Pilkada Jujur dan Damai Lahirkan Pemimpin Berkualitas

Soal pragmatisme telah menjadi masalah menahun di Indonesia. Bukan sekadar pragmatis, lebih jauh telah sampai pada level pasrah.

Pilkada Jujur dan Damai Lahirkan Pemimpin Berkualitas
TRIBUN MEDAN/RISKY CAHYADI
JALAN BERSAMA - Calon Gubernur Sumut Djarot Saiful Hidayat (kiri), dan Calon Gubernur Sumut, Edy Rahmayadi (kanan), berjalan bersama saat mengikuti Deklarasi Kampanye Damai di Taman Budaya Sumatera Utara (TBSU), Medan, 18 Februari 2018. Dua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur berkomitmen melaksanakan Pilkada Sumut yang damai. 

BARU-baru ini, media sosial di Indonesia riuh oleh satu meme. Ada foto politisi PDI Perjuangan, Ganjar Pranowo, di sana, serta sederet kalimat: "kau bilang Tuhan sangat dekat, namun kau memanggilnya dengan pengeras suara setiap saat."

Kombinasi foto Ganjar dan kalimat inilah yang kemudian melecutkan masalah. Ganjar dituding melakukan penistaan agama, sebagaimana sebelumnya Sukmawati Soekarnoputri lewat puisi berjudul 'Ibu Indonesia'.

Belakangan, di antara pihak-pihak yang paling getol menggempur Ganjar itu, bahkan sampai bersiap melapor ke polisi segala, meminta maaf. Mereka beralasan baru mengetahui bahwa puisi yang dipersangkakan sebagai puisi Ganjar sesungguhnya adalah puisi Kyai Haji Ahmad Mustofa Bisri, mantan Rois Am Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PB NU). Puisi berjudul 'Kau Ini Bagaimana atau Aku Harus Bagaimana' ini ditulis Gus Mus, sapaan Kyai Bisri, pada tahun 1987.

Meme Ganjar hanya satu contoh betapa hoaks, atau kabar bohong (istilah aslinya: hoax), bisa begitu gampang menyebar ketika bersentuhan dengan politik. Puisi Gus Mus telah berusia 31 tahun dan selama itu Gus Mus telah membacakannya berkali-kali dan tidak pernah memunculkan keberatan dalam bentuk apapun. Termasuk ketika dibacakan oleh orang lain. Namun, masalah langsung mengemuka begitu Ganjar membacakannya.

Kenapa? Karena Ganjar politisi, berasal dari partai pemerintah, dan dia saat ini sedang bertarung di ajang Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) Jawa Tengah. Ganjar calon kuat. Elektabilitasnya lebih tinggi dibanding kontestan lain. Maka, memang, tidak ada cara untuk mengalahkannya selain menggerus elektabilitas itu. Tak peduli dengan cara paling ngawur sekalipun.

Kecenderungan model demikian, kita tahu, dimulai sejak Pemilihan Umum Presiden (Pilpres) 2014. Kuat dipengaruhi perkembangan teknologi komunikasi, kampanye-kampanye bawah tanah dengan slogan dan pamflet stensilan bergeser ke informasi-informasi yang dilayangkan lewat gawai.

Berita, foto, maupun video yang menjadi kampanye negatif bahkan kampanye hitam bagi dua calon presiden waktu itu, Joko Widodo dan Prabowo Subiyanto, menyusup sampai ke ruang-ruang paling privasi. Hoaks bertebaran. Saking banyak ragamnya dan canggih mengemasannya, tidak mudah untuk menyaringnya, hingga seringkali yang hoaks dianggap benar, sebaliknya yang benar justru dituding hoaks.

Setelah pilpres, kegaduhan tak surut. Malah makin bertambah-tambah. Politik gaduh bersenjatakan hoaks merembet ke pemilihan-pemilihan umum di daerah. Jakarta sudah berlalu dan tahun 2018 masih ada 171 menggelar pesta demokrasi yang sama. Di antara ke 171 daerah ini, empat diperkirakan bakal sampai pada tensi yang kurang lebih serupa, yakni Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, serta Sumatera Utara. Empat daerah yang merupakan kantong-kantong suara potensial untuk pesta demokrasi lebih besar, Pilpres 2019.

Seperti Jakarta, Sumatera Utara (Sumut) juga daerah majemuk dan multikultur. Selain agama, masyarakatnya terdiri pula dari banyak suku. Ini memunculkan kekhawatiran terulangnya kegaduhan. Apalagi, salah satu kandidat gubernur adalah sosok yang merupakan pemain utama di Pilkada Jakarta. PDI Perjuangan memilih Djarot Syaiful Hidayat, mantan Wakil Gubernur Jakarta dan calon wakil gubernur pendamping Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) di pilkada yang gaduh itu, untuk bertarung di Sumut.

Djarot dipasangkan dengan Sihar Sitorus --kader PDI Perjuangan, pengusaha, tokoh pemuda, dan seorang nasrani. Pasangan pelangi, persis Jakarta. Mereka bertarung dengan mantan Panglima Kostrad, Letjen Edy Rahmayadi, dan Musa Rajekshah. Sebagaimana Sihar, Ijeck, sapaan Musa, adalah pengusaha dan tokoh pemuda. Ijeck dikenal dekat dengan kalangan Islam.

Halaman
123
Penulis: jefrisusetio
Editor: T. Agus Khaidir
Sumber: Tribun Medan
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved