Breaking News

9 Tahun Warga Selandi tak Nyenyak Tidur, Waswas Gunung Sinabung Meletus

Rasanya gelisah dan was-was. Mau mandi saja takut. Desa ini berjarak 3,5 kilometer dari Gunung Sinabung

Editor: Salomo Tarigan
HAND OUT/ANTO SEMBIRING FOR TRIBUN MEDAN
Gunung Sinabung menyemburkan material vulkanik ketika erupsi, di Karo, Sumatera Utara, Senin (19/2/2018). Gunung Sinabung erupsi dengan tinggi kolom 5.000 meter. 

Laporan Wartawan Tribun Medan, Jefri Susetio 

TRIBUN-MEDAN.COM, KARO - Ratusan warga Selandi Lama, Kecamatan Payung, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, yang berjarak 3,5 kilometer dari puncak Gunung Sinabung merasa was-was. Tidak kurang sembilan tahun belakangan ini mereka tidak bisa nyenyak tidur khawatir adanya erupsi besar.

 "Liatlah kampung ini, kami tidak kuat lagi. Kami takut tidur malam karena khawatir mendadak Gunung Sinabung meletus. Rasanya gelisah dan was-was. Mau mandi saja takut. Desa ini berjarak 3,5 kilometer dari Gunung Sinabung," ujar Ani Beru Sembiring (37) kepada Tribun-Medan.com. 

 Ani bersama puluhan perempuan lain yang sedang bergotong royong bersihkan debu vulkanik menyapa reporter Tribun Medan/Tribun-Medan.com. Ia diminta warga kampung untuk menjelaskan kesulitan warga sejak sembilan tahun belakangan ini.

 Ihwalnya, perempuan berkulit sawo matang ini cerita tentang pengalamannya menghadapi erupsi Gunung Sinabung. Namun, tiba-tiba, ia menyeka air mata yang mengalir di pipi saat menceritakan kehilangan mata pencarian karena tanaman sudah hancur.

Gunung Sinabung yang melontarkan abu vulkanik. (REUTERS/Albert Damanik)
Gunung Sinabung yang melontarkan abu vulkanik. (REUTERS/Albert Damanik) ()

 Erupsi Gunung Sinabung pada Senin (19/2/2018) telah meluluh-lantakkan lahan perhatian dan erupsi terbesar sejak 2010. Kala itu, selama tiga jam Desa Selandi Lama gelap gulita, dan hujan debu vulkanik bercampur material kericil kecil menerjang rumah.

 Adapun tinggi kolom mencapai 5000 meter. Padahal biasanya hanya 2500 meter. Kemudian, jarak luncur awan panas ke arah Selatan-Tenggara mencapai 4500 meter. Karena itu, ada rasa ketakutan beraktivitas tinggal di desa itu.

 "Saya lahir di sini, penduduk asli kampung ini. Rasanya, sangat sakit tinggal di sini. Sejak 2010 kehidupan kami susah. tanaman di ladang hancur, gagal panen. Selalu hancur tanaman kami. Kena debu sedikit hancur," katanya. 

 Setiap debu vulkanik Gunung Sinabung menerjang lahan pertanian, lanjutnya, warga terpaksa tidak bercocok tanam selama satu bulan. Apalagi, tanaman padi, tomat, jagung, bawang serta sayuran dipastikan mati.  

 Kemarin, Selasa (20/2/2018) siang, Tribun Medan/Tribun-Medan.com melakukan berkeliling ke beberapa kecamatan yang tertutup debu vulkanik. Tapi, ketika sedang melintas di Desa Payung, Kecamatan Payung tiba-tiba dua orang pemuda yang mengendarai sepeda motor menyapa.

Baca: Astaga! 14 Rumah Ludes Terbakar, Gara-gara Pak Misdi Tuang Bensin dekat Kompor

Baca: 5 Kecamatan Gagal Panen, Bupati Karo Bilang Belum ada Relokasi Baru Korban Sinabung

 Selanjutnya, dua pemuda itu, memohon agar menilik Desa Selandi Lama yang tertutup debu vulkanik. Ada 120 kepala keluarga (KK) tidak bisa beraktivitas lantaran lahan pertanian sudah hancur. Bahkan, mereka tidak direlokasi ke tempat yang baru.

 “Mas, tolong-lah liput kami dan melihat langsung kondisi desa. Kami tidak direlokasi dan tak dianggap sama Pemerintah. Padahal, desa kami berjarak 3,5 kilometer dari Gunung Sinabung. Kami hidup menderita terkena debu vulkanik," cetus seorang pemuda bermasker dan bertutup wajah pakai sarung. 

 Pemuda itu berujar, sebelum bertemu Tribun-Medan, ada puluhan warga melayangkan protes di Kantor Camat Payung. Mereka kesal, tidak ada kepedulian dari Pemkab Karo untuk menyiram debu yang menutupi rumah dan perkampungan. 

Sumber: Tribun Medan
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved