Hewan Liar Panik dan Bermatian di Sekitar Gunung Agung, Ini Kata Mbah Surono
Peristiwa hewan liar berbondong-bondong turun dari gunung berapi jelang erupsi bukannya tanpa alasan ilmiah.
TRIBUN-MEDAN.com-Gunung Agung masih berstatus awas.
Meski begitu, gunung yang terakhir kali erupsi pada 1963 tersebut bisa memuntahkan isi perutnya kapan saja.
Hal tersebut seperti yang dikatakan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Kasbani.
Sementara itu, sejumlah tanda-tanda sudah muncul seiring peningkatan aktivitas vulkanik dan status bahaya Gunung Agung.
Satu diantaranya adalah saat hewan-hewan mulai turun gunung.
Hewan memang dianggap memiliki 'indra keenam'.
Sehingga, makhluk-makhluk itu disebut bisa mengerti pertanda alam yang tak bisa dirasa manusia.
Namun, peristiwa hewan liar berbondong-bondong turun dari gunung berapi jelang erupsi bukannya tanpa alasan ilmiah.
Dijelaskan Mantan Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana, Surono, hal tersebut lantaran adanya gelombang suara yang jadi tanda gunung berapi segera erupsi.
Namun, gelombang suara tersebut memiliki intensitas yang terlampau rendah sehingga manusia tak bisa mendengar sementara hewan-hewan bisa peka.
Seperti dikutip dari Tribun Bali hal tersebut dikatakan Surono berdasarkan dari pengalaman yang ia jalani sendiri.
Pada 1990 silam, pria yang akrab dipanggil Mbah Surono ini memasang alat pemantau gelombang suara berfrekuensi rendah (0,1-50 Hertz/Hz), frekuensi menengah (200 Hz- 5.000 Hz), dan frekuensi tinggi (di atas 15 kHz) di Gunung Kelud yang hendak meletus.
Adapun, saat detik-detik Gunung Kelud menyemburkan isi perutnya, ada beberapa zat yang menyumbat gunung.
"Sebelum gunung meletus, ada tekanan fluida (bisa berupa gas, uap air, atau magma) yang mendorong sumbat gunung," katanya.
Akibatnya, suara bising pun tercipta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/medan/foto/bank/originals/hewan_panik_20170925_181250.jpg)