? Jika dipandang sekilas pintas barangkali demikian. Di AS Roma, Francesco Totti dipuja setinggi langit. Totti adalah pangeran. Kesayangan publik. Tidak pernah terdengar ada ejekan-ejekan yang keterlaluan dari tifosi Roma untuknya. Padahal, tak banyak gelar yang diberikannya. Berjarak langit dan bumi jika dibandingkan Ronaldo.
Jamie Carragher dan Steven Gerrard juga dipuji laksana orang suci oleh suporter-suporter Liverpool. Mereka ditempatkan di posisi yang agung meski tak banyak memberi gelar dan beberapa kali membuat kesalahan fatal dan konyol yang membuat Liverpool terjengkang.
Menempatkan Ronaldo bersisian dengan ketiga pemain ini makin menegaskan betapa buruknya sikap Madridistas. Tak ada bagi Ronaldo? Pasti. Akan tetapi, apa boleh buat, memang seperti itulah konsekuensi yang harus dia terima saat menyetujui bermain untuk Real Madrid. Pemain mana pun akan dihadapkan pada konsekuensi yang sama.
Kenapa? Karena Real Madrid tidak mengenal kata kalah. Keberhasilan merajai Eropa pada era Di Stefano-Puskas, membentuk pribadi superior. Real Madrid adalah klub terbesar di dunia dan karena itu kekalahan digariskan sebagai sesuatu yang hukumnya haram. Kemenangan adalah keharusan. Gelar adalah tujuan yang mutlak.
Jika Anda datang ke La Fabrica, akademi sepakbola yang menjadi tempat kelahiran pemain- pemain muda Real Madrid, satu hal yang paling gampang dilihat adalah kengototan. Antar pemain saling berkompetisi menjadi yang terbaik. Sejak dini, pada mereka, ditanamkan pemahaman bahwa kekalahan tidak dapat diterima di sini. Satu persatu mereka dididik untuk berlomba menjadi bintang paling cemerlang.
Zidanes y Pavones: ingin seperti Zidane atau Pavon. Pertanyaan ini disodorkan kepada seluruh pemain muda pada hari pertama mereka di La Fabrica.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/juve-madrid3_20170604_183027.jpg)