Travel

Jumiati Kelola Wisata Mangrove Berbasis Masyarakat

Saat tiba di gapura tersebut, sesungguhnya lokasi Wisata Mangrove Kampung Nipah masih berjarak sekitar dua kilometer lagi dari gapura.

TRIBUN MEDAN/ TRULY OKTO PURBA
TULISAN “MANGROVE” di lokasi Wisata Mangrove Kampoeng Nipah di Desa Sei Nagalawan, Kampung Nipah, Dusun 3, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumatera Utara. 

TRIBUN-MEDAN.COM, PERBAUNGAN - Pak Amin (45) menyambut hangat begitu mobil Avanza biru yang ditumpangi enam pengunjung berhenti di depan sebuah gapura di kawasan Wisata Mangrove Kampoeng Nipah, Sabtu (21/10/2017) siang.

Pak Amin adalah petugas parkir dan bagian pembelian tiket rakit di kawasan Wisata Mangrove. Beliaulah yang mengarahkan pengunjung yang datang dengan kendaraan bermotor baik motor maupun mobil untuk memarkirkan kendaraan di halaman sebuah gedung di dekat gapura.

Saat tiba di gapura tersebut, sesungguhnya lokasi Wisata Mangrove Kampung Nipah masih berjarak sekitar dua kilometer lagi dari gapura. Untuk mencapai lokasi tersebut, Pak Amin mengarahkan pengunjung menggunakan dua transportasi, yakni melalui darat dan air.

Jika melalui darat, pengunjung dapat berjalan kaki atau mengendarai sepeda motor hingga ke lokasi wisata. Di lokasi wisata, dipungut biaya parkir Rp 10 ribu per sepeda motor.

Sedangkan jika melalui air, pengunjung diarahkan menggunakan rakit. Rakitnya sederhana. Dibentuk dari kayu broti sebagai tiang dan papan sebagai dasar (lantai) rakit. Sedangkan penggeraknya menggunakan mesin berbahan solar.

Baca: Asita Fokus Promosikan Pariwisata Bromo Tengger Semeru

Sekitar 30‑an penumpang bisa menumpang di rakit ini. Jangan mengira, rakit akan menyeberangi lautan, melainkan hanya melewati perairan berbentuk sungai yang lebih cocok disebut sebagai aliran air dari laut. Lebarnya hanya sekitar 15 meter.

Di sisi aliran sungai "terparkir" sampan‑sampan nelayan yang biasa digunakan nelayan untuk melaut.

 Meskipun hanya aliran air dari pantai, tapi dari sinilah keseruan menikmati Wisata Mangrove dimulai. Walaupun bisa berjalan kaki, tapi banyak pengunjung yang memilih menggunakan rakit untuk merasakan sensasi menyeberangi "lautan" kecil. Ongkosnya tak mahal. Hanya Rp 8.000 per penumpang. Ongkos Rp 8.000 sudah sekaligus sebagai tiket masuk. Pak Aminlah yang bertugas membagikan tiket rakit tersebut.

SUASANA pantai yang keren menjadi penarik untuk berswafoto (selfie).
SUASANA pantai yang keren menjadi penarik untuk berswafoto (selfie). (TRIBUN MEDAN/TRULY OKTO PURBA)

"Ongkos Rp 8.000 ini tak masuk ke kantong pengelola seluruhnya. Sebesar Rp 5.000 untuk pengelola dan Rp 3.000 untuk Pemkab Serdang Bedagai. Ada kuitansi berlogo Pemkab Serdang Bedagai yang diberikan ke pengunjung. Jadi bukan kutipan liar ya," kata Pak Amin.

Secara administratif, Wisata Mangrove Kampoeng Nipah ini terletak di Desa Sei Nagalawan, Kampung Nipah, Dusun 3, Kecamatan Perbaungan, Kabupaten Serdang Bedagai (Sergai), Provinsi Sumatera Utara.

Perjalanan dapat ditempuh dengan waktu kurang lebih 1,5 ‑ 2 jam dari Kota Medan dengan menggunakan transportasi umum dan berhenti di Simpang Pantai Klang, Kecamatan Sei Buluh. Dari Simpang Pantai Klang, perjalanan dilanjutkan menuju Kampoeng Nipah yang berjarak sekitar delapan kilometer.

Jangan khawatir kalau kendaraan Anda akan rusak. Kondisi jalan menuju Kamnpoeng Nipah sudah cukup baik dan sudah beraspal. Transportasi yang digunakan menuju Kampoeng Nipah cukup beragam, mulai dari sepeda motor, becak ataupun mobil.

Dari gapura menuju lokasi utama Wisata Mangrove, butuh perjalanan sekitar 10 menit menggunakan rakit. Namun, transportasi rakit ini tergantung volume air. Jika air laut naik, maka rakit bisa diisi hingga 30‑an penumpang. Tetapi jika air laut surut, rakit hanya bisa diisi setengahnya saja.

Halaman
1234
Sumber: Tribun Medan
  • Ikuti kami di
    KOMENTAR

    BERITA TERKINI

    © 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
    All Right Reserved